The Diary of God’ Love

Just another WordPress.com weblog

In God’s Hand Juli 12, 2009

Diarsipkan di bawah: diary — vonnythay @ 09:00

Saya tahu tak semua hal yang saya inginkan akan saya dapatkan. Tapi saya belajar satu hal, yaitu hidup berpadanan denagn Tuhan. Well, sebuah perjalanan panjang untuk dapat belajar percaya penuh pada  Tuhan. Mungkin kalian bertanya, ” gile von, yang bener aja? lu uda berapa tahun jadi orang Kristen?”  Hahhahah emang uda lama banget. Tapi yang saya maksud bukan hanya sekedar percaya bahwa Yesus adalah Tuhan dan juruslamat loh! Tapi percaya bahwa jalan yang Tuhan pilih itu baik buat saya. Belajar percaya bahwa TUhan itu tetep baik di saat-saat sulit saya. Belajar percaya, meskipun saya tak melihat apa-apa di depan mata. Belajar percaya meskipun kenyataan didepan mata bertolak belakang dengan apa yang Tuhan janjikan. Dan disitulah saya belajar untuk berserah dalam ketenangan. Tenang karena saya tahu, hidup saya dalam pemeliharaan Bapa.

Walaupun sejujurnya, ada begitu banyak suara miring yang mencoba membuat saya panik dan goyah. Kadang2 suara itu bisa dari teman-teman sekeliling saya. Tapi dengan melihat kebelakang, melihat jejak penyertaan Tuhan dalam hidup saya, itu yang membuat hati ini kembali jadi tenang.

Mengingat kasih setia Tuhan itu sangat penting. itu juga yang dilakukan oleh bangsa Israel. Setiap tahun mereka merayakan Paskah, untuk mengingat Tuhan membebaskan mereka dari penjajahan Mesir. Mereka membacakan kitab Ester, pada bulan tertentu untuk mengenang akan kasih Tuhan yang meluputkan mereka dari pembantaian. Dan kini kita juga mengadakan perjamuan kudus, untuk mengingat pengorbanan Kristus untuk kita.

Sebaliknya, ketika bangsa Israel bersungut-sungut di padang pasir, padahal baru saja mereka menyaksikan banyak mujizat dan penyertaan Tuhan. Tapi begitu ketemu masalah uda mulai bersungut-sungut alias ga percaya kalau Tuhan akan tolong mereka.  Tuhan Yesus juga menegur para muridnya yang takut binasa karena badai, padahal mereka telah menyaksikan sendiri bagaimana Tuhan Yesus mengadakan mujizat. Dan kesamaan respon Tuhan adalah Tuhan marah!

Guys, jangan sampai ya Tuhan marah ma kita karena iman kita mandeg, ga bertumbuh, terus-terusan meragukan Tuhan padahal sudah begitu banyak hal yang Tuhan tunjukan penyertaan-Nya dalam kehidupan kita.

Akhir-akhir ini saya mulai bergumul bukan hanya dengan masalah pribadi saya, tapi juga masalah pribadi orang-orang disekeliling saya. jujur saja kadang saya merasa sedih, dan saya tahu Tuhan jauh lebih sabar daripada saya. untungnya saya bukan Tuhan hahahahha kalau engga bisa kacau. Tapi saya belajar menyerahkan semuanya dalam tangan Tuhan. Ada banyak hal yang tidak dapat saya lakukan, tapi Tuhan dapat. Saya tidak dapat merubah  hati seseorang, tapi Tuhan sanggup rubahkan. Saya tidak dapat memberikan jalan keluar, tapi Tuhan sangat bisa. Jika anda bertanya mengapa saya begitu bertekun dalam doa, hanya ini jawaban saya. Karena saya mengasihi mereka dan saya tahu Tuhan terlebih lagi mengasihi mereka. Saya sendiri dapat berdiri segabaimana adanya saya saat ini, itupun karena doa-doa orang2 yang mengasihi saya, terutama disaat-saat sulit saya. saya telah menyaksikan kemurahan Tuhan dan kuasa Tuhan  dalam doa. Karena itu kini sayapun berdoa.

 

Suami Rohani??? Juli 11, 2009

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — vonnythay @ 04:38

Entah sudah berapa kali saya mendengar orang yang bercerita tentang peran papanya yang menuntun mereka, seperti, “ papa saya memberi teladan bagaimana memanage waktu anatra pekerjaan, pelayanan dan keluarga”, atau “ ya dia punya papa yang membimbing dia saat dia mengalami masalah”, dll

Hahahahah kadang rasanya iri dech! Abisnya kan aku dibesarkan di keluarga yang tadinya bukan Kristen. Boro-boro dapet teladan bagaimana memanage waktu antara pekerjaan, pelayanan dan keluarga, yang ada kalau kebanyakan pelayanan kena omelan ”ke greja ngapain aja sih? Orang tuh ya ke greja cuma seminggu sekali. Kamu itu bisa ke greja seminggu 3-4 kali” atau “ liat tuh muka jadi jerawatan. Makanya sibuk terus sih di greja, jadi ga rawat muka” waduh, tentang jerawat mah, mau dirawat gimana ya? 24 jam? Kayaknya biasa aja. Lah wong turunan jerawatan juga. Hahahah.. Belum lagi kalau ada keputusan2 yang lain. Kadang aku bersikekeh dengan pendirianku. Ngotot nolak sampe nangis, huhuhuh mau dijelasin sampe mulut berbusa juga percuma, lah kan blue printnya berbeda. Aku pakai prinsip Alkitab, mereka bukan. Tak jarang dulu sering banget merasa kesepian dalam keluarga sendiri. Huhu napa juga g yang beda sendiri? Kadang rasanya begitu lelah, sendirian berdoa untuk keluarga, sendirian ke greja, sendirian yang punya prinsip hidup berbeda….

Ya.. tapi puji Tuhan, semua sudah berlalu. Sekarang, papa uda ga pernah ngomel kalau aku pelayanan. Tak jarang kami sering ngobrol, mengenang kasih setia Tuhan dalam keluarga kami. Hehehhe.. Ya.. memang indah kalau semuanya dalam anugrah Tuhan.

Tapi pengalaman ini membuat aku semakin yakin untuk ga sembarangan ambil keputusan tentang pasangan hidup. Aku tahu gimana rasanya kesepian dalam keluarga sendiri. Dan aku tidak mau hal itu terulang di keluarga yang akan ku bangun nanti. Untungnya walaupun dulu papa dan mama bukan Kristen, tapi masih ada papa dan mama rohani yang terus membimbing dan mendoakan aku. Lah, kalau entar suamiku bukan orang Kristen,. Masa mau cari suami rohani? kan kacau!

