“ Bu, kalau Ibu mau, ibu bisa datang ke kampungku dan mendirikan perusahaan kecil ataupun usaha kerajinan tangan”, ajak Umar
“waduh, pak! Aku ini bukan pengusaha.”, jawabku
“ ya ga pa-pa, aku ingin agar warga dikampungku punya pekerjaan saja”
“ ya.. doakan saja pak, insya Allah jika suatu saat aku jadi pengusaha, aku akan cari bapak.”
“ Iya, ingat ya bu, aku ini jujur kok. Jangan takut. Kapan-kapan kalau Ibu mau aku akan ajak mba ke kampungku, supaya ibu bisa lihat sendiri keadaan disana”
itulah cuplikan pembicaaran kami dalam perjalanan pulangku dari kantor cakung ke kantor kemayoran siang ini, aku diantar dengan mobil storing oleh salah satu operator unit kami. Kami berbincang-bincang panjang tentang pekerjaan dan ekonomi dan keluarga. Lalu aku bercerita tentang pelayanan kami di jalan kaca dalam upaya pemberian susu kotak kepada ibu-ibu yang mau membuat kerajinan tangan gantungan kunci. Lantas tiba dia malah menawarkan untuk membantu kampungnya. Waduh, aku ini kan hanya karyawan biasa.
Sedangkan proyek social yang aku rintis bersama-sama dengan teman-temanpun belum bisa dibilang berhasil, masih dalam proses awal. Jujur saja, mungkin bisa dibilang proyek ini berjalan aga lamban. Tidak bisa menyalahkan siapapun, aku sendiri juga kesulitan dengn management waktuku, apalagi dengan kondisi mama saat ini, mau tak mau aku harus mengutamakan keluargaku.
Sejenak pikiranku menerawang jauh. Sebenarnya terlalu banyak masyarakat Indonesia yang berada di bawah garis kemiskinan. Teringat cerita Ko bagio di Jogja, betapa ironisnya di sebuah desa hanya ada 1 guru untuk mengajar 1 sekolah SD, itupun dengan gaji yang sangat rendah. Aku tahu Negara ini begitu kacau karena hampir semua warga neganya cuek, dan hidup hanay memikirkn diri sendiri, mungkin juga termasuk saya. Disisi lain, sebuah keraguan kembali terbesit dihatiku. Aku sudah menjawab iya untuk bergabung dalam kepengurusan PERSPEKTIF sebagai sie KK. Ahh… bagaimana kelak aku bisa membagi waktu dan pikiranku.
Tapi kemudian Tuhan mengingatkan aku. “ Jangan melakukannya dengan kekuatanmu sendiri” iya. Banyak hal diluar jangkauan pemikiranku. Jika aku ingin berfikir enak, tak usahlah memikirkan orang lain dan semua pelayanan itu, toh sudah banyak yang harus aku urusi. Aku sudah cukup lelah mengahapi semua. Tapi aku juga tidak bisa mengabaikan semua itu.
“ Because God is love. And what does that mean? God has no selfishness. God keeps nothing to Himself, God’s nature is to be always giving….And we, His redeemed children – God delights to pour His love into us. And why? Because, as I said, God keeps nothing for himself … The Lord Jesus Christ came down from heaven as the Son of God’s love. “ God so loved the world that He gave His only begotten Son” God’s Son came to show what love is, and He lived a live of love here upon earth in fellowship with His disciples, in compassion over the poor and miserable, in love to His enemies, and He died the death of love. And when He went to heaven, whom did He send down? The Spirit of love, to come and banish selfishness and envy and pride, and bring the love of God into hearts of men. “ The fruit of spirit is love” (dari buku Absolute Surrender, by Andrew Murray)
Sebenarnya ada banyak keraguan dan keegoisan aku yang terus berusaha membuat tekadku goyah. Tapi Tuhan yang mengingat aku, jika Dia sendiri tidak egois, memberikan semuanya pada kita, termasuk AnakNya yang tunggal untuk kita. Yesus sendiri meninggalkan semua yang Dia miliki yaitu kesetaraan dengan Allah dan
mengambil rupa seorang hamba dan taat sampai mati dikayu salib, bukankah Dia telah melepaskan semuanya untuk kita. Cinta adalah memberi, bukan menerima. Dan dosalah yang membuat manusia menjadi egois dan hanya peduli pada kepentingannya sendiri.
Tuhan, aku sadar, aku masih jauh dari sempurna, masih jauh dari apa yang Engkau inginkan. Tapi aku akan belajar untuk melakukannya. Bukan dengan kekuatanku, karena aku tahu, aku tidak sanggup. Only by your grace, God. Berikanlah sukacita dalam hatiku setiap harinya, sehingga seiring dengan persekutuanku didalam Engkau, aku belajar dari hari ke hari, belajar untuk mengerti apa yang Engkau inginkan dalam hidupku, belajar untuk taat dan melakukan semuanya dengan sukacita dan hati yang mengasihi Engkau. Aku hanya percaya, bahwa Engkau yang telah memulai karyaMu dalam hidupku, juga yang akan memelihara dan menyelesaikannya hingga pada akhirnya. Amin.
