The Diary of God’ Love

Just another WordPress.com weblog

CHRISTmas PreparatioN Oktober 23, 2009

Diarsipkan di bawah: Christmas — vonnythay @ 14:26

Ga berasa yach, kita akan memasuki bulan November. Bentar lagi uda Natal. Kali ini aku dipercayakan menjadi ketua Youth Christmas. Jujur kali ini aku agak gentar. Untuk pertama kalinya aku jadi ketua Natal.

Setiap tahun kita memang merayakan Natal (kronos), tetapi setiap tahun memiliki kesempatan dan makna yang berbeda (Kairos). aku sendiri masih bergumul dan terus mempertajam visi yang ada dihatiku.

Aku tahu aku harus menghadapi banyak orang dengan berbagai pemikiran dan komentar. Well, sedih aja sih. ketika aku mendengar mereka sibuk memikirkan artis atau orang terkenal, sibuk memikirkan acara apa ya ga ngebosenin? gimana ya caranya bikin acara yang ga ngantukin? Hiks! Tuhan ada dimana ya? kok ga dibicarakan sama sekali?

Terbayang saat Natal pertama di Bethlehem. Di sebuah kandang domba yang bau dan kotor. Dihadiri oleh para gembala yang hina. Ya… Natal pertama jauh dari kemewahan. Yang menjadi special dari malam itu adalah karena Raja segala raja telah lahir. Ya CHRIST is the center of CHRISTmas.

 

Ketika Tuhan Menahan Langkahku (1) Oktober 8, 2009

Diarsipkan di bawah: diary — vonnythay @ 09:01

Tidak semua kesempatan adalah kesempatan dari Tuhan. Tidak semua jalan terbuka dan tawaran adalah dari TuhanTetapi jika kita selalu minta Tuhan menyertai dan memimpin langkah kita, maka ketika kita salah jalanpun, Tuhan

akan menahan langkah kita.Itulah yang aku alami , ketika temanku menawari aku untuk masuk dalam senuah MLM. Saat itu aku hanya berfikir, apakah salah jika aku bisa mendapatkan tambahan untuk berjaga-jaga kalau papa pensiun nanti. tambahan ini tentu akan sangat berarti. Aku tidak berniat untuk jadi kaya mendadak ataupun jadi milioner. Tapi setidaknay denagn penghasilan tambahan akan lebih banyak bisa jadi berkat bagi yang membutuhkan.

Sat itu aku menjawab aku akan gumulkan dulu. tapi mungkin memang mereka sudah terlatih berbicara dan mendesak, well akhirnya aku masuk juga. Walaupun kata temanku masuk dulu saja, ambil posisi, kalau tidak aktif dulu juga tidak mengapa.

Aku diundang untuk ikut pertemuan mereka. Ada kesaksian, ada yang bercerita tentang mimpi mereka, ada berjuta-juta alasan untuk maju. Tetapi entah mengapa, walaupun terbawa suasana, tapi hatiku masih begitu bimbang. Salah satu yang tidak aku sukai adalah kesan materialistis dan cara upline ku yang terlalu mendesak. tentang produknya sendiri, aku mencoba tetapi bukan bertambah fit, malah tambah drop. Kata uplineku itu biasa, untuk detoksi awal. tapi seram ah, kok ga damai sejahtera gini? dan disisi lain, sore itu tiba-tiba aku masuk angin. aku pulang kerumah dan muntah di depan pintu rumah. Well, aku rada-rada jarang kayak gini sih.Padahal aku sering memiliki jadwal pelayanan yang padat. sering juga kecapean dan badan terasa lemas. Tapi ini rada aneh sih menurutku. Minggu depannya temanku yang juga uplineku ngajak aku lagi, but kali ini benar-benar ga bisa pergi karena kesehatanku drop.

