The Diary of God’ Love

Just another WordPress.com weblog

Why a winner lives as a looser? Februari 5, 2009

Diarsipkan di bawah: article — vonnythay @ 10:20

persimpanagn-jalan

Hidup ini penuh dengan pilihan. Meskipun ada banyak hal yang tidak bisa kita tolak atau pilih, seperti memilih lahir di keluarga mana, ataupun sikap orang lain terhadap kita, tetapi satu hal yang pasti, kita dapat memilih untuk bersikap dan berespon terhadap semua yang terjadi dalam kehidupan kita. Inilah yang kita sebut dengan kehendak bebas manusia. Dan didalam Kristus, kehendak bebas ini sudah disempurnakan, sehingga kita bisa benar-benar memilih untuk bersikap, untuk taat kepada Allah atau tidak taat.

 

 

 

Namun sayangnya terlalu banyak orang Kristen yang selalu berdalih, “ Roh memang penurut tapi daging lemah” sehingga tak jarang orang Kristen yang kehidupannya tidak bertumbuh menuju keserupaan dengan Kristus. Hidup seperti orang kalah. Jika demikian, apakah implikasinya Kristus yang sebagai pemenang yang juga telah menjadikan kita sebagai umat pemenang? Apakah itu hanya sebuah selogan semata? Sebuah impian yang tak dapat menjadi kenyataan? Sebuah ironi yang menyedihkan. Apakah kemenangan Kristus hanya untuk keselamatan kita, agar kita masuk surga saja? Sungguhkah tidak apa implikasi apa-apa pada kehidupan orang yang sudah lahir baru? Seperti sebuah bandul yang sering kali melambung pada titik ekstrim kanan atau kiri, demikianlah pendapat pada umumnya orang Kristen. Demikianlah ekstrim yang pertama, orang Kristen dengan kehidupan manusia lamanya yang begitu kuat dan menyerah dalam kedagingan. ‘Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan.”(Galatia 5:1) Orang-orang yang demikian, sesungguhnya adalah orang yang sudah dimerdekaan oleh Kristus tetapi mengenakan kuk perhambaan, artinya hidupnya menyerah dan dikalahkan oleh kuk yang seharusnya sudah dilepaskan. Ayat lain yang sering dipakai untuk berdalih adalah Roma 7:19 “Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat.” Mereka mengatakan, “lihat! Paulus sendiri mengatakan demikian, maka apalagi kita?” Tetapi sesungguhnya kalau kita melihat konteks ayat tersebut, Paulus sedang berbicara tentang nature manusia berdosa dan Hukum Taurat tidak mampu menyelamatkan manusia. Jika kita membaca kelanjutannya di pasal 8 makan jelaslah bahwa apa yang tidak mungkin bagi manusia untuk lepas dari kedagingan telah diberi jalan keluar oleh Allah melalui Kristus Yesus dan telah memerdekaan kita, (Roma 8:2-3) “Roh, yang memberi hidup telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut. Sebab apa yang tidak mungkin dilakukan hukum Taurat karena tak berdaya oleh daging, telah dilakukan oleh Allah. Dengan jalan mengutus Anak-Nya sendiri dalam daging, yang serupa dengan daging yang dikuasai dosa karena dosa, Ia telah menjatuhkan hukuman atas dosa di dalam daging,” Bukankah telah jelas sekarang, bahwa kita sebagai anak-anak Allah dimampukan untuk menang atas kedagingan kita, sebab Kristus telah mengalahkannya.

 

 

 

 

Ekstrim yang kedua, adalah orang Kristen yang dengan sekuat tenaga berusaha untuk hidup suci, namun juga tak mampu. Tampa disadari, mereka memakai kekuatannya sendiri untuk mentaati hukum yang ternyata terasa begitu sempurna dan suci bagi kita. Sebuah kegagalan yang juga bukan dimaksudkan dalam Kitab Suci.

 

 

 

 

Kunci jawaban yang sudah sangat sering kita dengar adalah ‘tinggal didalam Kristus dan Kristus di dalam kita” dan “hidup dipinpin oleh Roh”. Namun bagi saya kedua kalimat ini terasa begitu abstrak. Apa yang harus saya lakukan? Tinggal didalam Kristus dan Kristus di dalam kita, itu memang adalah pekerjaan Roh Kudus, bukan karya kita. Sebuah karya yang terjadi secara otomatis ketika kita lahir baru. Ada bibit ilahi yang ditanamkan dalam diri kita, yang memampukan kita untuk melakukan perkara-perkara ilahi. Namun pertanyaannya, mengapa ada orang Kristen yang hidupnya biasa saja, tidak berubah? Pada akhirnya saya mengerti sebuah kebenaran lain.