A_007

 

Setia dalam perkara kecil Juni 25, 2009

Diarsipkan di bawah: article, diary — vonnythay @ 13:29

Akhir-akhir ini saya ditawarkan banyak hal. Jujur saja respon pertama saya adalah menolak. Duh, ngapain banyak-banyak kerjaan atau pelayanan? Bikin stress saja. Kemarin saya, pak Riand, shy dan aldri berbincang-bincang sampai jam 10 malam. Pak Riand mewarkan saya untuk pelayanan di Pembinaan Warga Gereja (PWG). Waktu Beliau tahu saya sudah tidak jadi pengurus di PERSPEKTIF dan masih melayani di CPM, dia tidak rela. “Kamu kalau pelayanan lepas begitu, bisa-bisa nanti ga cinta gereja lagi. Makin lama makin lepas” hahahahah mungkin juga ya. Tapi kebayang PR yang harus dikerjakan di CA_050PM saja sudah buat kepala pusing. Belum lagi Yuddy masih minta aku dampingi Evelyn sebagai sie KTB di PERSPEKTIF. Dan yang terutama, terbayang dunk, kapan saya bisa luangkan waktu untuk menulis dan mengejar impian saya?

 

 

 

Pak Riand langsung mengeluarkan jurus lagi, “ Bicara tentang talenta,  kata kuncinya adalah “sesuai kemampuan” Tuhan tahu kemampuan kamu von. Jangan berdalih lagi. Lagipula di PWG ada banyak hal yang bisa kita kerjakan. Kamu sudah punya pengalaman bersama dengan Tuhan begitu banyak. Itu harus dibagikan. Jangan cuma sama Shirley aja dunk! Masih banyak jemaat yang lain”

Hahaha.. banyak yang uda tahu kok pak! Itu pengemar blog aku tahu pengalaman imanku. Kan ditulis disana! “ ^ ^

A_141

 

 

Malam ini, ketika saya bergumul dengan banyak hal. Tuhan mengingatkanku dengan perikop   ini.

 

Lukas 12:34-48

 

  36  Dan hendaklah kamu sama seperti orang-orang yang menanti-nantikan tuannya yang pulang dari perkawinan, supaya jika ia datang dan mengetok pintu, segera dibuka pintu baginya.

37  Berbahagialah hamba-hamba yang didapati tuannya berjaga-jaga ketika ia datang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia akan mengikat pinggangnya dan mempersilakan mereka duduk makan, dan ia akan datang melayani mereka.

38  Dan apabila ia datang pada tengah malam atau pada dinihari dan mendapati mereka berlaku demikian, maka berbahagialah mereka.

39  Tetapi ketahuilah ini: Jika tuan rumah tahu pukul berapa pencuri akan datang, ia tidak akan membiarkan rumahnya dibongkar.

40  Hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu sangkakan.”

41  Kata Petrus: “Tuhan, kamikah yang Engkau maksudkan dengan perumpamaan itu atau juga semua orang?”

42  Jawab Tuhan: “Jadi, siapakah pengurus rumah yang setia dan bijaksana yang akan diangkat oleh tuannya menjadi kepala atas semua hambanya untuk memberikan makanan kepada mereka pada waktunya?

43  Berbahagialah hamba, yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu, ketika tuannya itu datang.

44  Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya tuannya itu akan mengangkat dia menjadi pengawas segala miliknya.

45  Akan tetapi, jikalau hamba itu jahat dan berkata di dalam hatinya: Tuanku tidak datang-datang, lalu ia mulai memukul hamba-hamba laki-laki dan hamba-hamba perempuan, dan makan minum dan mabuk,

46  maka tuan hamba itu akan datang pada hari yang tidak disangkakannya, dan pada saat yang tidak diketahuinya, dan akan membunuh dia dan membuat dia senasib dengan orang-orang yang tidak setia.

47  Adapun hamba yang tahu akan kehendak tuannya, tetapi yang tidak mengadakan persiapan atau tidak melakukan apa yang dikehendaki tuannya, ia akan menerima banyak pukulan.

48  Tetapi barangsiapa tidak tahu akan kehendak tuannya dan melakukan apa yang harus mendatangkan pukulan, ia akan menerima sedikit pukulan. Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut.”

 

Saya sadar satu hal. Siapa bilang di surga nanti kita hanya memuji  Tuhan saja? Ga punya kerjaan yang lain?  Guys, Tuhan saja dari penciptaan sampai saat ini terus bekerja loh! Dan di kitab wahyu ditulis “ Dan malam tidak akan ada lagi di sana, dan mereka tidak memerlukan cahaya lampu dan cahaya matahari, sebab Tuhan Allah akan menerangi mereka, dan mereka akan memerintah sebagai raja sampai selama-lamanya. (Wahyu 22:5)”

 

A_124Mungkin kita berfikir bahawa sebagai raja itu enak. Hanya ongkang-ongkang kaki, trus dilayani , dsb. Siapa bilang? Ya.. kalau ada raja seperti itu, saya jamin, ga lama kemudian rakyatnya pasti kudeta. Sebaliknya seharusnya yang menjadi raja adalah orang yang berkualitas tinggi, yang terbaik. Sebentar lagi kita akan pemilu memilih presiden. Kalau salah satu calonnya kita tahu ambisinya hanya untuk hidup bersenang-senang, apakah kita mau memilih orang tersebut? Saya yakin kita akan memilih orang yang punya intergritas tinggi, orang yang bisa dipercaya, orang yang mengabdi pada rakyat, orang yang bisa meminpin negeri ini dengan lebih baik.

 

Demikian pula dengan kita. Saat ini adalah latihan menuju kekekalan. Jika kita tidak setia pada saat ini, bagaimana Tuhan bisa mempercayakan yang lebih besar nanti? Layakkah kita memerintah sebagai raja kelak? Saya tahu semua memang adalah anugrah. Tidak ada satupun yang layak mendapatkannya. Tapi saya yakin barang siapa setia dalam perkara kecil, kepadanya akan diberikan perkara yang lebih besar. Jika saya tidak belajar untuk memanage apa yang Tuhan percayakan saat ini, bagaimana saya menjalankan kepercayaan yang lebih besar di surga kelak?