Saat it u aku sempat berfikir, mungkin ini kebetulan saja kesehatanku sedang tidak baik. Tapi semakin lama didoakan aku punya firasat lain. Aku hanya merasa Tuhan sedang menahan langkahku. Sepertinya ini bukan jalan yang Dia kehendaki. Disaat yang hampir bersamaan, mama jual kue nastar dan laku loh. hohohoho aku berfikir, mungkin TUhan hanya ingin mengatakan bahwa aku tidak perlu khawatir. Tuhan bisa buka jalan apapun. Ya apapun, termasuk jualan kue nastar.

 

Hari ini aku baru saja membaca file dari temanku. E-book itu menuliskan bahwa MLM yang pernah aku ikuti itu banayk melakukan penipuan publik. tentang sertifikat kesehatannya, lalu penyesatan denagn mengclaim bahwa supplement itu bisa menyembuhkan, dll. Jujur aku kaget sekali. Well, jadi teringat pengalamanku saat awal masuk MLM itu. Saat Tuhan menahan langkan kakiku. Kini aku tahu mengapa. Dan aku bersyukur untuk kasih Tuhanku yang memeliharaku. dan bersyukur juga kalau aku bisa peka dan taat.

Well, benar sekali kata Amsal 3:6  ”Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.” kalau kita mau melibatkan Tuhan dan mau peka dan taat pada pinpinannya, sekalipun kita salah jalan, Tuhan akan meluruskannya dan membawa kita kembali. So, janagn pernah berjalan sendiri dengan pemikiran kita. Tidak semua kesempatan adalah kesempatan dari Tuhan.

Ketika Tuhan menahan langkahku, berarti Tuhan tidak ingin aku melangkah ke jalan itu. Percayalah pada pinpinan Tuhan.

 

Kesukaran Menghasilkan Jiwa yang Kuat Oktober 7, 2009

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — vonnythay @ 04:02

Jangan pernah lupakan bahwa Tuhan mengasihi anda lebih daripada yang dapat anda bayangkan. Biarlah pengertian itu mengalahkan semua perasaan bingung atau frustasi yang mungkin anda miliki selama masa-masa pencobaan. Dia sedang membangun karakter didalam anda, yang merupakan desuatu yang lebih jauh bernilani daripada selembar cek gaji atau sebuah rumah yang besar. Cobaan -cobaan yang berat di dalam kehidupan ini sesungguhnya merupakan bagian dari strategiNya untuk menghasilkan jiwa yang kuat.

from book: ANDA DICIPTAKAN UNTUK MENGALAMI SEGALA KELIMPAHAN, Jim Cymbala, lisht publishing

 

Orang bang pa (keras kepala) ditangkap Tuhan September 27, 2009

Diarsipkan di bawah: diary — vonnythay @ 13:48

Well, hari ini papa baru saja ketemu dengan teman lamanya. Katanya sih uda 30 tahun lebih (hohoho berarti sebelum koko lahir ya) ya.. katanya sejak papa ke Jakarta uda ga ketemu. Trus ya ngobrol lama gitu dech.

Yang serunya, ternyata teman papa itu juga sudah percaya Tuhan. Dia cerita, dia punya anak cewek yang dari umur 10 tahun mengalami masalah dengan tangannya. Anak itu sulit memegang barang. Tetapi kini anak itu malah sudah jadi dokter S3 specialis syaraf. Katanya, hanya Tuhanlah yang dapat menolongnya. Wow.. siapa sangka ya.. dari anak cacat malah menjadi dokter S3 ahli syaraf.

Trus cerita punya cerita ada teman papa yang terkenal bandelnya. sampai dijuluki A Fu Jahanam. Trus, gimana kabar dia sekarang? uda jadi pendeta bo! Bahkan anak-anaknya juga jadi pendeta. Wakakak kok bisa ya?Teman papa cuma bilang, ” orang bang pa (keras kepala) di tangkap Tuhan” hohoho mereka tertawa, soalnya papa juga orang bang pa. heheheh.. emang ditangkap Tuhan juga. :)

 

The most Beautifull September 21, 2009

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — vonnythay @ 08:30

Harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan nama.