 

 

 

Pembentukan karakter menuju pada kesempurnaan Kristus, terjadi saat kita bergumul dalam setiap moment dalam kehidupan kita untuk taat atau tidak taat pada Kristus. Tentu untuk bisa taat dibutuhkan pengetahuan yang benar akan kehendak Allah dalam Firmannya. Tapi tentu tidak berhenti sampai disini. Ketaatan itu adalah sebuah pergumulan yang harus dialami oleh setiap orang Kristen, setiap harinya. Ambilah sebuah contoh: kita mungkin tidak dapat menghindari ada orang yang menusuk kita dari belakang, tapi kita punya pilihan apa respon kita terhadap dia? Apakah kita marah, benci dan balas dendam? Membiarkan kepedihan dan kemarahan menguasai hati dan pikiran kita? Atau kita memilih untuk mengampuni dan mengasihinya, sebagaimana yang diperintahkan dan dirindukan Tuhan pada setiap kita.

 

 

 

Ini yang pernah saya alami beberapa tahun yang lalu. Suatu saat saya menyadari saya ditusuk dari belakang oleh rekan kerja saya yang ada di Surabaya. Dia melemparkan semua kesalahan dia kepada saya dan tentu dibela oleh direksi, yang masih saudaranya. Didepan rapat saya dipojokan untuk kesalahan yang tidak saya lakukan. Tentu saja saya menjadi marah. Dalam hati saya berkata, saya ada di kantor pusat, saya bisa saja mengerjai balik kamu yang ada di Surabaya. Saya pulang dengan kekesalan yang luarbiasa. Ada niat untuk balas dendam dalam hati saya. Namun ketika saya membaca buku “ Jesus I never knew” karangan Philip Yancey, tentang kotbah di bukit, yaitu tentang perintah Yesus untuk mengasihi musuh kita, hati saya menjadi hancur. Kemarahan dan kegeraman itu berubah menjadi airmata. Saya tidak memandang lagi dia sebagai orang jahat, sebaliknya saya menangisi diri saya sendiri yang penuh dengan kebencian. Saya menyadari, sayalah juga orang berdosa yang perlu pengampunan Tuhan. Dan untuk mengampuni dia, saya minta Tuhan untuk memampukan saya untuk mengampuni dia. Keesokan harinya,saat saya masuk kantor. Manager marketing yang juga kesal dengan ulahnya, mengajak saya untuk balas dendam. Tapi saya tolak, saya katakan pada dia, bahwa saya sudah mengampuninya. Sang manager kaget mendengar jawaban saya, dengan mata terbelalak dia mengatakan, “ tapi dia sudah jahatin kamu!” dan saya pun menjawab” saya tahu, tapi saya sudah memaafkan dia” Saya tulis email kepada orang tersebut, saya katakan, saya tahu bahwa dia telah menikam saya dari belakang dan menimpakan kesalahan dia pada saya, tapi saya sudah memaafkan dia. Tidak ada email balik atas respon dia, tapi saya tidak pusing, sebab bagi saya urusan saya dengan dia dan Tuhan sudah selesai. Saya telah melakukan apa yang menjadi bagian saya, dan menyerahkan semuanya dalam tangan Tuhan.

 

  

 

Sebuah pengampunan, tidaklah bergantung apakah orang itu meminta maaf atau tidak, bukan juga bergantung pada apakah situasi sudah lebih baik atau tidak, tapi itu adalah keputusan kita untuk mau taat atau tidak pada keinginan Yesus, atau kah kita menturuti keinginan daging kita? Ada banyak orang yang walaupun tahu rasanya sakit menyimpan kepedihan, tapi ternyata lebih mencintai kepedihan itu sendiri dan tidak mau melepaskannya. Ini bukan sekedar masalah antara saya dengan dia, tetapi masalah antara saya dengan Tuhan. Antara ketaatan saya ataukah pemberontakan saya. Terkadang untuk taat, tidak semudah membalikan tangan, bukan pula otomatis terprogram seperti robot. Tetapi terkadang seperti pergumulan Tuhan Yesus di taman Getsemani. Pergumulan yang begitu berat mungkin sampai mengucurkan airmata dan keringat dingin. Mungkin, ketika kita memilih untuk taat, mungkin bukan sesuatu yang baik yang akan kita dapatkan, melainkan sesuatu yang lebih buruk. Kadang juga harus menahan kepedihan lain, dan dibilang bodoh oleh dunia. Namun juga terkadang pergumulan itu juga ringan seperti menahan mulut yang gatal untuk menggosipkan orang lain, dan yang dibutuhkan adalah kedisiplinan untuk menjadikannya kebiasaan dan karakter. Dalam pergumulan itu selalu punya 2 implikasi, yaitu kita menyenangkan hati Tuhan atau menyenangkan hati Iblis. Jika kita memilih untuk mengikuti kedagingan kita, saat itu tentu Tuhan yang sedih, dan Iblis tertawa. Dan sebaiknya jika kita memilih untuk taat, maka hati Tuhanlah yang disukakan, dan iblis telah dikalahkan.

