The Diary of God’ Love

Just another WordPress.com weblog

Setia dalam perkara kecil Juni 25, 2009

Diarsipkan di bawah: article, diary — vonnythay @ 13:29

Akhir-akhir ini saya ditawarkan banyak hal. Jujur saja respon pertama saya adalah menolak. Duh, ngapain banyak-banyak kerjaan atau pelayanan? Bikin stress saja. Kemarin saya, pak Riand, shy dan aldri berbincang-bincang sampai jam 10 malam. Pak Riand mewarkan saya untuk pelayanan di Pembinaan Warga Gereja (PWG). Waktu Beliau tahu saya sudah tidak jadi pengurus di PERSPEKTIF dan masih melayani di CPM, dia tidak rela. “Kamu kalau pelayanan lepas begitu, bisa-bisa nanti ga cinta gereja lagi. Makin lama makin lepas” hahahahah mungkin juga ya. Tapi kebayang PR yang harus dikerjakan di CA_050PM saja sudah buat kepala pusing. Belum lagi Yuddy masih minta aku dampingi Evelyn sebagai sie KTB di PERSPEKTIF. Dan yang terutama, terbayang dunk, kapan saya bisa luangkan waktu untuk menulis dan mengejar impian saya?

 

 

 

Pak Riand langsung mengeluarkan jurus lagi, “ Bicara tentang talenta,  kata kuncinya adalah “sesuai kemampuan” Tuhan tahu kemampuan kamu von. Jangan berdalih lagi. Lagipula di PWG ada banyak hal yang bisa kita kerjakan. Kamu sudah punya pengalaman bersama dengan Tuhan begitu banyak. Itu harus dibagikan. Jangan cuma sama Shirley aja dunk! Masih banyak jemaat yang lain”

Hahaha.. banyak yang uda tahu kok pak! Itu pengemar blog aku tahu pengalaman imanku. Kan ditulis disana! “ ^ ^

A_141

 

 

Malam ini, ketika saya bergumul dengan banyak hal. Tuhan mengingatkanku dengan perikop   ini.

 

Lukas 12:34-48

 

  36  Dan hendaklah kamu sama seperti orang-orang yang menanti-nantikan tuannya yang pulang dari perkawinan, supaya jika ia datang dan mengetok pintu, segera dibuka pintu baginya.

37  Berbahagialah hamba-hamba yang didapati tuannya berjaga-jaga ketika ia datang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia akan mengikat pinggangnya dan mempersilakan mereka duduk makan, dan ia akan datang melayani mereka.

38  Dan apabila ia datang pada tengah malam atau pada dinihari dan mendapati mereka berlaku demikian, maka berbahagialah mereka.

39  Tetapi ketahuilah ini: Jika tuan rumah tahu pukul berapa pencuri akan datang, ia tidak akan membiarkan rumahnya dibongkar.

40  Hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu sangkakan.”

41  Kata Petrus: “Tuhan, kamikah yang Engkau maksudkan dengan perumpamaan itu atau juga semua orang?”

42  Jawab Tuhan: “Jadi, siapakah pengurus rumah yang setia dan bijaksana yang akan diangkat oleh tuannya menjadi kepala atas semua hambanya untuk memberikan makanan kepada mereka pada waktunya?

43  Berbahagialah hamba, yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu, ketika tuannya itu datang.

44  Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya tuannya itu akan mengangkat dia menjadi pengawas segala miliknya.

45  Akan tetapi, jikalau hamba itu jahat dan berkata di dalam hatinya: Tuanku tidak datang-datang, lalu ia mulai memukul hamba-hamba laki-laki dan hamba-hamba perempuan, dan makan minum dan mabuk,

46  maka tuan hamba itu akan datang pada hari yang tidak disangkakannya, dan pada saat yang tidak diketahuinya, dan akan membunuh dia dan membuat dia senasib dengan orang-orang yang tidak setia.

47  Adapun hamba yang tahu akan kehendak tuannya, tetapi yang tidak mengadakan persiapan atau tidak melakukan apa yang dikehendaki tuannya, ia akan menerima banyak pukulan.