Jika anda meninggalkan dunia ini suatu saat kelak, apakah yang anda harapkan akan diingat oleh orang tentang anda? Apakah prestasi dan gelar anda? Atau pekerjaan besar yang telah anda lakukan? ataukah kekayaan yang melimpah untuk diwariskan?

Daud adalah seorang raja besar disepanjang sejarah bangsa Israel. Namun bagiku yang terindah dalam kehidupannya bukanlah ketenaranNya, bukan juga kekayaanNya. Tetapi gelarnya yaitu’ orang yang diperkenankan Tuhan’. Bagiku, hati Daud yang terpaut pada Allah adalah harta terindah yang dia miliki, dan itulah yang membuat Tuhan menyertainya dan membuat namanya termasyur.

Abraham, bapak orang beriman, juga adslah seorang pengusaha yang kaya. Namun gelar terindah yang dia miliki adalah ’sahabat Allah’.

Semua hal ini menyadarkan aku. Tuhan, aku tak ingin dikenal karena prestasiku, ataupun kehebatanku. Suatu saat aku hanya ingin dikenang orang sebagai ‘wanita yang dikasihi Allah

 

Menantikan Tuhan September 18, 2009

Diarsipkan di bawah: diary — vonnythay @ 13:54

Tuhan jauh lebih mengingat apa yang kita doakan, daripada kita sendiri. dan jika impian kita sejalan dengan kehendakNya, Tuhan akan mempersiapkan kita dan membuka jalan hanya ketika waktuNya telah tiba.

Ketika Pdt. Stephen Tong menantang pemuda untuk menyerakan talentanya untuk menggarami dan mewarnai dunia, yang terlintas dalam pikiranku hanyalah kemampuan menulisku. yaa… walaupun saat itu belum ada pengakuan berarti dari sesama, tapi sebenarnya guru agamaku telah menanamkannya dalam benakku.

Sepuluh tahun belajar dan bekerja sebagai accounting finance, membuat aku semakin menyadari bahwa ini bukanlah duniaku. Sedangkan impianku menjadi penulis tidak pernah padam. Dimulai dari menulis artikle untuk teman-teman, menulis blog dan akhirnya puji Tuhan ditahun ini tulisanku mulai dipublish.

Di january 2009 artikle ku dimuat di disciple info, sebuah warta gerejaku. Tak kusangka Pak Riand mengajakku untuk menulis di Renungan Harian, dan akhirnya pada September 09 ini tulisanku di terbitkan.

Dan serkarang saat liburan Lebaran , thx God aku punya banyak waktu untuk menulis. walaupun pusing juga sih. ga semudah yang aku bayangkan. Uaaa… but, i don’t give up. Cia You!

Bukankah Tuhan sudah membukakan banyak kesempatan? Hmm.. akhir-akhir ini sering terkaget-kaget sih. Ga nyangka sih. tapi ketika Tuhan buka jalan, kita tetap harus berjuang dunk. Raihlah setiap kesempatan yang dibukakan. Well, tentu bukan dengan usaha sendiri, tetapi dengan pertolongan Tuhan.

Ketika ada pergumulan lain yang belum nampak tanda-tanda jalan terbuka, aku tetap tidak menyerah sih. Teringat pada semua pergumulanku yang Tuhan jawab lamaaaaaaaaaaaaa buangeeet. Butuh 10 tahun agar papa dan mama mau ke gerja dengan kemauan mereka sendiri. dan 2 tahun kemudian mereka baru dibabtis. Lalu 10 tahun juga waktu diperlukan Tuhan untuk semakin mengasah kemampuanku dalam menulis. Baru tahun ini ada perkembangan berarti dalam jalanku menuju menjadi penulis. Tapi masa butuh waktu 10 tahun untuk bergumul ttg hal lain?? waduh.. lama beneeer…

Bagi bangsa yahudi angka 10 itu berarti genap. Ya.. mungkin maksud Tuhan sudah genap waktunya. hohoho tapi kan ga udah angka “10 tahun” gitu. 10 bulan kek, 10 hari kek. (Kok, jadi ngatur Tuhan sih?)