 

 

Akhir-akhir ini ada banyak pemberitaan Firman Tuhan yan keliru, ketaatan pada Firman Tuhan karena iming-iming untuk memperoleh berkat Tuhan. Jika ingin diberkati, maka kita harus membangun mezbah Tuhan. Jika ingin diberkati, maka kita harus memberi atau menabur. Tentu saja motivasi ini tidak benar. Kita taat bukan supaya kita beroleh sesuatu yang lebih baik dari Tuhan, tetapi untuk menyenangkan hati Dia. Ketaatan sebagai rasa bakti dan sayang kita kepada Tuhan. Jika Tuhan memberi kita berkat, itu adalah bonus, tapi bukan menjadi tujuan utama kita.

 

 

1 Yohanes 5:1-5

1 Setiap orang yang percaya, bahwa Yesus adalah Kristus, lahir dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi Dia yang melahirkan, mengasihi juga Dia yang lahir dari pada-Nya.

2 Inilah tandanya, bahwa kita mengasihi anak-anak Allah, yaitu apabila kita mengasihi Allah serta melakukan perintah-perintah-Nya.

3 Sebab inilah kasih kepada Allah, yaitu, bahwa kita menuruti perintah-perintah-Nya. Perintah-perintah-Nya itu tidak berat,

4 sebab semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita.

5 Siapakah yang mengalahkan dunia, selain dari pada dia yang percaya, bahwa Yesus adalah Anak Allah?

 

Lihat, Alkitab berkata, bahwa perintah-perintah Tuhan itu tidaklah berat. Mengapa? Tentu karena Tuhan sendiri yang akan memampukan kita. Masalahnya, apakah kita mengasihi Dia dan mau taat?

 

 

 

Dalam setiap pergumulan inilah yang membentuk karakter kita dalam keserupaan dengan Kristus. Dipinpin oleh Roh, artinya juga taat pada pinpinan jesus-pray-2Roh. Tidak ada orang yang dipinpin jika terus menerus memberontak. Dan jika kita taat, inilah yang membawa kehidupan kita berbuah, dan Yesus akan nyata dalam kehidupan kita. Inilah yang disebut hidup berkemenangan. Sebuah kemenangan hanya diperoleh melalui pertempuran atau perlombaan. Dan Tuhan yang akan memampukan kita untuk menjadi pemenang, ketika kita memilih untuk taat. Inilah sinergi yang luarbiasa. Roh Kuduslah yang memimpin kita dan memampukan kita, dan bagian kita adalah memilih untuk taat dan melakukan Firman-Nya. Dalam contoh diatas, saya menang, tetapi dalam moment-moment yang lain mungkin saya kalah. Tapi saya tidak menyerah, jika ada moment yang serupa, saya terus bergumul untuk taat pada kehendak Bapa dan menanggalkan keinginan daging saya, dan saya yakin suatu saat saya akan menang dalam hal tersebut. Sebab Tuhan telah menjadikan saya sebagai umat pemenang.

 

 

 

Mungkin anda bertanya, tapi sepertinya saya tidak mengalami pergumulan seperti itu? Ya tentu saja, jika kita terbiasa mengabaikan Roh Kudus, kita tidak lagi menjadi peka terhadap suara-Nya dan hati nurani kita. Kita menjadi bebal dan terus hidup dalam kedagingan. Juga bisa jadi, karena kita tidak dengan serius menggumulkan Firman Tuhan. Jadi bagaimana kita tahu apa yang menjadi kehendak Tuhan dan yang menjadi kerinduan-Nya, jika kita tidak menyediakan waktu, hati dan pikiran kita untuk mendengarkan, merenungankannya, dan melakukannya? Semuanya tentu membutuhkan proses, namun proses situ tidak akan mengalami kemajuan jika kita tidak mengambil keputusan untuk memulainya sekarang. Jadi, apa yang menjadi keputusan kita sekarang? Menjadi pelaku Firman, atau hanya menjadi pendengar Firman? Atau tidak kedua-duanya? Rindukah kita memiliki karakter seperti Kristus dan menyenangkan hati-Nya ? Ataukah kita lebih suka menyenangkan hati kita sendiri (yang tentu saja iblis juga bersuka cita karenanya) dan terus hidup dalam kedagingan dan tidak bertumbuh? Keputusannya ada ditangan kita.(VT)

 

 

One Response to “Why a winner lives as a looser?”

  1. Soegianto Says:

    Hi Vonny,

    Setelah membaca artikel ini, segera saya berdoa… karena saya semakin sadar kekendoran rohani yang saya alami adalah karena saya “menolak” untuk taat. dan semakin hari semakin jauh dari TUHAN.

    Thanks untuk tulisannya, yang tidak menggurui… karena disertai dengan kerendahan hati dan kesaksian hidup…

    mari berjuang untuk Taat!

    Sekali lagi Thanks


Leave a Reply