48  Tetapi barangsiapa tidak tahu akan kehendak tuannya dan melakukan apa yang harus mendatangkan pukulan, ia akan menerima sedikit pukulan. Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut.”

 

Saya sadar satu hal. Siapa bilang di surga nanti kita hanya memuji  Tuhan saja? Ga punya kerjaan yang lain?  Guys, Tuhan saja dari penciptaan sampai saat ini terus bekerja loh! Dan di kitab wahyu ditulis “ Dan malam tidak akan ada lagi di sana, dan mereka tidak memerlukan cahaya lampu dan cahaya matahari, sebab Tuhan Allah akan menerangi mereka, dan mereka akan memerintah sebagai raja sampai selama-lamanya. (Wahyu 22:5)”

 

A_124Mungkin kita berfikir bahawa sebagai raja itu enak. Hanya ongkang-ongkang kaki, trus dilayani , dsb. Siapa bilang? Ya.. kalau ada raja seperti itu, saya jamin, ga lama kemudian rakyatnya pasti kudeta. Sebaliknya seharusnya yang menjadi raja adalah orang yang berkualitas tinggi, yang terbaik. Sebentar lagi kita akan pemilu memilih presiden. Kalau salah satu calonnya kita tahu ambisinya hanya untuk hidup bersenang-senang, apakah kita mau memilih orang tersebut? Saya yakin kita akan memilih orang yang punya intergritas tinggi, orang yang bisa dipercaya, orang yang mengabdi pada rakyat, orang yang bisa meminpin negeri ini dengan lebih baik.

 

Demikian pula dengan kita. Saat ini adalah latihan menuju kekekalan. Jika kita tidak setia pada saat ini, bagaimana Tuhan bisa mempercayakan yang lebih besar nanti? Layakkah kita memerintah sebagai raja kelak? Saya tahu semua memang adalah anugrah. Tidak ada satupun yang layak mendapatkannya. Tapi saya yakin barang siapa setia dalam perkara kecil, kepadanya akan diberikan perkara yang lebih besar. Jika saya tidak belajar untuk memanage apa yang Tuhan percayakan saat ini, bagaimana saya menjalankan kepercayaan yang lebih besar di surga kelak?

 

Saya merasa Tuhan sedang terus memperlebar kapasitas saya. Saya ingat 2 tahun yang lalu. Saat itu saya ambil komitmen untuk berdoa puasa selama beberapa hari. Tuhan tahu saat itu saya sedang merasa “kapok” karena punya banyak pelayanan karena punya banyak talenta. Rasanya ingin istirahat saja dan tidak mau mengerjakan banyak hal. Tapi Tuhan justru bilang pada saya, “ Aku justru ingin menambahkan kepadamu lebih banyak lagi. Tapi tidak untuk saat ini, sebab kamu belum mampu untuk menanggungnya” Hua… jadi boro-boro bakal dikurangi pelayanannya, Tuhan bilang mau ditambahin lagi. huhuhuhuhu  

 

Tapi saya mulai mengenang perjalanan hidup saya. Bukankah berkali-kali ketika saya dipercayakan lebih banyak hal saya stress bukan main? Tapi setelah beberapa bulan, saya mulai bisa menyesuaikan diri dan mulai mampu untuk me-manage-nya. Saat itu saya belajar untuk semakin percaya pada pinpinan Tuhan. Percaya meskipun tidak mengerti. Saya belajar untuk mengandalkan Tuhan lebih lagi. Saya belajar untuk berserah dan tidak berontak. Ya.. saya hanyalah tanah liat ditangan penjunan yang menagsihi saya. Saya tahu hidup saya bukan lagi milik saya. Tetapi milik Dia yang telah menebus dan menyelamatkan saya. Bagi-Nyalah kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin

 

Hatiku Percaya Juni 20, 2009

Diarsipkan di bawah: song — vonnythay @ 05:38

Sebuah lagu yang bagus dari Edward Chen. Disaat kita tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Disaat kita tak melihat jalan Tuhan. Masihkah kita percaya pada hati Tuhan?