tapi, bukankah segala sesuatu memang ada waktunya? Tuhan tidak pernah terburu-buru kok. Jangan berfikir bahwa cuma kita yang kepingin agar impian kita terwujud. Salah! Tuhan juga sangat menantikan waktu itu tiba. Coba baca di

Yesaya 30:18

Sebab itu TUHAN menanti-nantikan saatnya hendak menunjukan kasihNya kepada kamu. sebab itu Dia bangkit hendak menyayangi kamu. Sebab Tuhan adalah Allah yang adil, berbahagialah semua orang yang menanti-nantikan Dia

Yup.. ayat ini juga yang menguatkan aku. Ketika aku menantikan Tuhan, sebenarnya Tuhan juga sedang menantikan waktunya untuk dapat memberikan apa yang Dia ingin berikan. Tuhan itu sayang banget kok ma kita. Dia tahu apa yang terbaik untuk kita. Dia tahu kapan waktu yang tepat untuk memberikannya. Karena itu berbahagialah mereka yang setia menantikan Tuhan. Sebab mereka akan menerima yang terbaik dari Tuhan. Menanti itu pekerjaan yang sulit.  tetapi menanti adalah bukti dari iman kita.

 

Belajar Untuk Percaya (2) September 16, 2009

Diarsipkan di bawah: diary — vonnythay @ 22:57

bergumul dan bergumul.
kok kayaknya ga ada abis-abisnya ya? entah itu masalah baru ataupun masalah lama yang tak kunjung selesai. ketika suara disekeliling membuatku gusar dan bingung, semua membuat aku kembali berlutut dihadapan Tuhan.

Malam ini aku kembali mencari wajah Tuhan. Kembali menghampiri tahtah-Nya dengan berlinang air mata. Dalam doa kerinduanku agar Tuhan dipermuliakan disaat bahagia yang kunantikan. Ya betapa ku rindukan agar Tuhan ditinggikan melampaui rinduku akan kebahagiaanku sendiri. Jika engkau bertanya seribu hal:kapan, bagaimana caranya, mungkinkah itu? teman, aku benar-benar tidak tahu. yang aku tahu ketika Tuhan menahan langkahku, pasti ada suatu rencana indah dibaliknya. Yang aku tahu, kalau Dia berjanji, Dia pasti akan tepati.

Dan kini aku berdiam…dalam iman aku menantikan Engkau Tuhan. Inilah bukti imanku, yaitu dengan berdiam diri menantikan Engkau sendiri yang berkarya, dgn cara dan waktu yang tidak aku pahami. Dan aku sadar satu hal. Dalam hal inilah aku makin mengenalMu.

 

Belajar Untuk Percaya September 16, 2009

Diarsipkan di bawah: diary — vonnythay @ 09:33

Sebuah perjalanan panjang dalam menacari kehendak Tuhan dan melakukannya. Sebuah perjalanan panjang untuk hidup makin mengenal dan percaya kepada Allah. Tertatih tatih aku melangkah dan hanya anugrah-Nya yang memampukan aku melewatinya dan menerima apa yang Tuhan janjikan.

Bapa aku bersyukur untuk kasih setia-Mu yang tidak pernah meninggalkanku. Untuk setiap pelajaran dan pengalaman iman bersama dengan-Mu.  Untuk setiap kesempatan bebagi pengalaman iman. Bukan karena aku lebih baik, tapi hanya karena anugrah-Mu. Sebab hingga kini aku masih belajar untuk mempercayai-Mu di saat-saat sulitku. Belajar untuk tetap melangkah walau tidaktampak jalan. Belajar bahwa Engkau tidak pernah berdusta pada apa yang Engkau janjikan. Belajar untuk tetap percaya bahwa Engkau akan memberikan yang terbaik bagi semua orang, juga aku. Ketika semua terasa membingungkan, saat semua terasa begitu mustahil, disaat semua meragukan aku, masihkah harus tetap berharap bahwa Tuhan akan menepati apa yang Dia katakan?

………………………………………………………………

…………………………………………………….

……………………………………..

…………….

