The Diary of God’ Love

Just another WordPress.com weblog

Perjalanan Iman Mei 31, 2009

Diarsipkan di bawah: Testimonial, diary, love — vonnythay @ 15:09

Hari ini saya mencoba untuk melihat goresan kisah dalam kehidupanku. Jejak-jejak kaki bersama dengan Tuhan dalam menapaki kehidupan ini. Teringat saat saya menangis dan mengatakan “Tuhan, imanku terlalu kecil untuk melangkah”. Dan akhirnya saya sadar, ada begitu banyak peristiwa yang Tuhan ijinkan untuk melatih saya untuk lebih beriman lagi.

Dalam waktu 2 bulan terakhir ini, saya berusaha kembali memulihkan hubungan saya dengan Tuhan yang tadinya mulai jauh. Butuh waktu yang tidak sebentar untuk memulihkannya kembali. namun saya menyadari bahwa Tuhan jauh merindukan saya daripada saya merindukan Dia.

“Carilah Tuhan, selagi Ia berkenan untuk ditemui.”

” Carilah, maka kamu akan mendapatkan”

Kalau saya bilang saya sedang mencari wajah TUhan, mungkin kamu akan bingung. Lho, Vonny kok bisa begitu? Tapi itulah yang saya lakukan. Saya mencari Dia dan Dia terlebih dahulu menangkap saya. Berkali-kali Tuhan menyatakan kasih-Nya lewat hal-hal kecil yang tidak saya duga. hanya untuk membuktikan bahwa Dia tidak pernah meninggalkan saya dan terus mengasihi saya.

Entah sudah berapa lama saya hidup dalam pemberontakan. Waktu Tuhan minta saya ke kanan, saya maunya ke kiri. Walaupun sampai akhirnya ke kanan juga sambil bercucuran airmata dan ngedumel. (Welleh! mirip banget ma Yunus, untungnya ga dimakan ikan. wakakkaak) Saya ingat Pak Riand pernah bilang, ” Vonny, kamau jangan terus-terusan melawan” Saya hanya terdiam. Mungkin saat itu saya juga bergumul, saya tahu darimana Tuhan mau saya ke kanan? ya dengan cara, saya lawan. kalau ga bisa, ya berarti itu kehendak Tuhan dan bukan kehendak saya. hahahahahha.. Buandel bangeet..!!!

Perlahan namun pasti, saya mulai peka dengan kehendak Tuhan. Dalam kondisi seperti inilah, saya sampai saat ini belajar untuk taat. Terakhir ini pun ada satu keputusan yang saya ambil dengan iman. ketika mungkin orang geleng-geleng kepala (kalau tahu pergumulan komplitku). Saya hanya bisa bilang, saya hanya mau taat, walaupun saya tidak mengerti.

Belajar untuk berserah itu juga tidak mudah. Selama ini saya tidak berserah, tapi nyerah.. Bedanya apa ya? Pak Riand bilang satu kalimat yang bagus, ” dalam berserah ada ketaatan, sedangkan dalam menyerah ada pemberontakan” duh.duh.duh.. lagi2 saya memberontak…huhuhu.. Tapi ketika saya merenungkan, semua itu benar. Ketika saya tidak mengerti pada apa yang saya lihat didepan mata. Saat rasanya tidak mampu lagi untuk bertahan, ya pilihan paling mudah adalah menyerah…

Saya menyerah.. tapi Tuhan tidak pernah menyerah terhadap saya. Dia panggil saya kembali dan meyakinkan betapa Dia mengasihi saya. Dia mengutus beberapa orang untuk menguatkan saya, juga memarahi saya. huhuhu…. ” Sampai kapan mau lari? Sampai kapan mau kabur terus? jika Tuhan memperhadapkan kamu pada situasi yang sama, itu berarti ada yang harus kamu hadapi dan menangkan. Selama kamu tidak berhasil, situasi yang sama terus datang” Begitulah tegoran keras dari Bang Sam yang membuat saya terhenyak. Bukan perkara mudah untuk menghadapi hantu dalam pikiran sendiri. Hmm.. mungkin lebih asyik kalau saya bilang kayak judul film , ” Facing the Giant” Seperti Daud yang mengahadapi Goliat dengan nama Tuhan semesta langit, bukan dengan pedang. Artinya saya harus menghadapai semua bukan dengan kuat gagah saya, tapi dengan kekuatan dari Tuhan semesta alam.

Ketika saya bilang saya mau taat, jujur masih takutnya bukan main menghadapi detik-detik itu. Tapi baiknya TUhan itu, saat kita bilang kita mau taat, Tuhan benar2 memampukan kita dan beri kita hikmat dan kekuatan. Sebuah sukacita yang saya tuai ketika saya taat. Walaupun jalan didepan tidak menampak, saya hanya bisa bilang saya berjalan dengan iman. Hmm…. iman kenapa? Ga tahu, Tuhan suruh saya untuk melangkah, ya lakukan saja. Ga banyak nanya lagi.