Yohanes 11:14-15  

Karena itu Yesus berkata dengan terus terang: “Lazarus sudah mati;
 tetapi syukurlah Aku tidak hadir pada waktu itu, sebab demikian lebih baik bagimu, supaya kamu dapat belajar percaya. Marilah kita pergi sekarang kepadanya.

 

Saatku tak melihat jalanMu

Saat ku tak mengerti rencana-Mu

Namun tetap ku pegang janji-Mu

Pengharapanku hanya pada-Mu

 

Reff:

Hatiku percaya

 Hati Ku Percaya

Hati Ku Percaya

 S’lalu Ku Percaya

 

Persembahan Yang dicela Tuhan Juni 15, 2009

Diarsipkan di bawah: article — vonnythay @ 12:36

 

Siapa sih yang tidak ingin mendapatkan penghargaan ataupun pujian? Apalagi kalau kita sudah berjeri lelah dan mengorbankan segalanya. Tapi ternyata apa yang baik bagi kita belum tentu lho berkenan kepada Tuhan. Apa perasaan kita jika kita sudah mengorbankan segalanya tapi malah dicela Tuhan? Duh, ngenes banget dech! Amit –amit!  Nah, ga maukan itu terjadi pada kita? Karena itu mari kita belajar dari kebenaran Firman Tuhan, persembahan seperti apa sih yang malah dicela oleh Tuhan Yesus?

 

 

Markus 7

 9  Yesus berkata pula kepada mereka: “Sungguh pandai kamu mengesampingkan perintah Allah, supaya kamu dapat memelihara adat istiadatmu sendiri.

10  Karena Musa telah berkata: Hormatilah ayahmu dan ibumu! dan: Siapa yang mengutuki ayahnya atau ibunya harus mati.

11  Tetapi kamu berkata: Kalau seorang berkata kepada bapanya atau ibunya: Apa yang ada padaku, yang dapat digunakan untuk pemeliharaanmu, sudah digunakan untuk korban—yaitu persembahan kepada Allah—,

12  maka kamu tidak membiarkannya lagi berbuat sesuatupun untuk bapanya atau ibunya.

13  Dengan demikian firman Allah kamu nyatakan tidak berlaku demi adat istiadat yang kamu ikuti itu. Dan banyak hal lain seperti itu yang kamu lakukan.”

 CUTE SHEEP

Kalau kita lihat konteks dari Nats Alkitab diatas, Tuhan Yesus memang sedang mencela orang-orang Farisi yang lebih mementingkan memelihara adat istiadat ketimbang perintah Allah. Tapi ada yang aneh.  Bukankah memberikan persembahan ini yang diperintahkan oleh Tuhan? Mengapa Yesus justru bilang itu bukan perintah Tuhan tetapi adat istiadat nenek moyang ya? Waduh, Tuhan Yesus salah ga sih ya? Ya.. ga mungkin salah la ya.. OK, untuk memahaminya, mari kita lihat konteks sejarahnya.

 

Ayo tebak! Dosa apa yang berulang-ulang dilakukan bangsa Israel  di Perjanjian Lama yang tidak kita jumpai lagi di Perjanjian Baru? Yup, dosa penyembahan berhala. Berasa aneh ga sih?  kok di PB Tuhan Yesus tidak pernah mengkritik bangsa Israel tentang penyembahan berhala? Padahal di PL dosa inilah yang ditegur Tuhan dari generasi ke generasi. Anehnya lagi justru kebalikannya, di PB Tuhan Yesus mengkritik kaum Farisi dan Ahli Taurat yang terlalu religius, sampai-sampai dibilang munafik.  Ada apa ya? Apa yang membuat mereka berubah?  Mari kita dengarkan doa Nehemia ketika bangsanya dijajah oleh bangsa Persia.

 pray_hands

Nehemia 1

6  berilah telinga-Mu dan bukalah mata-Mu dan dengarkanlah doa hamba-Mu yang sekarang kupanjatkan ke hadirat-Mu siang dan malam bagi orang Israel, hamba-hamba-Mu itu, dengan mengaku segala dosa yang kami orang Israel telah lakukan terhadap-Mu. Juga aku dan kaum keluargaku telah berbuat dosa.

