The Diary of God’ Love

Just another WordPress.com weblog

Dapatkah Allah dipercayai? April 5, 2009

Diarsipkan di bawah: article — vonnythay @ 13:18

Ketika menjelang pemilu, semua partai politik beradu membuat janji politik. Ada yang menjanjikan sembako murah, lapangan pekerjaan, kehidupan yang lebih baik, dll. Dan disisi lain juga mulai mengkritik kinerja pemerintah yang berkuasa. Mungkin juga disinggung tentang janji-janji politik yang tidak dilakukan atau dilanggar oleh pemerintah ketika menjabat. Ya.. sering kali rakyat sudah bosan dengan segala janji-janji partai, karena sering kali janji hanya tinggal janji. Rakyat yang mengharapkan perubahan sering kali kecewa karena tidak menemukan realisasi dari janji-janji politik itu. Siapakah yang masih dapat dipercayai?

Bagaimana dengan Tuhan? Pernahkah kita bergumul dengan janji yang Tuhan ucapkan di dalam Alkitab, tetapi tidak menemukan dalam kenyataannya? Apakah kita pernah pada suatu titik ragu akan janji Allah dan menganggap Allah berdusta? Lalu mulai tenggelam dalam kekecewaan dan kepahitan kepada Tuhan. Mengapakah Allah tidak menepati janjinya? Mungkin secara pikiran, kita tahu Allah tidak mungkin berdusta, sebab Allah adalah setia. Tetapi dalam kepahitan hidup mungkin ada titik dimana kita mulai meragukan kesetiaan Allah. Pernahkah anda mengalaminya?

Didalam Alkitab, banyak pahlawan iman yang telah memberikan kesaksian hidupnya bagi kita, untuk memberikan kita kekuatan ketika berjalan dengan Allah. Banyak pula diantara mereka memiliki titik krisis dalam mempercayai Allah. Ambillah contoh Yeremia, seorang nabi yang Tuhan panggil sendiri dan telah dikuduskan bahkan sejak dalam kandungan ibunya. Yeremia dipanggil Tuhan ditengah nabi-nabi bernubuat palsu. Dan Bangsa Israel sendiripun meninabiyeremia2nggalkan Allah, sehingga mengalami penghukuman yang keras. Ketika nabi Yeremia memberitakan kebenaran, bukan yang baik yang ia terima, tetapi justru yang buruk yang ia terima. Ia bukan hanya diolok-olok tetapi juga dipasung. Nyawanya pun terancam. Namun ia tetap harus memberitakan kebenaran, tentang hukuman Allah pada bangasa Israel. dan akhirnyapun dia harus menyaksikan sendiri bangsanya yang ia kasihi ditindas dan dihina oleh bangsa lain.

Ditengah pergumulannya dia mengatakan kepada Allah ” Mengapakah penderitaanku tidak berkesudahan, dan lukaku sangat payah, sukar disembuhkan? Sungguh, Engkau seperti sungai yang curang bagiku, air yang tidak dapat dipercayai.” (Yeremia 15:18) Yeremia mengatakan bahwa Tuhan seperti sungai yang curang, air yang tidak dapat dipercayai, apa maksudnya? Coba kita bayangkan, jika kita berada di padang gurun, mengharapkan adanya air. setelah kita dekati sebuah sungai ternyata, sungai itu kering. Seperti itulah kekecewaan pada sungai yang tidak dapat dipercayai.

Ayub dalam penderitaannyapun mengatakan pada saudaranya bahwa mereka seperti sungai yang tidak dapat dipercayai, ” Saudara-saudaraku tidak dapat dipercaya seperti sungai, seperti dasar dari pada sungai yang mengalir lenyap, yang keruh karena air beku, yang di dalamnya salju menjadi cair, yang surut pada musim kemarau, dan menjadi kering di tempatnya apabila kena panas;.. (ayub 6:15-18) Intinya Ayub kecewa dengan saudara-saudaranya yang tidak dapat diandalkan ketika penderitaan dialami oleh Ayub. Sebab mereka bukan menghibur dan memberikan kekuatan pada Ayub tetapi justru menuding kalau Ayub telah bersalah pada Tuhan. Pengungkapan kekecewaan yang serupa yang diungkapkan oleh Yeremia kepada Tuhan.