Ya…. sebuah perjalanan untuk mendewasakan  iman yang terus Tuhan latih dalam kehidupan saya. Dan pada akhir-akhir inipun saya sangat menikmati waktu-waktu saya bersama dengan Tuhan. Sesuatu yang dulu pernah saya alami, tapi hilang ditelan kesibukan. Sesungguhnya saat yang terindah ketika kita berada dalam persekutuan  dengan Dia. Sungguh ini yang membuat hidup lebih hidup. Eits.. jangan berfikir, lantas saya kerjaannya di kamar terus doa terus en baca Alkitab terus ga keluar2. hahaha.. saat-saat itu tentu ada, dan terus saya perbaiki. Tapi ketika saya menjalani semua dengan Tuhan dalam hadirat Dia, itu yang membuat semuanya menjadi indah. Termasuk menikmati anugrah bersama-sama dengan Dia.

Apa salah menikmati makanan enak? tentu Tidak! dan makanan itu menjadi jauh lebih enak kekita kita menikmatinya bersama dengan Tuhan. Termasuk fitnes bareng ma Tuhan. hahahah.. uda lama ga OR bener2 kayak orang uda tua jantungnya. Bayangin, bisa fitnes sambil worship dan doa syafaat ditengah hingar bingarnya musik… ehhehe. Kalau biasanya kita bilang jangan sampai kesenangan dunia jadi berhala kita. Sepertinya kita disuruh pilih, Tuhan atau kesenangan dunia?  Hmm.. itu benar, jika kesenangan itu sesuatu yang Tuhan juga tidak suka.Tapi ada banyak anugrah umum Tuhan yang menyenangkan dan itu tidak salah kok! Kan pemberian Tuhan. Karena itu, nikmatilah setiap anugrah (makanan, aktivitas, berelasi, dll) bersama dengan Tuhan dan dalam hadirat Tuhan. Dijamin, semuanya jauh lebih indah. ga percaya? cobain aja! (cie.. kayaknya gua cocok juga jadi marketing! ^ ^)

(Tunggu, sebelum ada yang berkomentar ” Taat apa ya von? jadi HT? wakakakak saya kasih jawaban dulu ya, ” bukan itu say!”      ” lalu apa dunk?”       “Ada dueeehh!!…^ ^ “)

 

Suara Hati Mei 21, 2009

Diarsipkan di bawah: diary — vonnythay @ 14:37

Di Siang ini saya janji bertemu dengan sahabatku di Artha gading. Seperti biasanya saya pergi dengan mio tercinta. Waktu mau taruh helm dan jaket dimotor seperti bisanya, tiba-tiba suara hati berkata, ” jangan taruh di motor. kalau nanti hujan, helm dan jaketmu pasti akan basah. Taruh di penitipan helm.” Saya memandangi tempat penitipan helm yang terletak diujung lapangan itu. Duh, jauh juga ya jalannya. Tapi mau taruh kembali di motor, kok ga damai. ya sudah, saya titipkan helm dan jaket saya ke penitipan. Hmm.. ini baru pertama kalinya loh.Padahal kalau mau dipikir pakai otak, aneh juga. kan siang ini begitu cerah. Tidak ada tanda-tanda akan hujan. Tapi saya ikuti saja suara hati.

Waktu berlalu dengan cepat. Ga terasa uda malam. Saya benar-benar kaget waktu melihat keluar, ternyata jalanan sudah basah. Ow.. berarti tadi hujan yach? Waduh, untung saya mengikuti kata hati untuk menitipkan helm dan jaketku. kalau tidak, wah benar-benar akan basah. Seyelah saya pulang, saya cerita ke mama. Mama bilang tadi itu hujan lebat loh!

Malam ini hati saya penuh dengan ucapan syukur yang limpah ruah. Betapa tidak, bahkan untuk hal kecil seperti ini pun Tuhan perhatikan. dan bersyukur saya menuruti kata hati. Kalau tidak, pasti nyesalnya ribuan kali. heheheh.. Saya teringat perkatan guru saya waktu SD, ” Suara hati jangan diabaikan, jika sering kita abaikan nanti bisa tumpul loh! “

A_091

 

Iman yang sejati Mei 15, 2009

Diarsipkan di bawah: article — vonnythay @ 16:07

Siapakah yang tidak menyukai kepastian? Bukankah untuk itu kita masuk asuransi, agar aja jaminan atas sesuatu yang berharga? Dalam sistem management kita juga mengenal adanya planning, baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang. Bukankah adalah hal yang menyenangkan jika kita dapat menentukan segalanya?  Kalu bisa hanya dengan menjentikkan jari, semua terjadi sesuai dengan keinginan kita. Dan bukankah menyenangkan jika kita bisa mengetahui masa depan kita dan menentukannya sesuai dengan keinginan kita. Itulah sebabnya orang beramai-ramai mencari tahu nasib mereka ke peramal. Jika ada bala, ya di tolak dunk! Aahh.. ! seandainya semuanya dalam genggaman tangan kita. Bukankah itu sangat menyenangkan?