Sebuah impian menjadi penulis Kristen yang memberi dampak pada dunia terus Kau tanamkan dalam hati. Sebuah impian yang tak kunjung padam. Dan kini mulai menunjukan titik terang setelah 10 tahun tak menemui titik terang. Bapa, aku hanya percaya, jika ini memang kehendak-Mu, Engkau pasti membukakan jalan.

Terima kasih untuk langkah awal masuknya tulisanku di Renungan Harian. Semoga menjadi berkat untuk umat-Mu.

 

http://www.renunganharian.net/lihatrenungan.php?judul=Belajar%20untuk%20Percaya&nama=Vonny%20Thay&idanggota=49

 

Simphony Kehidupan September 9, 2009

Diarsipkan di bawah: article — vonnythay @ 10:52

orchestra 1

Dalam sebuah orkestra terdapat banyak pemain musik. Ada yang memainkan piano, biola, bas, trompet, flute, dsb. Setiap pemain musik tentu memiliki bagian-bagiannya masing-masing yang harus dimainkan. Dalam keberbedaan itu,  akan menciptakan harmoni yang indah ketika mereka dengan sigap dan tanggap pada aba-aba sang conductor. Namun sebaliknya, jika mereka berebutan ingin menjadi yang paling menonjol dan bermain sesuka hatinya, maka harmoni itu akan rusak dan yang timbul hanyalah suara gaduh yang kacau.

 

Begitu pula dengan kehidupan kita. Tuhan memberikan kita talenta dan peranan yang berbeda satu sama lain. Dalam keberbedaan itu seharusnya akan menjadi harmoni yang indah, jika kita semua sigap dan tanggap pada aba-aba sang conductor, yaitu Tuhan sendiri. Namun sayangnya yang sering terjadi adalah kebalikannya. Saat setiap kita tidak mau tahu apa yang Tuhan inginkan sehingga kita memainkan hidup dan talenta kita hanya menurut apa yang baik bagi kita sendiri, disaat itulah kekacauan telah terjadi. Saat setiap orang unjuk kehebatan masing-masing untuk mendapatkan kehormatan dan pujian, kenyataannya yang terjadi adalah sebaliknya. Bentokan dan gesekan terus terjadi dalam pelayanan dan hanya menimbulkan kegaduhan dan kekacauan.

 

Kawan, dibutuhkan penundukan diri terhadap otoritas Tuhan sebagai conductor kita agar dapat memainkan symphony kehidupan dengan indah. Dibutuhkan pengenalan akan maksud dari setiap gerakan conductor untuk dapat melakukan persis seperti yang diinginkan oleh sang conductor. Kita harus sadar bahwa kita hanyalah bagian dari sebuah orkestra. Kita bukan pemain tunggal dalam sebuah konser. Oleh karena itu kita harus menundukan diri pada otoritas Tuhan sebagai Tuhan atas hidup kita. Kita harus semakin mengenal Dia, sehingga kita tahu dengan persis apa yang  Tuhan ingin agar kita lakukan. Namun tidak ada gunanya kita mengetahui kehendak Tuhan jika kita tidak taat pada kehendak-Nya dan melakukannya.

 

Bagaimanakah kehidupan kita? Sudahkah kita menundukan diri pada otoritas Tuhan didalam kehidupan kita? Seberapa dekatkah kita dengan Tuhan sehingga kita mengetahui dengan jelas kehendak-Nya atas kita?  Dan seberapa taatkah kita atas kehendak-Nya?

 

Marilah kita memainkan apa yang menjadi bagian kita sebaik-baiknya dengan mata yang tertuju pada Tuhan. Dan biarkanlah semua itu menjadi symphony yang indah dan nama Tuhan sajalah yang dipermuliakan. Amin

God is our Great Conductor, and we are His musicians.