Lalu bagaimana dengan Yeremia? Dia juga kecewa dengan Tuhan dan yeremia-meratapbahkan dia menyesal mengapa dia memenuhi panggilan Tuhan. Dia merasa Tuhan membujuk dia tetapi juga membuat dia mengalami penderitaan begitu hebat. (Yer 20:7) Tetapi sesuatu yang indah yang dia alami. bahwa Tuhan tetap menunjukan pembelannya kepada Yeremia dan meluputkan dia dari tangan musuh-musuhnya, meskipun tidak berarti Yeremia luput dari penderitaan. Tetapi bagai Yeremia Tuhan tetap tampil sebagai pahlawan yang gagah perkasa yang membela Yeremia (20:11). dalam pasal 20 dapat kita baca antara rintihan penderitaan juga penyesalan dan pujian pada Tuhan silih berganti diucapkan Yeremia. Artinya ditengah penderitaannya dia tahu Tuhan tetap membelanya. dalam kitab ratapan ada sebuah ayat yang begitu terkenal dan dibuat lagu disepanjang abad. ” Kasih Tuhan tidak berkesudahan, selalu baru setiap pagi”. Itu  adalah harapan Yerima dalam kepahitannya. Itulah harapan Yeremia di tengah penderitaan yang dia dan bangsanya alami. Dan harapannya itu juga yang membuatnya bertahan.

Mengapakah pada satu titik kita kecewa kepada Tuhan? Sesungguhnya pada titik itulah harapan kita tidak menjadi kenyataan. Mengapa tidak terjadi? Apakah Tuhan lalai dan tidak dapat dipercayai? Sering kali bukan. Sering kali semua terjadi karena kita punya pengharapan dalam pengertiaan yang salah didalam Tuhan. Sering kali ketika kita percaya bahwa Tuhan itu baik, maka Dia tidak akan membuat kita menderita. Jika Tuhan baik, maka Dia akan meluputkan kita dari semua  masalah kita. Keyataannya Tuhan tidak meluputkan kita dari penderitaan. tetapi menemani kita melewati penderitaan itu sendiri. Sering kali keadaan disekeliling kita tidak menjadi lebih baik, seperti yang dialami oleh Yeremia. tetapi secara pribadi Tuhan tetap menyertai kita dan memberi jalan keluar untuk memelihara kita.

Namun dalam kekecewaan dan ketidak mnegertian kita, masih dapatkah kita setia seperti Yeremia? Meskipun dia tahu akibat dari pemberitaan Firman Tuhan, dia justru dikutuki bangsanya dan menderita. Namun Firman itu sendiri tidak dapat dia tahan untuk diberitakan. (Yer 20:9) Firman Tuhan tetap menjadi kesukaan baginya. Dan Yeremia dicatat sebagai nabi yang setia pada panggilannya sampai pada akhirnya, meskipun tidak ada buah nyata yang terlihat dalam pelayanannya. Berapa banyak orang yang bertobat? tidak ada satu pun. Bahkan bangsanya hancur dalam bangsa babel dan raja mereka ditawan.

Janganlah mudah kita menghakimi orang lain. Saat seseorang bimbang dalam imannya, apakah artinya iman dia kecil? Kita mungkin tidak dapat menyelami penderitaan dan pergumulan yang dia sedang hadapi. Tetapi hampir semua tokoh dalam Alkitab menghadapi masa-masa krisis dalam mempercayai Allah. Tetapi setelah mereka melewatinya, mereka semakin mengenal dan mempercayai Allah.

Ketika krisis kepercayaan itu datang dalam hidup kita. Maukah kita jujur dihadapan Tuhan, seperti Yeremia, seperti Daud, seperti Ayub, dan masih banyak lagi. Mereka tidak jaim dihadapan Tuhan. Mereka tidak berpura-pura kuat. Mereka menyatakan kepahitan hati mereka, keraguan mereka dan penyesalan mereka. Dan Tuhan tidak menyalahkan mereka. Tuhan tetap memelihara iman mereka dan membuat mereka tetap bertahan melewati semuanya dan mengerti apa yang ada dipikiran Tuhan. Saat krisis itu maukah kitapun tetap setia, seperti Yeremia yang tetap setia pada panggilannya? seperti Daud yang tetap menunggu jalan Tuhan dinyatakan bukan dengan jalannya sendiri, ketika dia punya kesempatan untuk mengakhiri penderitaannya dengan membunuh Saul. Tetapi semua itu tidak dilakukan Daud. Sering kali Allah tidak dapat dimengerti oleh pikiran kita. Jalan-Nya terasa begitu membingungkan. Saat kekecewaan itu datang, apakah iman kita mampu menembus semuanya?

Allah telah membuktikan diri-Nya dalam kesetiaan disepanjang sejarah. dan ketika semua terasa membingungkan, biarkanlah kisah kehidupan para pahlawan iman dalam Alkitablah yang menguatkan kita. Dan biarkan kisah kehidupan kitapun kelak menjadi kesaksian bagi generasi dibawah kita, bahwa Allah adalah setia. Marilah kitapun tetap setia kepada-Nya.

 

2 Responses to “Dapatkah Allah dipercayai?”

  1. Dedy Bataha Says:

    Saya akui, kekecewaan itu sering juga kualami, karena kehendak dan rencana-Nya sering tidak seperti yang aku inginkan, tapi aku mempercayai-Nya.

  2. shy Says:

    ci… i hope.. aku bisa ngerasin kkecewaan yg berat ma THN..so bisa merasakan pernyataan yg hebat juga =’)
    Be blessed!!


Leave a Reply