 

Saya merasa Tuhan sedang terus memperlebar kapasitas saya. Saya ingat 2 tahun yang lalu. Saat itu saya ambil komitmen untuk berdoa puasa selama beberapa hari. Tuhan tahu saat itu saya sedang merasa “kapok” karena punya banyak pelayanan karena punya banyak talenta. Rasanya ingin istirahat saja dan tidak mau mengerjakan banyak hal. Tapi Tuhan justru bilang pada saya, “ Aku justru ingin menambahkan kepadamu lebih banyak lagi. Tapi tidak untuk saat ini, sebab kamu belum mampu untuk menanggungnya” Hua… jadi boro-boro bakal dikurangi pelayanannya, Tuhan bilang mau ditambahin lagi. huhuhuhuhu  

 

Tapi saya mulai mengenang perjalanan hidup saya. Bukankah berkali-kali ketika saya dipercayakan lebih banyak hal saya stress bukan main? Tapi setelah beberapa bulan, saya mulai bisa menyesuaikan diri dan mulai mampu untuk me-manage-nya. Saat itu saya belajar untuk semakin percaya pada pinpinan Tuhan. Percaya meskipun tidak mengerti. Saya belajar untuk mengandalkan Tuhan lebih lagi. Saya belajar untuk berserah dan tidak berontak. Ya.. saya hanyalah tanah liat ditangan penjunan yang menagsihi saya. Saya tahu hidup saya bukan lagi milik saya. Tetapi milik Dia yang telah menebus dan menyelamatkan saya. Bagi-Nyalah kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin

 

Hatiku Percaya Juni 20, 2009

Diarsipkan di bawah: song — vonnythay @ 05:38

Sebuah lagu yang bagus dari Edward Chen. Disaat kita tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Disaat kita tak melihat jalan Tuhan. Masihkah kita percaya pada hati Tuhan?

Yohanes 11:14-15  

Karena itu Yesus berkata dengan terus terang: “Lazarus sudah mati;
 tetapi syukurlah Aku tidak hadir pada waktu itu, sebab demikian lebih baik bagimu, supaya kamu dapat belajar percaya. Marilah kita pergi sekarang kepadanya.

 

Saatku tak melihat jalanMu

Saat ku tak mengerti rencana-Mu

Namun tetap ku pegang janji-Mu

Pengharapanku hanya pada-Mu

 

Reff:

Hatiku percaya

 Hati Ku Percaya

Hati Ku Percaya

 S’lalu Ku Percaya

 

Persembahan Yang dicela Tuhan Juni 15, 2009

Diarsipkan di bawah: article — vonnythay @ 12:36

 

Siapa sih yang tidak ingin mendapatkan penghargaan ataupun pujian? Apalagi kalau kita sudah berjeri lelah dan mengorbankan segalanya. Tapi ternyata apa yang baik bagi kita belum tentu lho berkenan kepada Tuhan. Apa perasaan kita jika kita sudah mengorbankan segalanya tapi malah dicela Tuhan? Duh, ngenes banget dech! Amit –amit!  Nah, ga maukan itu terjadi pada kita? Karena itu mari kita belajar dari kebenaran Firman Tuhan, persembahan seperti apa sih yang malah dicela oleh Tuhan Yesus?

 

 

Markus 7

 9  Yesus berkata pula kepada mereka: “Sungguh pandai kamu mengesampingkan perintah Allah, supaya kamu dapat memelihara adat istiadatmu sendiri.

10  Karena Musa telah berkata: Hormatilah ayahmu dan ibumu! dan: Siapa yang mengutuki ayahnya atau ibunya harus mati.

11  Tetapi kamu berkata: Kalau seorang berkata kepada bapanya atau ibunya: Apa yang ada padaku, yang dapat digunakan untuk pemeliharaanmu, sudah digunakan untuk korban—yaitu persembahan kepada Allah—,

12  maka kamu tidak membiarkannya lagi berbuat sesuatupun untuk bapanya atau ibunya.

13  Dengan demikian firman Allah kamu nyatakan tidak berlaku demi adat istiadat yang kamu ikuti itu. Dan banyak hal lain seperti itu yang kamu lakukan.”

 CUTE SHEEP

Kalau kita lihat konteks dari Nats Alkitab diatas, Tuhan Yesus memang sedang mencela orang-orang Farisi yang lebih mementingkan memelihara adat istiadat ketimbang perintah Allah. Tapi ada yang aneh.  Bukankah memberikan persembahan ini yang diperintahkan oleh Tuhan? Mengapa Yesus justru bilang itu bukan perintah Tuhan tetapi adat istiadat nenek moyang ya? Waduh, Tuhan Yesus salah ga sih ya? Ya.. ga mungkin salah la ya.. OK, untuk memahaminya, mari kita lihat konteks sejarahnya.

 

Ayo tebak! Dosa apa yang berulang-ulang dilakukan bangsa Israel  di Perjanjian Lama yang tidak kita jumpai lagi di Perjanjian Baru? Yup, dosa penyembahan berhala. Berasa aneh ga sih?  kok di PB Tuhan Yesus tidak pernah mengkritik bangsa Israel tentang penyembahan berhala? Padahal di PL dosa inilah yang ditegur Tuhan dari generasi ke generasi. Anehnya lagi justru kebalikannya, di PB Tuhan Yesus mengkritik kaum Farisi dan Ahli Taurat yang terlalu religius, sampai-sampai dibilang munafik.  Ada apa ya? Apa yang membuat mereka berubah?  Mari kita dengarkan doa Nehemia ketika bangsanya dijajah oleh bangsa Persia.

 pray_hands

Nehemia 1

6  berilah telinga-Mu dan bukalah mata-Mu dan dengarkanlah doa hamba-Mu yang sekarang kupanjatkan ke hadirat-Mu siang dan malam bagi orang Israel, hamba-hamba-Mu itu, dengan mengaku segala dosa yang kami orang Israel telah lakukan terhadap-Mu. Juga aku dan kaum keluargaku telah berbuat dosa.

7  Kami telah sangat bersalah terhadap-Mu dan tidak mengikuti perintah-perintah, ketetapan-ketetapan dan peraturan-peraturan yang telah Kauperintahkan kepada Musa, hamba-Mu itu.

8  Ingatlah akan firman yang Kaupesan kepada Musa, hamba-Mu itu, yakni: Bila kamu berubah setia, kamu akan Kucerai-beraikan di antara bangsa-bangsa.

9  Tetapi, bila kamu berbalik kepada-Ku dan tetap mengikuti perintah-perintah-serta melakukannya, maka sekalipun orang-orang buanganmu ada di ujung langit, akan Kukumpulkan mereka kembali dan Kubawa ke tempat yang telah Kupilih untuk membuat nama-Ku diam di sana.

 

Yup. Inilah janji Tuhan yang dipegang oleh bangsa Israel, yaitu jika mereka kembali mengikuti perintah-perintah Tuhan dan melakukannya, maka Tuhan akan memulihkan bangsa Israel. Bangsa Israel sudah kapok dijajah berulang-ulang, mulai dari kerajaan Babelonia, Persia, sampai Romawi di jaman Tuhan Yesus. Mereka bersungguh-sungguh melakukan perintah Tuhan agar Tuhan memulihkan bangsa Israel. Hal Ini juga yang ditanyakan oleh para murid Yesus sebelum Tuhan Yesus naik ke surga, “Maka bertanyalah mereka yang berkumpul di situ: “Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?” (Kis 1:6)

 

Harapanmereka bahwa Tuhan akan mamulihkan bangsa Israel itulah yang mendorong bangsa Israel kembali kepada Tuhan dan melakukan perintah-perintahNya sedetil mungkin. Saking inginnya mereka lepas dari penjajahan, mereka mulai menambahkan aturan baru yang lebih detail dan berat, inilah yang disebut sebagai adat istiadat oleh Tuhan Yesus, bukan perintah Tuhan. Hal ini juga yang sering dikecam oleh Tuhan Yesus kepada kaum Farisi dan Ahli Taurat.