 

Behind the Scene ” Ciri Khas” Agustus 21, 2009

Diarsipkan di bawah: diary — vonnythay @ 08:35

Waktu aku terima sms dari Evi, yang meminta aku untuk membawakan renungan di jogging PERSPEKTIF di pantai Ancol, jujur aja agak ragu. Soalnya uda lama banget engga bawain renungan. Terakhir bawain renungan itu di PD CF. itupun hanya diminta sharing pelayanan. Walaupun jujur aja saat itu aku jadi bingung sih, karena pengalaman pribadi hanya bisa dijadikan contoh atau kesaksian tetapi bukan jadi pedoman. Karena pengalaman itu sifatnya subyektif. Tapi mungkin terbentur karena daku bukan lulusan STT, jadi tidak diperbolehkan. Ya sudah lah.. terima saja dengan senang hati.

 

Teringat minggu lalu. Entah bercanda ataukah serius. Hendra mengatakan Kak Sam takut kalau dia terlambat datang kotbah di PERSPEKTIF karena pinpin sesi di puncak, berangkat dari sana jam 2. Jadi, kalau terlambat, katanya minta Vonny saja yang membawakan. Ueee…. Bercanda kau! “ Tapi Kak Sam yang bilang gitu loh!”, kata Hendra. “ Ogah.. ga mau. Minta ci Angel saja yang gantiin! Kenapa harus gua?!” Eh, keesokan harinya Kak Sam bicara hal yang sama di YM. Hahhahaha. Gubrak! Kata Kak Sam, “ Hendra uda setuju kok!”

“ Engga mau.. ya engga mau… gua mana bisa berkotbah! Gua bisanya nulis”

“ Eh, ya uda tulis saja yang mau kamu kotbahkan. Nanti tinggal dibaca”

“ wakakakkaka emangnya mau baca puisi? Entar yang ada pada ngakak semua, bukan dengerin kotbah”

“ Hei, jangan membatasi pekerjaan Roh Kudus”

“ tapi ga mau … Hendra bilang entar Ci Angel kok yang gantiin Kak Sam kalau telat”

“ Ya sudah.”

Pada akhirnya Kak Sam berjuang untuk datang ke PERSPEKTIF on time dan tetap menyampaikan kotbahnya.

 

Tapi satu hal yang membuat aku berfikir. Kenapa ya, kok akhir-akhir ini beberapa minta aku membawakan renungan? Jimmy juga minta aku bawain kotbah di persekutuan remaja di Sungai Tiram. Tapi untuk itu sepertinya aku juga belum siap. Ada masalah transportasi juga sih. Karena persekutuannya diadakan malam, dan tidak disedian transport dari gereja, padahal daerah itu termasuk rawan. Hahah.. jadi serem bo.

 

Tapi untuk tawaran ketiga ini, rasanya tak ada alasan bagi aku untuk menolak. Toh dibawakan di lingkup teman-teman sendiri, dalam suasana informal. Ya.. sudah iyakan saja. Dan mulailah aku persiapan.  Hari Selasa aku mulai mengetik bahan renungan yang ingin aku sampaikan.

 

 Hari minggu, aku dan AKKku ngobrol di artha gading lama banget, sampai dirumah uda jam 9 malem. Menjelang mau tidur, ga bisa tidur. Tegang bo! Aku mencoba membaca dengan bersuara apa yang sudah aku ketik. Trus, mama masuk ke kamar. “ kenapa?”

“ ha…? “ malah gua yang bingung. “ oh, engga Vonny lagi membaca aja”

“ kirain ngomong apa.”

Hahahah jadi salting gini…

Malam itu aku sudah berbaring di ranjang. Tetapi otakku terus berfikir. Ada banyak hal mulai terlintas di kepala. Akhirnya tidur tidak nyenyak. Entah sampai jam berapa baru bisa tidur.

 

Keesokan harinya, harus bagun jam 4 pagi. Kalau biasanya susah bangun pagi, kali ini langsung segar. ya, tegang gini abisnya. Pagi itu Yudi masih bertanya, “ Von, gimana persiapannya?” “ hahah… tegang, ga bisa tidur !” Yudy malah bialng, “ Bagus. Bagus” ye.. ga bisa tidur kok dibilang bagus, guman saya dalam hati.