Coba bayangkan! Betapa menyenangkannya jika kita memiliki segalanya. Bayangkan jika kita punya uang yang banyak, bisa membeli apapun yang kita inginkan. Punya kekuasaan. Hanya dengan menjentikan jari kita, apapun keinginan kita akan terwujud. Bukankah semua itu sangat menyenangkan?

Namun sayangnya, betapa bersarnya kekuasaan manusia dan kekayaan yang dimilikinya, tetap tidak dapat menentukan segalanya. Bukankah ada pepatah, sehebat-hebatnya manusia pasti dikalahkan oleh kematian. Tidak ada seorang manusia pun yang dapat mengelak dari kematian. Karena itu diluar kekuasaan kita.

Pernahkah kita berfikir, mengapa Tuhan memberikan ketidak sempurnaan pada kita? Sehebat-hebatnya manusia, pasti punya kelemahan. Saya ingat pada film “Brush Almighty God”. Bagaimana ya seandainya saya jadi Tuhan. Punya kuasa untuk berbuat apapun. Tetapi ada satu hal yang tetap dia tidak bisa lakukan, yaitu membuat kekasihnya kembali mencintai dia. ya.. kita tidak bisa mengatur perasaan orang lain, sehebat apapun kita.

Keterbatasan membuat kita terlihat tidak berdaya. Dan itulah yang membuat kita membutuhkapn orang lain dan Tuhan. Namun meskipun kita didalam Tuhan, sama sekali bukan berarti segalanya berjalan dengan mulus seperti kehendak kita. Tapi lewat semua perjalanan iman itu Tuhan ingin agar kita mengenal Dia dan semakin mengasihi dia.

Saya teringat pada kisah domba yang terhilang yang digendong oleh sang gembala. Domba tersebut kakinya dibalut. Apakah domba tersebut terluka saat bermain? Ternyata tidak. Domba tersebut kakinya sengaja dipatahkan oleh sang gembala. lalu di balut dan digendong. Saya berfikir, mengapakah Domba tersebut lari dan tersesat? karena dia menganggap pilihannya jauh lebih enak daripada pinpinan dang gembala. tapi ternyata salah. Ketika dia terluka dan digendong oleh sang gembala, itulah saat sang domba merasakan kasih sang gembala, mengenal suaranya, dan dekat dengan gembala, sehingga sang domba akan taat sepenuhnya. karena dia tahu, bahwa gembalanya mengasihi dia dan dia mau percaya pad pinpinan sang gembala.

Demikian pula dengan kita. Mengapakah kita sering meragukan Tuhan, dan berfikir bahwa kita tahu yang terbaik untuk kita? Itulah sebabnya kita akan marah jika apa yang kita minta pada Tuhan tidak terjadi / terpenuhi. Itulah sebabnya kita selalu minta bukti, dan jika semua terlihat begitu tidak jelas. Dan pada akhirnya  kita seperti sang domba, mengambil jalan kita sendiri dan kemudian tersesat.

Mengapakah terkadang Tuhan ijinkan kita dalam posisi tidak berdaya? Seperti halnya sang domba yang terluka dan tidak berdaya dipelukan sang gembala. Sesungguhnya, pada saat itulah kita akan mengalami apa yang namanya bergantung penuh pada Tuhan. dan disaat itulah kita akan belajar untuk mempercayai Allah. Bahwa Allah mengasihi kita dan apapun yang Dia lakukan semua adalah yang terbaik untuk kita. Dari iman seperti itulah akan muncul ketaatan total. Ketaatan yang lahir bukan karena rasa takut dihukum, tapi dari hati yang percaya pada otoritas Allah yang mengasihi kita.

Iman yang sejati, bukanlah iman yang buta. Tetapi iman yang lahir dari pengenalan akan Allah. Bukan hanya sekedar pengetahuan di otak kita, tetapi lahir dari pengalaman berjalan bersama dengan Allah. Terkadang kita diminta untuk melakukan hal yang tidak kita mengerti, atau pun diminta untuk melangkah ke jalan yang tidak kita kenal.  Dan ketika kita mempercayai Dia, kita akan taat pada kehendaknya. Mengapa? karena kita tahu Tuhanlah yang  berdaulat dan berkuasa. dan Tuhan sedang punya rencana yang jauh lebih besar daripada yang kita pikirkan. Walaupun terkadang ketaatan itu akan membawa kita pada siuasi yang tidak mengenakan. Tak jarang juga meminta harga yang mahal, bahkan termasuk nyawa kita. Namun jika Tuhan minta itu semua, mau kah kita memberikannya? Sebab hidup kita bukan milik kita, tetapi milik Dia. Dan sekalipun maut menghadang, tidak akan dapat memisahkan kita kita dari kasih Allah.