 

Bagaimana dengan pelayanan kita saat ini? Jangan-jangan kita juga sudah menetapkan standar yang tidak lazim, yang tidak sesuai dengan apa yang Tuhan maksudkan. Saking semangatnya kita ingin menyenangkan hati Tuhan, kita telah mengikuti standar-standar yang salah.  Contoh: Banyak orang begitu semangat dengan pelayanan. Tampa disadari kita punya konsep, pelayanan di gereja itu lebih  mulia daripada pekerjaan kita juga keluarga kita. Konsep mengasihi Tuhan seoleh-oleh identik dengan seberapa kita membayar harga bagi pelayanan kita. Tunggu, saya tidak mengatakan bahwa pelayanan tidak usah membayar harga. Tetapi jika demi pelayanan kita mengorbankan segala-galanya, apakah itu yang Tuhan mau? Bagaimana jika kita sudah mengorbankan semuanya, tetapi bukan pujian yang kita dapatkan melainkan celaaan dari Tuhan? Duh, jangan sampai yach!

 

 Mungkin kita memiliki pelayanan yang luar biasa banyak dan hebatnya, jadi ketua panitia, pengurus komisi, song leader, diakonia, dll. Saking sibuknya pelayanan, ga ada lagi waktu untuk keluarga. Saking sibuknya sampai-sampai waktu untuk bekerja juga dipakai untuk mempersiapkan pelayanan. Trus, kalau persembahan buat pelayanan gereja semangat, tapi kalau buat keluarga, boro-boro, dsb. Mungkin digereja orang seperti ini diacungkan jempol dan dipuji-puji. Tetapi kira-kira apa ya yang ada dibenak keluarga dan pinpinan kita dikantor?   Dan yang terutama, apa yang ada dibenak Tuhan saat Tuhan melihat pelayanan kita? ? Bukankah dalam perikop diatas, Tuhan mencela orang Farisi yang mengabaikan kebutuhan keluarnganya demi persembahan untuk Tuhan? Sebab Tuhan sendiri yang memerintahkan kita untuk menghormati ayah dan ibu kita juga memelihara mereka.

 

Saya teringat pada sebuah kotbah yang disampaikan oleh hamba Tuhan dari Bandung. Dia menceritakan bagaimana dia begitu semangatnya pelayanan, sepanjang hari hanya untuk pelayanan. Kalaupun tidak ada yang dikerjakan, ya buat lebih banyak lagi pelayanan. Mengapa? Ya dengan dalih untuk Tuhan. Seiring waktu, tampa disadarinya anaknya bertumbuh menjauh dari dia. Suatu ketika, anaknya yang masih remaja itu berkata, ” Bagi saya, papa adalah orang asing. Saya tidak mau punya suami seorang Hamba Tuhan” Perkataan itu benar-benar menampar hatinya. Dia baru sadar kesalahannya bertahun-tahun dengan menelantarkan keluarganya. Siapakah yang dapat   menggantikan peran seorang ayah bagi anak-anaknya? tidak ada, selain dirinya. Siapakah yang dapat menggantikan peran seorang suami bagi istrinya? Tidak ada, hanya dirinya. Namun sungguhkah semua yang dia korbankan itu untuk Tuhan? Atau sebenarnya untuk ego dan kebanggaan dirinya sendiri? Ayat tentang barangsiapa yang mengasihi ayahnya dan ibunya lebih daripada Yesus, dia tidak layak bagi Yesus(Matius 10:37) adalah dalam konteks percaya pada yesus, mempunyai resiko akan dibenci oleh keluarganya. Lagipula seharusnya kita mengasihi keluarga adalah dalam rangka mengasihi Tuhan juga. Namun jika Tuhan bukan yang menjadi pusat dari hidup kita, ada hal lain yang menggantikan posisi Tuhan, itulah yang disebut dengan berhala kita.   

 

Saya juga pernah mendengar pengakuan dari seorang pinpinan di ciputra group. Waktu Krisis moneter tahun 98, ketika perusahaan harus melakukan perampingan, maka harus ada pengurangan karyawan. Ketika daftar karyawan disodorkan, dia melihat no.1 di darfar karyawan yang mau di PHK adalah seorang anak Tuhan yang sangat rajin pelayanan, seorang Song Leader,dll. Tapi sayangnya kinerja kerjanya buruk sekali. Maka orang tersebut dikeluarkan. Teman, kalau itu yang kita lakukan, apakah Tuhan sudah dipermuliakan? Sebaliknya, saya rasa justru kita telah menjadi batu sandungan.

 

Coba bayangkan, apakah pelayanan seperti ini juga yang menyukakan hati Tuhan? Ataukah Tuhan juga sedih dan kecewa dengan kita? Jangan-jangan standar yang kita pakai bukanlah yang Tuhan maksudkan sama sekali. Tuhan menginginkan agar Diri-Nya di permuliakan dalam setiap aspek dalam kehidupan kita , bukan hanya kehidupan pelayanan kita digereja. Tidak ada satupun aspek yang sekuler dalam diri anak-anak Tuhan, jika kita melakukan semua hal untuk kemuliaan Tuhan. Dengan demikian, manakah yang lebih penting? Pelayanan, pekerjaan, keluarga atau refreshing? Bukankah jika kita melakukan semuanya untuk kemuliaan Tuhan, itulah persembahan kita yang hidup dan berkenan kepada-Nya? (Roma 12:1)     

 

Teman saya mengatakan, kehidupan kita seperti permainan biji congklak. Ketika disebuah lobang penuh, maka sesungguhnya ada lobang yang kosong. Jika kita hanya terfokus pada satu hal, maka akan ada yang dilantarkan. Waktu yang Tuhan berikan pada ssetiap kita adalah sama. Satu hari 24 jam, seminggu 7 hari. Karena itu kita tidak mungkin melakukan semua hal dan menyenangkan semua orang. Dalam hal inilah dibutuhkan prioritas dan tujuan panggilan hidup yang jelas. Meskipun demikian kita tentu harus meminta kepada Tuhan kebijaksanaan agar dapat mengambil keputusan yang tepat, yang mana yang menjadi prioritas kita pada waktu dan kasus tertentu. Seperti halnya Yesus. Karena Dia tahu apa yang menjadi tujuannya, maka dia tahu kemana dia harus pergi, dan meninggalkan orang banyak(tidak memenuhi tuntutan orang   banyak)

 jesus pray 2

Markus 1:35-38

35  Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana.