7  Kami telah sangat bersalah terhadap-Mu dan tidak mengikuti perintah-perintah, ketetapan-ketetapan dan peraturan-peraturan yang telah Kauperintahkan kepada Musa, hamba-Mu itu.

8  Ingatlah akan firman yang Kaupesan kepada Musa, hamba-Mu itu, yakni: Bila kamu berubah setia, kamu akan Kucerai-beraikan di antara bangsa-bangsa.

9  Tetapi, bila kamu berbalik kepada-Ku dan tetap mengikuti perintah-perintah-serta melakukannya, maka sekalipun orang-orang buanganmu ada di ujung langit, akan Kukumpulkan mereka kembali dan Kubawa ke tempat yang telah Kupilih untuk membuat nama-Ku diam di sana.

 

Yup. Inilah janji Tuhan yang dipegang oleh bangsa Israel, yaitu jika mereka kembali mengikuti perintah-perintah Tuhan dan melakukannya, maka Tuhan akan memulihkan bangsa Israel. Bangsa Israel sudah kapok dijajah berulang-ulang, mulai dari kerajaan Babelonia, Persia, sampai Romawi di jaman Tuhan Yesus. Mereka bersungguh-sungguh melakukan perintah Tuhan agar Tuhan memulihkan bangsa Israel. Hal Ini juga yang ditanyakan oleh para murid Yesus sebelum Tuhan Yesus naik ke surga, “Maka bertanyalah mereka yang berkumpul di situ: “Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?” (Kis 1:6)

 

Harapanmereka bahwa Tuhan akan mamulihkan bangsa Israel itulah yang mendorong bangsa Israel kembali kepada Tuhan dan melakukan perintah-perintahNya sedetil mungkin. Saking inginnya mereka lepas dari penjajahan, mereka mulai menambahkan aturan baru yang lebih detail dan berat, inilah yang disebut sebagai adat istiadat oleh Tuhan Yesus, bukan perintah Tuhan. Hal ini juga yang sering dikecam oleh Tuhan Yesus kepada kaum Farisi dan Ahli Taurat.

 

Bagaimana dengan pelayanan kita saat ini? Jangan-jangan kita juga sudah menetapkan standar yang tidak lazim, yang tidak sesuai dengan apa yang Tuhan maksudkan. Saking semangatnya kita ingin menyenangkan hati Tuhan, kita telah mengikuti standar-standar yang salah.  Contoh: Banyak orang begitu semangat dengan pelayanan. Tampa disadari kita punya konsep, pelayanan di gereja itu lebih  mulia daripada pekerjaan kita juga keluarga kita. Konsep mengasihi Tuhan seoleh-oleh identik dengan seberapa kita membayar harga bagi pelayanan kita. Tunggu, saya tidak mengatakan bahwa pelayanan tidak usah membayar harga. Tetapi jika demi pelayanan kita mengorbankan segala-galanya, apakah itu yang Tuhan mau? Bagaimana jika kita sudah mengorbankan semuanya, tetapi bukan pujian yang kita dapatkan melainkan celaaan dari Tuhan? Duh, jangan sampai yach!

 

 Mungkin kita memiliki pelayanan yang luar biasa banyak dan hebatnya, jadi ketua panitia, pengurus komisi, song leader, diakonia, dll. Saking sibuknya pelayanan, ga ada lagi waktu untuk keluarga. Saking sibuknya sampai-sampai waktu untuk bekerja juga dipakai untuk mempersiapkan pelayanan. Trus, kalau persembahan buat pelayanan gereja semangat, tapi kalau buat keluarga, boro-boro, dsb. Mungkin digereja orang seperti ini diacungkan jempol dan dipuji-puji. Tetapi kira-kira apa ya yang ada dibenak keluarga dan pinpinan kita dikantor?   Dan yang terutama, apa yang ada dibenak Tuhan saat Tuhan melihat pelayanan kita? ? Bukankah dalam perikop diatas, Tuhan mencela orang Farisi yang mengabaikan kebutuhan keluarnganya demi persembahan untuk Tuhan? Sebab Tuhan sendiri yang memerintahkan kita untuk menghormati ayah dan ibu kita juga memelihara mereka.