 

Kok Nekat?! Mei 10, 2009

Diarsipkan di bawah: Testimonial, diary — vonnythay @ 13:51

Semalam kami mengadakan seminar Back or White, dan saya mendapatkan kesempatan untuk menjadi Worship Leader. Hm..ga nyanka bertemu sapa dengan GI Ruth Suhada di toilet. dia bilang ” von, dulu saya mau bilang tapi ga enak. Dulu ibu lihat kamu jadi WL jadi bingung sendiri. kok suara kayak gini nekat jadi WL?! PeDe lagi!”

A_077

” HAhahah.. dulu saya nekat ya?”

” Bukan nekat kali, tapi humble mau belajar gitu!”, kata Shy

” Engga, nekat!!” jawab bu Ruth.” Tapi kok sekarang suaranya bisa berubah? uda ga kayak dulu lagi. uda bagus. boleh nich WL di KU.”

“Wakakakak, engga dech!”

” Kok bisa berubah?”

” ya.. ikut PS lah! kalau ga berubah juga, bisa-bisa ‘ditendang’ ma pelatihnya” wakakakak

………………………..

………………….

…………

Pulang dari Seminar itu saya termenung. Ya.. dari awal saya tahu suara saya ga bagus. Tapi saya juga bingung, kok mereka masih mau mempercayakan pelayanan WL ini kepada saya? Tiap tahun ikut training, berharap bisa memberikan yang terbaik buat Tuhan. Kemudian saya sadar, jika saya tahu suara sayalah yang menjadi kelemahan saya dalam pelayanan ini, mengapa saya tak mau melatih suara saya agar saya dapat memberikan yang terbaik untuk Tuhan? Ya.. seiring waktu dan kerja keras, akhirnya orang lainpun dapat melihat perubahan dalam suara saya. Bersyukur kalau pada akhirnya saya bisa melayani dengan lebih baik lagi, setidaknya suara saya uda ga bikin orang lain pusing mendengarnya. haaahhah..

Hari ini kami dari PERSPEKTIF mempersembahakan pujian di Kebaktian Umum 3 dalam rangka hari Parents day. Untuk pertama kalinya papa dan mama datang ke perayaan ini. Besyukur untuk kesempatan dapat beribadah bersama, bisa bernyanyi untuk mereka juga. ‘Entah bagaimana dapat kubalasnya……..” begitulah sepenggal pujian yang kami naikan. Tidak menyangka juga, kami mendapat pujian dari beberapa orang, termasuk pak Riand. ” wah, boleh nich sering-sering nyanyi. Ga disangkan KP2 punya banyak bakat terpendam! Suaranya bisa blended gitu!” hahhaha… mama juga bilang, karena posisi aku bernyanyi dekat dengan mike, jadi suaraku jelas terdengar. dan bagus kok! hahah.. cie.. dipuji mama sendiri. tapi mama kan jujur, dulu suaraku ga pernah dipuji, malah dibilang ” kamu itu nyanyi kok kayak orang ngomong?! mana nadanya?” wakakakakk… kebayang dunk! betapa bersabarnya pelatih PS saya dulu, lause Fransisca” uda pemanasan ga bisa ikutin nada piano, ga ngerti bahasa musik, dll… tapi beliau terus memberikan saya semangat untuk tetap berlatih. ” ga pa-pa. musik itu seperti bahasa. Jika kamu ikuti terus, lama-kelamaan kamu juga bisa mengikuti” dan terbukti kan? pada akhirnya saya bisa. :) Terima kasih juga buat Eirene en Timothy yang juga mengajarkan tehnik vokal yang pada akhirnya membuat saya bisa bernyanyi dengan lebih baik.

Saya sadar satu hal. Pelayanan itu memang anugrah. Tuhan suka memakai orang yang mau ketimbang orang yang bisa. Dan ketika kita tulus ingin memberikan yang terbaik untuk Tuhan, saya yakin tidak ada yang sia-sia. Tuhan sendiri yang akan memampukan kita. Tentu lewat kerja keras dan ketekunan.

Lewat PS lah mama dan papa mau ke gereja untuk pertama kalinya. Dan ternyata hal ini juga yang menjadi inspirasi bagi teman-teman di PERSPEKTIF. Di malam ini mama dari Fifi juga orang tua dari Wiwi yang belum percaya, mau datang ke gereja untuk melihat anaknya bernyanyi untuk mereka. Waa…. jadi terharu! Hiks!