36  Tetapi Simon dan kawan-kawannya menyusul Dia;

37  waktu menemukan Dia mereka berkata: “Semua orang mencari Engkau.”

38  Jawab-Nya: “Marilah kita pergi ke tempat lain, ke kota-kota yang berdekatan, supaya di sana juga Aku memberitakan Injil, karena untuk itu Aku telah datang.”

 

Saat itu, Yesus sedang dicari banyak orang? Mengapa? Tentu setelah dia menyembuhkan banyak orang yang menderita dan mengusir setan, semakin banyak orang yang mencari Dia untuk meminta pertolongan. Tetapi anehnya, Tuhan Yesus tidak menemui mereka dan melakukan apa yang orang banyak itu inginkan, tetapi malahan Yesus pergi ke kota lain. Mengapa? karena dengan jelas Dia tahu apa tujuan-Nya datang ke dunia. Bukan untuk menjadi tukang kayu, bukan hanya untuk menyembuhkan orang sakit, tetapi untuk mati di kayu salib. Dan keputusan-keputusan apakah yang Yesus ambil agar seiring dengan tujuan hidup-Nya, Yesus dapatkan setelah dia ke tempat yang sunyi untuk berdoa (ayat 35). Artinya keputusan itu diambil setelah Yesus berkomunikasi dengan Allah Bapa. Jika Tuhan Yesus saja demikian, apalagi kita.

 

Betapa seringnya kita hanya hidup melakukan tuntutan orang banyak dan tetap saja ada yang tidak puas. Betapa sering kita kelelahan tampa arah yang jelas. Hikmat bijaksana apa yang menjadi prioritas untuk dikerjakan, hanya didapatkan dengan kebergantungan kita pada Tuhan dalam doa dan teduh pribadi. Gumulkanlah setiap tawaran pelayanan dihadapan Tuhan. Semua pelayanan adalah baik, tapi sungguhkan pelayanan yang ini yang Tuhan inginkan agar kita kerjakan? Lalu jika diperhadapkan pada pilihan-pilihan sulit, mintalah hikmat pada Tuhan sebelum mengambil keputusan. Jika ada yang kecewa itu tentu wajar, kita tidak dapat menyenangkan semua orang. Selama keputusan kita dapat kita pertangungjawabkan dihadapan Tuhan, untuk kemuliaan Tuhan semata dan untuk menyenangkan hati Tuhan, janganlah takut. Tetapi yang perlu kita kritisi adalah sungguhkah kita lakukan semua itu untuk Tuhan? Atau untuk kebanggaan kita pribadi? Atau karena tuntutan orang banyak? Biarlah kita minta Tuhan yang menyediki hati kita yang terdalam dan menyingkapkannya semua. Sehingga sungguh seluruh hidup kita berkenan pada Tuhan. Kiranya Tuhan menolong kita semua. Amin

 

Mengenang Kasih Setia Tuhan Juni 2, 2009

Diarsipkan di bawah: Testimonial, diary — vonnythay @ 11:02

Minggu malam kemarin, saya dan mama berbincang- bincang panjang. Mama dan papa baru saja pulang dari undangan pernikahan anak teman mereka di kelompok kecil. Mama cerita, ketika dia berbincang-bincang dengan ibu Lyfien. Ternyata ibu Lyfien tidak tahu bahwa mama dulu menjalani kemotherapi. ” Abisnya kok rambutnya ga rontok?” ^ ^

Ya.. kami mengenang masa-masa sulit sekaligus masa mujizat penyertaan Tuhan. Ya kami teringat bagaimana mama terus berharap bahwa rambutnya tidak rontok, walaupun Dr. Henry Nalan bilang bahwa di kemo ke-2, rambut mama pasti habis. mama masih menjawab, ” mudah-mudahan tidak”

Saudara-saudara kami tahu, bahwa secara fisik mama itu tidak begitu kuat. Tidak terbayang bagaimana harus menjalani kemo? Lah, jalan-jalan ke bali dengan mobil saja sudah membuat mama mabok dan muntah. Apalagi waktu hamil saya, kata khu-khu saya mama pernah selama seminggu hanya tidur di ranjang tidak makan apa-apa, hanya es batu. Apakah mama akan kuat menjalani kemo?

Mama begitu yakin dan berharap bahwa dia tidak akan botak, karena itu dia marah saat saya membelikan dia wig. Saya ingat, suatu malam, ketika saya menghadiri persekutuan doa CF. Teman - teman bertanya ingin di doakan apa? saya jawab ” doakan agar rambut mama tidak rontok” lalu semua pada melihat saya dengan wajah bingung.. ” ya.. begitulah doa mama..”  lalu kami semua berdoa.

Memang berat menjalani kemo. mama bukan hanya tertekan secara fisik, tetapi juga secara psikology. Bagaimana tidak, suster saja bingung. ” Dok, pasien dokter ini hamil ya? kok jarum infus saja belum dipasang, dia sudah muntah?” ^ ^ malam harinya mama sulit tidur. sampai saya berdoa untuk mama, dia baru bisa tidur. Ya.. mama begitu bergantung pada doa, baik untuk kesembuhannya amupun ketenangan jiwanya. Saya sering bernyanyi puji-pujian ataupun memasang lagu rohani ketika menemani mama di rumah sakit. Itu membuatnya lebih tenang.

Setiap kali mama menjalani kemo, saya selalu berdoa agar Tuhan menhancurkan setiap sel kanker mama dan melindungi setiap sel baik dalam tubuh mama. Dan inilah mujizat yang terjadi. Jika biasanya orang yang menjalani kemo kulit tubuhnya dan kukunya menjadi hitam, itu sama sekali tidak terjadi pada mama. kulit mama tetap putih bersih seperti biasanya.

 Pada kemo ke 3, rambut mama mulai rontok di bantal. saya menyingkirknnya agar tidak terlihat oleh mama. tapi mama tahu juga. Dia tetap berdoa, supaya dia tidak botak.  Saya memberikannya hair tonik dengan harapan membantu mengurangi kerontokan. Puji Tuhan, kerontokanya berhenti. Saya yakin ini bukan karena hair tonicnya, tapi karena kuasa doa. Susternya aja bilang, ” pasien dokter henry Nalan tidak ada yang tidak botak kok!” 