 

Saya teringat pada sebuah kotbah yang disampaikan oleh hamba Tuhan dari Bandung. Dia menceritakan bagaimana dia begitu semangatnya pelayanan, sepanjang hari hanya untuk pelayanan. Kalaupun tidak ada yang dikerjakan, ya buat lebih banyak lagi pelayanan. Mengapa? Ya dengan dalih untuk Tuhan. Seiring waktu, tampa disadarinya anaknya bertumbuh menjauh dari dia. Suatu ketika, anaknya yang masih remaja itu berkata, ” Bagi saya, papa adalah orang asing. Saya tidak mau punya suami seorang Hamba Tuhan” Perkataan itu benar-benar menampar hatinya. Dia baru sadar kesalahannya bertahun-tahun dengan menelantarkan keluarganya. Siapakah yang dapat   menggantikan peran seorang ayah bagi anak-anaknya? tidak ada, selain dirinya. Siapakah yang dapat menggantikan peran seorang suami bagi istrinya? Tidak ada, hanya dirinya. Namun sungguhkah semua yang dia korbankan itu untuk Tuhan? Atau sebenarnya untuk ego dan kebanggaan dirinya sendiri? Ayat tentang barangsiapa yang mengasihi ayahnya dan ibunya lebih daripada Yesus, dia tidak layak bagi Yesus(Matius 10:37) adalah dalam konteks percaya pada yesus, mempunyai resiko akan dibenci oleh keluarganya. Lagipula seharusnya kita mengasihi keluarga adalah dalam rangka mengasihi Tuhan juga. Namun jika Tuhan bukan yang menjadi pusat dari hidup kita, ada hal lain yang menggantikan posisi Tuhan, itulah yang disebut dengan berhala kita.   

 

Saya juga pernah mendengar pengakuan dari seorang pinpinan di ciputra group. Waktu Krisis moneter tahun 98, ketika perusahaan harus melakukan perampingan, maka harus ada pengurangan karyawan. Ketika daftar karyawan disodorkan, dia melihat no.1 di darfar karyawan yang mau di PHK adalah seorang anak Tuhan yang sangat rajin pelayanan, seorang Song Leader,dll. Tapi sayangnya kinerja kerjanya buruk sekali. Maka orang tersebut dikeluarkan. Teman, kalau itu yang kita lakukan, apakah Tuhan sudah dipermuliakan? Sebaliknya, saya rasa justru kita telah menjadi batu sandungan.

 

Coba bayangkan, apakah pelayanan seperti ini juga yang menyukakan hati Tuhan? Ataukah Tuhan juga sedih dan kecewa dengan kita? Jangan-jangan standar yang kita pakai bukanlah yang Tuhan maksudkan sama sekali. Tuhan menginginkan agar Diri-Nya di permuliakan dalam setiap aspek dalam kehidupan kita , bukan hanya kehidupan pelayanan kita digereja. Tidak ada satupun aspek yang sekuler dalam diri anak-anak Tuhan, jika kita melakukan semua hal untuk kemuliaan Tuhan. Dengan demikian, manakah yang lebih penting? Pelayanan, pekerjaan, keluarga atau refreshing? Bukankah jika kita melakukan semuanya untuk kemuliaan Tuhan, itulah persembahan kita yang hidup dan berkenan kepada-Nya? (Roma 12:1)     

 

Teman saya mengatakan, kehidupan kita seperti permainan biji congklak. Ketika disebuah lobang penuh, maka sesungguhnya ada lobang yang kosong. Jika kita hanya terfokus pada satu hal, maka akan ada yang dilantarkan. Waktu yang Tuhan berikan pada ssetiap kita adalah sama. Satu hari 24 jam, seminggu 7 hari. Karena itu kita tidak mungkin melakukan semua hal dan menyenangkan semua orang. Dalam hal inilah dibutuhkan prioritas dan tujuan panggilan hidup yang jelas. Meskipun demikian kita tentu harus meminta kepada Tuhan kebijaksanaan agar dapat mengambil keputusan yang tepat, yang mana yang menjadi prioritas kita pada waktu dan kasus tertentu. Seperti halnya Yesus. Karena Dia tahu apa yang menjadi tujuannya, maka dia tahu kemana dia harus pergi, dan meninggalkan orang banyak(tidak memenuhi tuntutan orang   banyak)

 jesus pray 2

Markus 1:35-38

35  Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana.