 

Pagi itu kami jogging bersama di Ancol. Well, bisa lari pagi, dan menyaksikan pemandangan sunrise yang indah. Tidak dapat  menahan untuk memuji Tuhan. Ga perduli di samping g yang lari agamanya apa, but I very enjoy it. Sambil lari juga sambil mikir. Mikirin ilutrasi renungan nanti. Mikir en terus mikir. Jadilah bahan renungan yang lebih kompleks dari pada yang dipersiapkan. Hahahah.. malah ga sempat lagi untuk menulis kerangkanya secara sistematis. Benar-benar pasrah dah ma Tuhan.

 

Sebenarnya ada ketakutan lain dalam diri aku. Teringat saat kebersamaan pengurus CF di pantai Ancol juga. Saat itu kita yang tadinya membayangkan akan enak banget bisa sate bareng di pantai dengan suasana yang berbeda, malahan harus menemui kenyataan bahwa ternyata disana berisik! Lagi serius dengerin Pak Riand menyampaikan FT, eh bentar-bentar ada yang ganggu “ naik perahunya pak! Mumpung anginnya bagus!” “ tidak terima kasih “ “Sewa tikernya! “  ya ilah berisik banget nih orang. Berulang kali bilang ga mau, malah di tanyain terus! Capek dech!

 

Saat itu aku bilang sama salah satu pengurus, tolong bantu doakan supaya saat nanti kita sate, ga ada abang-abang yang nawarin tiker ataupun perahu. Berisik bo! Mana bisa khusuk.

 

Tibalah waktunya. Saat kita mulai gelar koran, beneran, ada yang tawarin naik perahu. Lalu kita tolak. Aku berdoa, “ Tuhan tolong, supaya dia jangan tawarin perahu lagi, jangan ada yang tawarin sewa tikar atau apalah” Dan puji Tuhan saat aku menyampaikan renungan, benar tidak ada yang menawarkan perahu atau tikar. Wah, puji Tuhan banget!

 

Sebenarnya mau mulai juga tegang. Duh gimana bukanya ya? Tapi  puji Tuhan, diluar dugaan aku, teman-teman resposif banget. Aku nanya, mereka mau jawab. Aku mulai menjelaskan mereka menganguk-ngangguk. Jadi bingung, ini kalau uda pada ngerti semua gua ga usa menjelaskan panjang dan lebar dong.Hahahaha.. belum lagi yang kacaunya, uda sampaikan penutup , eh kepikiran ada point yang ketinggalan. Akhirnya balik lagi. Trus uda gitu kan jadinya bingung. Gimana nutupnya? Lah tadikan uda disampaikan penutupnya. Ya uda sedikit diulang dengan versi yang aga berbeda. hahhaaha. Kacau!

 

Haa.. lega.. akhirnya bisa juga. Dan selesai juga. Pulang mandi trus bobo lagi. Kali ini tidur dengan nyenyak. Uaaaaaaaa senaaaaangnya…………zzzzzzzzzzz…

 

Sedikit berbincang dengan Sugi. Yup. Kita bersyukur banget kalau waktu kita remaja dulu ada Lause Linda dan Ko Dicky yang mempercayakan dan melatih kita untuk membawa renungan. Hasilnya kita bertiga, Sandy, Sugi dan aku mulai terlatih membawakan renungan. Walaupun memang dari kita bertiga, aku yang saat itu paling lemah. Wakakakak. Ga napa sih. Masing-masing kan punya karunianya sendiri. Tapi beryukur banget karena mendapatkan kesempatan ini. Jujur kangen juga dengan masa-masa itu.  Karena tidak semua orang mendapatkannya. Kita orang awam dipercayakan untuk membawakan pelayanan mimbar. Ya.. walaupun kecil-kecilan sih. Sugi sendiri sampai terus membawakan ke kampus en gereja lain. Sandy juga yang aktif banget di kampus. Lah.. dulu kan belajar PA juga salah satunya dengan Sandy, belajarnya juga barengan ama AKK gua, Chika en Shy . Wakakak.. Thx anyway