Ketika mama menjalani kemo ke-5. Dokter membawa seorang pasien yang tidak mau menjalani kemo karena takut menjadi botak. Dokter menyuruhnya berbincang-bincang dengan mama. ” lihat, rambutnya tidak rontok kan?” Ibu itu kaget melihat mama. mama sendiri bingung, “dokter ini gimana sih, gua sendiri aja lagi ketakutan, kok dia bawa orang lain untuk saya kuatkan ?”tanyanya dalam hati. dan akhirnya ibu itu mau menjalani kemo. Walaupun kenyataan dikemudian hari rambutnya mengalami kerontokan parah. setelah kemo 1, setengah rambutnya sudah rontok. Ramuan yang mahal dari sensei pun tidak mampu menahan kuatnya efek samping obat kemo.

Akhirnya mama berhasil menyelesaikan 6x kemo dengan kekuatan dan anugrah dari Tuhan. Sebuah kelegaan besar karena ternyata Tuhan sungguh mengabulkan doa mama. Ketika mama control ke dokter lagi, papa beri tahu dokter tentang rahasia mengapa rambut mama tidak rontok, hanya karena banyak berdoa pada Tuhan Yesus. Sang dokterpun tersenyum, ” ya, kalau itu saya percaya, pasti karena doa”

Tidak terasa setahun sudah berlalu sejak mama dioperasi. Akhir bulan April kemarin mama menjalani medical check up secara keseluruhan. Puji Tuhan, hasilnya bagus semua. Semuanya bersih dan baik. bahkan beberapa titik yang ada sebelum operasi sekarang hilang dan bersih. Tiada kata yang dapat kami ucapkan selain, ” Terima kasih Tuhan untuk kebaikan-Mu”

 

Perjalanan Iman Mei 31, 2009

Diarsipkan di bawah: Testimonial, diary, love — vonnythay @ 15:09

Hari ini saya mencoba untuk melihat goresan kisah dalam kehidupanku. Jejak-jejak kaki bersama dengan Tuhan dalam menapaki kehidupan ini. Teringat saat saya menangis dan mengatakan “Tuhan, imanku terlalu kecil untuk melangkah”. Dan akhirnya saya sadar, ada begitu banyak peristiwa yang Tuhan ijinkan untuk melatih saya untuk lebih beriman lagi.

Dalam waktu 2 bulan terakhir ini, saya berusaha kembali memulihkan hubungan saya dengan Tuhan yang tadinya mulai jauh. Butuh waktu yang tidak sebentar untuk memulihkannya kembali. namun saya menyadari bahwa Tuhan jauh merindukan saya daripada saya merindukan Dia.

“Carilah Tuhan, selagi Ia berkenan untuk ditemui.”

” Carilah, maka kamu akan mendapatkan”

Kalau saya bilang saya sedang mencari wajah TUhan, mungkin kamu akan bingung. Lho, Vonny kok bisa begitu? Tapi itulah yang saya lakukan. Saya mencari Dia dan Dia terlebih dahulu menangkap saya. Berkali-kali Tuhan menyatakan kasih-Nya lewat hal-hal kecil yang tidak saya duga. hanya untuk membuktikan bahwa Dia tidak pernah meninggalkan saya dan terus mengasihi saya.

Entah sudah berapa lama saya hidup dalam pemberontakan. Waktu Tuhan minta saya ke kanan, saya maunya ke kiri. Walaupun sampai akhirnya ke kanan juga sambil bercucuran airmata dan ngedumel. (Welleh! mirip banget ma Yunus, untungnya ga dimakan ikan. wakakkaak) Saya ingat Pak Riand pernah bilang, ” Vonny, kamau jangan terus-terusan melawan” Saya hanya terdiam. Mungkin saat itu saya juga bergumul, saya tahu darimana Tuhan mau saya ke kanan? ya dengan cara, saya lawan. kalau ga bisa, ya berarti itu kehendak Tuhan dan bukan kehendak saya. hahahahahha.. Buandel bangeet..!!!

Perlahan namun pasti, saya mulai peka dengan kehendak Tuhan. Dalam kondisi seperti inilah, saya sampai saat ini belajar untuk taat. Terakhir ini pun ada satu keputusan yang saya ambil dengan iman. ketika mungkin orang geleng-geleng kepala (kalau tahu pergumulan komplitku). Saya hanya bisa bilang, saya hanya mau taat, walaupun saya tidak mengerti.

Belajar untuk berserah itu juga tidak mudah. Selama ini saya tidak berserah, tapi nyerah.. Bedanya apa ya? Pak Riand bilang satu kalimat yang bagus, ” dalam berserah ada ketaatan, sedangkan dalam menyerah ada pemberontakan” duh.duh.duh.. lagi2 saya memberontak…huhuhu.. Tapi ketika saya merenungkan, semua itu benar. Ketika saya tidak mengerti pada apa yang saya lihat didepan mata. Saat rasanya tidak mampu lagi untuk bertahan, ya pilihan paling mudah adalah menyerah…

Saya menyerah.. tapi Tuhan tidak pernah menyerah terhadap saya. Dia panggil saya kembali dan meyakinkan betapa Dia mengasihi saya. Dia mengutus beberapa orang untuk menguatkan saya, juga memarahi saya. huhuhu…. ” Sampai kapan mau lari? Sampai kapan mau kabur terus? jika Tuhan memperhadapkan kamu pada situasi yang sama, itu berarti ada yang harus kamu hadapi dan menangkan. Selama kamu tidak berhasil, situasi yang sama terus datang” Begitulah tegoran keras dari Bang Sam yang membuat saya terhenyak. Bukan perkara mudah untuk menghadapi hantu dalam pikiran sendiri. Hmm.. mungkin lebih asyik kalau saya bilang kayak judul film , ” Facing the Giant” Seperti Daud yang mengahadapi Goliat dengan nama Tuhan semesta langit, bukan dengan pedang. Artinya saya harus menghadapai semua bukan dengan kuat gagah saya, tapi dengan kekuatan dari Tuhan semesta alam.

Ketika saya bilang saya mau taat, jujur masih takutnya bukan main menghadapi detik-detik itu. Tapi baiknya TUhan itu, saat kita bilang kita mau taat, Tuhan benar2 memampukan kita dan beri kita hikmat dan kekuatan. Sebuah sukacita yang saya tuai ketika saya taat. Walaupun jalan didepan tidak menampak, saya hanya bisa bilang saya berjalan dengan iman. Hmm…. iman kenapa? Ga tahu, Tuhan suruh saya untuk melangkah, ya lakukan saja. Ga banyak nanya lagi.

Ya…. sebuah perjalanan untuk mendewasakan  iman yang terus Tuhan latih dalam kehidupan saya. Dan pada akhir-akhir inipun saya sangat menikmati waktu-waktu saya bersama dengan Tuhan. Sesuatu yang dulu pernah saya alami, tapi hilang ditelan kesibukan. Sesungguhnya saat yang terindah ketika kita berada dalam persekutuan  dengan Dia. Sungguh ini yang membuat hidup lebih hidup. Eits.. jangan berfikir, lantas saya kerjaannya di kamar terus doa terus en baca Alkitab terus ga keluar2. hahaha.. saat-saat itu tentu ada, dan terus saya perbaiki. Tapi ketika saya menjalani semua dengan Tuhan dalam hadirat Dia, itu yang membuat semuanya menjadi indah. Termasuk menikmati anugrah bersama-sama dengan Dia.