36  Tetapi Simon dan kawan-kawannya menyusul Dia;

37  waktu menemukan Dia mereka berkata: “Semua orang mencari Engkau.”

38  Jawab-Nya: “Marilah kita pergi ke tempat lain, ke kota-kota yang berdekatan, supaya di sana juga Aku memberitakan Injil, karena untuk itu Aku telah datang.”

 

Saat itu, Yesus sedang dicari banyak orang? Mengapa? Tentu setelah dia menyembuhkan banyak orang yang menderita dan mengusir setan, semakin banyak orang yang mencari Dia untuk meminta pertolongan. Tetapi anehnya, Tuhan Yesus tidak menemui mereka dan melakukan apa yang orang banyak itu inginkan, tetapi malahan Yesus pergi ke kota lain. Mengapa? karena dengan jelas Dia tahu apa tujuan-Nya datang ke dunia. Bukan untuk menjadi tukang kayu, bukan hanya untuk menyembuhkan orang sakit, tetapi untuk mati di kayu salib. Dan keputusan-keputusan apakah yang Yesus ambil agar seiring dengan tujuan hidup-Nya, Yesus dapatkan setelah dia ke tempat yang sunyi untuk berdoa (ayat 35). Artinya keputusan itu diambil setelah Yesus berkomunikasi dengan Allah Bapa. Jika Tuhan Yesus saja demikian, apalagi kita.

 

Betapa seringnya kita hanya hidup melakukan tuntutan orang banyak dan tetap saja ada yang tidak puas. Betapa sering kita kelelahan tampa arah yang jelas. Hikmat bijaksana apa yang menjadi prioritas untuk dikerjakan, hanya didapatkan dengan kebergantungan kita pada Tuhan dalam doa dan teduh pribadi. Gumulkanlah setiap tawaran pelayanan dihadapan Tuhan. Semua pelayanan adalah baik, tapi sungguhkan pelayanan yang ini yang Tuhan inginkan agar kita kerjakan? Lalu jika diperhadapkan pada pilihan-pilihan sulit, mintalah hikmat pada Tuhan sebelum mengambil keputusan. Jika ada yang kecewa itu tentu wajar, kita tidak dapat menyenangkan semua orang. Selama keputusan kita dapat kita pertangungjawabkan dihadapan Tuhan, untuk kemuliaan Tuhan semata dan untuk menyenangkan hati Tuhan, janganlah takut. Tetapi yang perlu kita kritisi adalah sungguhkah kita lakukan semua itu untuk Tuhan? Atau untuk kebanggaan kita pribadi? Atau karena tuntutan orang banyak? Biarlah kita minta Tuhan yang menyediki hati kita yang terdalam dan menyingkapkannya semua. Sehingga sungguh seluruh hidup kita berkenan pada Tuhan. Kiranya Tuhan menolong kita semua. Amin

 

Mengenang Kasih Setia Tuhan Juni 2, 2009

Diarsipkan di bawah: Testimonial, diary — vonnythay @ 11:02

Minggu malam kemarin, saya dan mama berbincang- bincang panjang. Mama dan papa baru saja pulang dari undangan pernikahan anak teman mereka di kelompok kecil. Mama cerita, ketika dia berbincang-bincang dengan ibu Lyfien. Ternyata ibu Lyfien tidak tahu bahwa mama dulu menjalani kemotherapi. ” Abisnya kok rambutnya ga rontok?” ^ ^

Ya.. kami mengenang masa-masa sulit sekaligus masa mujizat penyertaan Tuhan. Ya kami teringat bagaimana mama terus berharap bahwa rambutnya tidak rontok, walaupun Dr. Henry Nalan bilang bahwa di kemo ke-2, rambut mama pasti habis. mama masih menjawab, ” mudah-mudahan tidak”

Saudara-saudara kami tahu, bahwa secara fisik mama itu tidak begitu kuat. Tidak terbayang bagaimana harus menjalani kemo? Lah, jalan-jalan ke bali dengan mobil saja sudah membuat mama mabok dan muntah. Apalagi waktu hamil saya, kata khu-khu saya mama pernah selama seminggu hanya tidur di ranjang tidak makan apa-apa, hanya es batu. Apakah mama akan kuat menjalani kemo?