Apa salah menikmati makanan enak? tentu Tidak! dan makanan itu menjadi jauh lebih enak kekita kita menikmatinya bersama dengan Tuhan. Termasuk fitnes bareng ma Tuhan. hahahah.. uda lama ga OR bener2 kayak orang uda tua jantungnya. Bayangin, bisa fitnes sambil worship dan doa syafaat ditengah hingar bingarnya musik… ehhehe. Kalau biasanya kita bilang jangan sampai kesenangan dunia jadi berhala kita. Sepertinya kita disuruh pilih, Tuhan atau kesenangan dunia?  Hmm.. itu benar, jika kesenangan itu sesuatu yang Tuhan juga tidak suka.Tapi ada banyak anugrah umum Tuhan yang menyenangkan dan itu tidak salah kok! Kan pemberian Tuhan. Karena itu, nikmatilah setiap anugrah (makanan, aktivitas, berelasi, dll) bersama dengan Tuhan dan dalam hadirat Tuhan. Dijamin, semuanya jauh lebih indah. ga percaya? cobain aja! (cie.. kayaknya gua cocok juga jadi marketing! ^ ^)

(Tunggu, sebelum ada yang berkomentar ” Taat apa ya von? jadi HT? wakakakak saya kasih jawaban dulu ya, ” bukan itu say!”      ” lalu apa dunk?”       “Ada dueeehh!!…^ ^ “)

 

Suara Hati Mei 21, 2009

Diarsipkan di bawah: diary — vonnythay @ 14:37

Di Siang ini saya janji bertemu dengan sahabatku di Artha gading. Seperti biasanya saya pergi dengan mio tercinta. Waktu mau taruh helm dan jaket dimotor seperti bisanya, tiba-tiba suara hati berkata, ” jangan taruh di motor. kalau nanti hujan, helm dan jaketmu pasti akan basah. Taruh di penitipan helm.” Saya memandangi tempat penitipan helm yang terletak diujung lapangan itu. Duh, jauh juga ya jalannya. Tapi mau taruh kembali di motor, kok ga damai. ya sudah, saya titipkan helm dan jaket saya ke penitipan. Hmm.. ini baru pertama kalinya loh.Padahal kalau mau dipikir pakai otak, aneh juga. kan siang ini begitu cerah. Tidak ada tanda-tanda akan hujan. Tapi saya ikuti saja suara hati.

Waktu berlalu dengan cepat. Ga terasa uda malam. Saya benar-benar kaget waktu melihat keluar, ternyata jalanan sudah basah. Ow.. berarti tadi hujan yach? Waduh, untung saya mengikuti kata hati untuk menitipkan helm dan jaketku. kalau tidak, wah benar-benar akan basah. Seyelah saya pulang, saya cerita ke mama. Mama bilang tadi itu hujan lebat loh!

Malam ini hati saya penuh dengan ucapan syukur yang limpah ruah. Betapa tidak, bahkan untuk hal kecil seperti ini pun Tuhan perhatikan. dan bersyukur saya menuruti kata hati. Kalau tidak, pasti nyesalnya ribuan kali. heheheh.. Saya teringat perkatan guru saya waktu SD, ” Suara hati jangan diabaikan, jika sering kita abaikan nanti bisa tumpul loh! “

A_091

 

Iman yang sejati Mei 15, 2009

Diarsipkan di bawah: article — vonnythay @ 16:07

Siapakah yang tidak menyukai kepastian? Bukankah untuk itu kita masuk asuransi, agar aja jaminan atas sesuatu yang berharga? Dalam sistem management kita juga mengenal adanya planning, baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang. Bukankah adalah hal yang menyenangkan jika kita dapat menentukan segalanya?  Kalu bisa hanya dengan menjentikkan jari, semua terjadi sesuai dengan keinginan kita. Dan bukankah menyenangkan jika kita bisa mengetahui masa depan kita dan menentukannya sesuai dengan keinginan kita. Itulah sebabnya orang beramai-ramai mencari tahu nasib mereka ke peramal. Jika ada bala, ya di tolak dunk! Aahh.. ! seandainya semuanya dalam genggaman tangan kita. Bukankah itu sangat menyenangkan?

Coba bayangkan! Betapa menyenangkannya jika kita memiliki segalanya. Bayangkan jika kita punya uang yang banyak, bisa membeli apapun yang kita inginkan. Punya kekuasaan. Hanya dengan menjentikan jari kita, apapun keinginan kita akan terwujud. Bukankah semua itu sangat menyenangkan?

Namun sayangnya, betapa bersarnya kekuasaan manusia dan kekayaan yang dimilikinya, tetap tidak dapat menentukan segalanya. Bukankah ada pepatah, sehebat-hebatnya manusia pasti dikalahkan oleh kematian. Tidak ada seorang manusia pun yang dapat mengelak dari kematian. Karena itu diluar kekuasaan kita.

Pernahkah kita berfikir, mengapa Tuhan memberikan ketidak sempurnaan pada kita? Sehebat-hebatnya manusia, pasti punya kelemahan. Saya ingat pada film “Brush Almighty God”. Bagaimana ya seandainya saya jadi Tuhan. Punya kuasa untuk berbuat apapun. Tetapi ada satu hal yang tetap dia tidak bisa lakukan, yaitu membuat kekasihnya kembali mencintai dia. ya.. kita tidak bisa mengatur perasaan orang lain, sehebat apapun kita.

Keterbatasan membuat kita terlihat tidak berdaya. Dan itulah yang membuat kita membutuhkapn orang lain dan Tuhan. Namun meskipun kita didalam Tuhan, sama sekali bukan berarti segalanya berjalan dengan mulus seperti kehendak kita. Tapi lewat semua perjalanan iman itu Tuhan ingin agar kita mengenal Dia dan semakin mengasihi dia.

Saya teringat pada kisah domba yang terhilang yang digendong oleh sang gembala. Domba tersebut kakinya dibalut. Apakah domba tersebut terluka saat bermain? Ternyata tidak. Domba tersebut kakinya sengaja dipatahkan oleh sang gembala. lalu di balut dan digendong. Saya berfikir, mengapakah Domba tersebut lari dan tersesat? karena dia menganggap pilihannya jauh lebih enak daripada pinpinan dang gembala. tapi ternyata salah. Ketika dia terluka dan digendong oleh sang gembala, itulah saat sang domba merasakan kasih sang gembala, mengenal suaranya, dan dekat dengan gembala, sehingga sang domba akan taat sepenuhnya. karena dia tahu, bahwa gembalanya mengasihi dia dan dia mau percaya pad pinpinan sang gembala.

Demikian pula dengan kita. Mengapakah kita sering meragukan Tuhan, dan berfikir bahwa kita tahu yang terbaik untuk kita? Itulah sebabnya kita akan marah jika apa yang kita minta pada Tuhan tidak terjadi / terpenuhi. Itulah sebabnya kita selalu minta bukti, dan jika semua terlihat begitu tidak jelas. Dan pada akhirnya  kita seperti sang domba, mengambil jalan kita sendiri dan kemudian tersesat.

Mengapakah terkadang Tuhan ijinkan kita dalam posisi tidak berdaya? Seperti halnya sang domba yang terluka dan tidak berdaya dipelukan sang gembala. Sesungguhnya, pada saat itulah kita akan mengalami apa yang namanya bergantung penuh pada Tuhan. dan disaat itulah kita akan belajar untuk mempercayai Allah. Bahwa Allah mengasihi kita dan apapun yang Dia lakukan semua adalah yang terbaik untuk kita. Dari iman seperti itulah akan muncul ketaatan total. Ketaatan yang lahir bukan karena rasa takut dihukum, tapi dari hati yang percaya pada otoritas Allah yang mengasihi kita.

Iman yang sejati, bukanlah iman yang buta. Tetapi iman yang lahir dari pengenalan akan Allah. Bukan hanya sekedar pengetahuan di otak kita, tetapi lahir dari pengalaman berjalan bersama dengan Allah. Terkadang kita diminta untuk melakukan hal yang tidak kita mengerti, atau pun diminta untuk melangkah ke jalan yang tidak kita kenal.  Dan ketika kita mempercayai Dia, kita akan taat pada kehendaknya. Mengapa? karena kita tahu Tuhanlah yang  berdaulat dan berkuasa. dan Tuhan sedang punya rencana yang jauh lebih besar daripada yang kita pikirkan. Walaupun terkadang ketaatan itu akan membawa kita pada siuasi yang tidak mengenakan. Tak jarang juga meminta harga yang mahal, bahkan termasuk nyawa kita. Namun jika Tuhan minta itu semua, mau kah kita memberikannya? Sebab hidup kita bukan milik kita, tetapi milik Dia. Dan sekalipun maut menghadang, tidak akan dapat memisahkan kita kita dari kasih Allah.

 

Kok Nekat?! Mei 10, 2009

Diarsipkan di bawah: Testimonial, diary — vonnythay @ 13:51

Semalam kami mengadakan seminar Back or White, dan saya mendapatkan kesempatan untuk menjadi Worship Leader. Hm..ga nyanka bertemu sapa dengan GI Ruth Suhada di toilet. dia bilang ” von, dulu saya mau bilang tapi ga enak. Dulu ibu lihat kamu jadi WL jadi bingung sendiri. kok suara kayak gini nekat jadi WL?! PeDe lagi!”

A_077

” HAhahah.. dulu saya nekat ya?”

” Bukan nekat kali, tapi humble mau belajar gitu!”, kata Shy

” Engga, nekat!!” jawab bu Ruth.” Tapi kok sekarang suaranya bisa berubah? uda ga kayak dulu lagi. uda bagus. boleh nich WL di KU.”

“Wakakakak, engga dech!”

” Kok bisa berubah?”

” ya.. ikut PS lah! kalau ga berubah juga, bisa-bisa ‘ditendang’ ma pelatihnya” wakakakak

………………………..

………………….

…………

Pulang dari Seminar itu saya termenung. Ya.. dari awal saya tahu suara saya ga bagus. Tapi saya juga bingung, kok mereka masih mau mempercayakan pelayanan WL ini kepada saya? Tiap tahun ikut training, berharap bisa memberikan yang terbaik buat Tuhan. Kemudian saya sadar, jika saya tahu suara sayalah yang menjadi kelemahan saya dalam pelayanan ini, mengapa saya tak mau melatih suara saya agar saya dapat memberikan yang terbaik untuk Tuhan? Ya.. seiring waktu dan kerja keras, akhirnya orang lainpun dapat melihat perubahan dalam suara saya. Bersyukur kalau pada akhirnya saya bisa melayani dengan lebih baik lagi, setidaknya suara saya uda ga bikin orang lain pusing mendengarnya. haaahhah..

Hari ini kami dari PERSPEKTIF mempersembahakan pujian di Kebaktian Umum 3 dalam rangka hari Parents day. Untuk pertama kalinya papa dan mama datang ke perayaan ini. Besyukur untuk kesempatan dapat beribadah bersama, bisa bernyanyi untuk mereka juga. ‘Entah bagaimana dapat kubalasnya……..” begitulah sepenggal pujian yang kami naikan. Tidak menyangka juga, kami mendapat pujian dari beberapa orang, termasuk pak Riand. ” wah, boleh nich sering-sering nyanyi. Ga disangkan KP2 punya banyak bakat terpendam! Suaranya bisa blended gitu!” hahhaha… mama juga bilang, karena posisi aku bernyanyi dekat dengan mike, jadi suaraku jelas terdengar. dan bagus kok! hahah.. cie.. dipuji mama sendiri. tapi mama kan jujur, dulu suaraku ga pernah dipuji, malah dibilang ” kamu itu nyanyi kok kayak orang ngomong?! mana nadanya?” wakakakakk… kebayang dunk! betapa bersabarnya pelatih PS saya dulu, lause Fransisca” uda pemanasan ga bisa ikutin nada piano, ga ngerti bahasa musik, dll… tapi beliau terus memberikan saya semangat untuk tetap berlatih. ” ga pa-pa. musik itu seperti bahasa. Jika kamu ikuti terus, lama-kelamaan kamu juga bisa mengikuti” dan terbukti kan? pada akhirnya saya bisa. :) Terima kasih juga buat Eirene en Timothy yang juga mengajarkan tehnik vokal yang pada akhirnya membuat saya bisa bernyanyi dengan lebih baik.

Saya sadar satu hal. Pelayanan itu memang anugrah. Tuhan suka memakai orang yang mau ketimbang orang yang bisa. Dan ketika kita tulus ingin memberikan yang terbaik untuk Tuhan, saya yakin tidak ada yang sia-sia. Tuhan sendiri yang akan memampukan kita. Tentu lewat kerja keras dan ketekunan.

Lewat PS lah mama dan papa mau ke gereja untuk pertama kalinya. Dan ternyata hal ini juga yang menjadi inspirasi bagi teman-teman di PERSPEKTIF. Di malam ini mama dari Fifi juga orang tua dari Wiwi yang belum percaya, mau datang ke gereja untuk melihat anaknya bernyanyi untuk mereka. Waa…. jadi terharu! Hiks!