Mama begitu yakin dan berharap bahwa dia tidak akan botak, karena itu dia marah saat saya membelikan dia wig. Saya ingat, suatu malam, ketika saya menghadiri persekutuan doa CF. Teman - teman bertanya ingin di doakan apa? saya jawab ” doakan agar rambut mama tidak rontok” lalu semua pada melihat saya dengan wajah bingung.. ” ya.. begitulah doa mama..”  lalu kami semua berdoa.

Memang berat menjalani kemo. mama bukan hanya tertekan secara fisik, tetapi juga secara psikology. Bagaimana tidak, suster saja bingung. ” Dok, pasien dokter ini hamil ya? kok jarum infus saja belum dipasang, dia sudah muntah?” ^ ^ malam harinya mama sulit tidur. sampai saya berdoa untuk mama, dia baru bisa tidur. Ya.. mama begitu bergantung pada doa, baik untuk kesembuhannya amupun ketenangan jiwanya. Saya sering bernyanyi puji-pujian ataupun memasang lagu rohani ketika menemani mama di rumah sakit. Itu membuatnya lebih tenang.

Setiap kali mama menjalani kemo, saya selalu berdoa agar Tuhan menhancurkan setiap sel kanker mama dan melindungi setiap sel baik dalam tubuh mama. Dan inilah mujizat yang terjadi. Jika biasanya orang yang menjalani kemo kulit tubuhnya dan kukunya menjadi hitam, itu sama sekali tidak terjadi pada mama. kulit mama tetap putih bersih seperti biasanya.

 Pada kemo ke 3, rambut mama mulai rontok di bantal. saya menyingkirknnya agar tidak terlihat oleh mama. tapi mama tahu juga. Dia tetap berdoa, supaya dia tidak botak.  Saya memberikannya hair tonik dengan harapan membantu mengurangi kerontokan. Puji Tuhan, kerontokanya berhenti. Saya yakin ini bukan karena hair tonicnya, tapi karena kuasa doa. Susternya aja bilang, ” pasien dokter henry Nalan tidak ada yang tidak botak kok!” 

Ketika mama menjalani kemo ke-5. Dokter membawa seorang pasien yang tidak mau menjalani kemo karena takut menjadi botak. Dokter menyuruhnya berbincang-bincang dengan mama. ” lihat, rambutnya tidak rontok kan?” Ibu itu kaget melihat mama. mama sendiri bingung, “dokter ini gimana sih, gua sendiri aja lagi ketakutan, kok dia bawa orang lain untuk saya kuatkan ?”tanyanya dalam hati. dan akhirnya ibu itu mau menjalani kemo. Walaupun kenyataan dikemudian hari rambutnya mengalami kerontokan parah. setelah kemo 1, setengah rambutnya sudah rontok. Ramuan yang mahal dari sensei pun tidak mampu menahan kuatnya efek samping obat kemo.

Akhirnya mama berhasil menyelesaikan 6x kemo dengan kekuatan dan anugrah dari Tuhan. Sebuah kelegaan besar karena ternyata Tuhan sungguh mengabulkan doa mama. Ketika mama control ke dokter lagi, papa beri tahu dokter tentang rahasia mengapa rambut mama tidak rontok, hanya karena banyak berdoa pada Tuhan Yesus. Sang dokterpun tersenyum, ” ya, kalau itu saya percaya, pasti karena doa”

Tidak terasa setahun sudah berlalu sejak mama dioperasi. Akhir bulan April kemarin mama menjalani medical check up secara keseluruhan. Puji Tuhan, hasilnya bagus semua. Semuanya bersih dan baik. bahkan beberapa titik yang ada sebelum operasi sekarang hilang dan bersih. Tiada kata yang dapat kami ucapkan selain, ” Terima kasih Tuhan untuk kebaikan-Mu”