The Diary of God’ Love

Just another WordPress.com weblog

Behind the Scene ” Ciri Khas” Agustus 21, 2009

Diarsipkan di bawah: diary — vonnythay @ 08:35

Waktu aku terima sms dari Evi, yang meminta aku untuk membawakan renungan di jogging PERSPEKTIF di pantai Ancol, jujur aja agak ragu. Soalnya uda lama banget engga bawain renungan. Terakhir bawain renungan itu di PD CF. itupun hanya diminta sharing pelayanan. Walaupun jujur aja saat itu aku jadi bingung sih, karena pengalaman pribadi hanya bisa dijadikan contoh atau kesaksian tetapi bukan jadi pedoman. Karena pengalaman itu sifatnya subyektif. Tapi mungkin terbentur karena daku bukan lulusan STT, jadi tidak diperbolehkan. Ya sudah lah.. terima saja dengan senang hati.

 

Teringat minggu lalu. Entah bercanda ataukah serius. Hendra mengatakan Kak Sam takut kalau dia terlambat datang kotbah di PERSPEKTIF karena pinpin sesi di puncak, berangkat dari sana jam 2. Jadi, kalau terlambat, katanya minta Vonny saja yang membawakan. Ueee…. Bercanda kau! “ Tapi Kak Sam yang bilang gitu loh!”, kata Hendra. “ Ogah.. ga mau. Minta ci Angel saja yang gantiin! Kenapa harus gua?!” Eh, keesokan harinya Kak Sam bicara hal yang sama di YM. Hahhahaha. Gubrak! Kata Kak Sam, “ Hendra uda setuju kok!”

“ Engga mau.. ya engga mau… gua mana bisa berkotbah! Gua bisanya nulis”

“ Eh, ya uda tulis saja yang mau kamu kotbahkan. Nanti tinggal dibaca”

“ wakakakkaka emangnya mau baca puisi? Entar yang ada pada ngakak semua, bukan dengerin kotbah”

“ Hei, jangan membatasi pekerjaan Roh Kudus”

“ tapi ga mau … Hendra bilang entar Ci Angel kok yang gantiin Kak Sam kalau telat”

“ Ya sudah.”

Pada akhirnya Kak Sam berjuang untuk datang ke PERSPEKTIF on time dan tetap menyampaikan kotbahnya.

 

Tapi satu hal yang membuat aku berfikir. Kenapa ya, kok akhir-akhir ini beberapa minta aku membawakan renungan? Jimmy juga minta aku bawain kotbah di persekutuan remaja di Sungai Tiram. Tapi untuk itu sepertinya aku juga belum siap. Ada masalah transportasi juga sih. Karena persekutuannya diadakan malam, dan tidak disedian transport dari gereja, padahal daerah itu termasuk rawan. Hahah.. jadi serem bo.

 

Tapi untuk tawaran ketiga ini, rasanya tak ada alasan bagi aku untuk menolak. Toh dibawakan di lingkup teman-teman sendiri, dalam suasana informal. Ya.. sudah iyakan saja. Dan mulailah aku persiapan.  Hari Selasa aku mulai mengetik bahan renungan yang ingin aku sampaikan.

 

 Hari minggu, aku dan AKKku ngobrol di artha gading lama banget, sampai dirumah uda jam 9 malem. Menjelang mau tidur, ga bisa tidur. Tegang bo! Aku mencoba membaca dengan bersuara apa yang sudah aku ketik. Trus, mama masuk ke kamar. “ kenapa?”

“ ha…? “ malah gua yang bingung. “ oh, engga Vonny lagi membaca aja”

“ kirain ngomong apa.”

Hahahah jadi salting gini…

Malam itu aku sudah berbaring di ranjang. Tetapi otakku terus berfikir. Ada banyak hal mulai terlintas di kepala. Akhirnya tidur tidak nyenyak. Entah sampai jam berapa baru bisa tidur.

 

Keesokan harinya, harus bagun jam 4 pagi. Kalau biasanya susah bangun pagi, kali ini langsung segar. ya, tegang gini abisnya. Pagi itu Yudi masih bertanya, “ Von, gimana persiapannya?” “ hahah… tegang, ga bisa tidur !” Yudy malah bialng, “ Bagus. Bagus” ye.. ga bisa tidur kok dibilang bagus, guman saya dalam hati.

 

Pagi itu kami jogging bersama di Ancol. Well, bisa lari pagi, dan menyaksikan pemandangan sunrise yang indah. Tidak dapat  menahan untuk memuji Tuhan. Ga perduli di samping g yang lari agamanya apa, but I very enjoy it. Sambil lari juga sambil mikir. Mikirin ilutrasi renungan nanti. Mikir en terus mikir. Jadilah bahan renungan yang lebih kompleks dari pada yang dipersiapkan. Hahahah.. malah ga sempat lagi untuk menulis kerangkanya secara sistematis. Benar-benar pasrah dah ma Tuhan.

 

Sebenarnya ada ketakutan lain dalam diri aku. Teringat saat kebersamaan pengurus CF di pantai Ancol juga. Saat itu kita yang tadinya membayangkan akan enak banget bisa sate bareng di pantai dengan suasana yang berbeda, malahan harus menemui kenyataan bahwa ternyata disana berisik! Lagi serius dengerin Pak Riand menyampaikan FT, eh bentar-bentar ada yang ganggu “ naik perahunya pak! Mumpung anginnya bagus!” “ tidak terima kasih “ “Sewa tikernya! “  ya ilah berisik banget nih orang. Berulang kali bilang ga mau, malah di tanyain terus! Capek dech!

 

Saat itu aku bilang sama salah satu pengurus, tolong bantu doakan supaya saat nanti kita sate, ga ada abang-abang yang nawarin tiker ataupun perahu. Berisik bo! Mana bisa khusuk.

 

Tibalah waktunya. Saat kita mulai gelar koran, beneran, ada yang tawarin naik perahu. Lalu kita tolak. Aku berdoa, “ Tuhan tolong, supaya dia jangan tawarin perahu lagi, jangan ada yang tawarin sewa tikar atau apalah” Dan puji Tuhan saat aku menyampaikan renungan, benar tidak ada yang menawarkan perahu atau tikar. Wah, puji Tuhan banget!

 

Sebenarnya mau mulai juga tegang. Duh gimana bukanya ya? Tapi  puji Tuhan, diluar dugaan aku, teman-teman resposif banget. Aku nanya, mereka mau jawab. Aku mulai menjelaskan mereka menganguk-ngangguk. Jadi bingung, ini kalau uda pada ngerti semua gua ga usa menjelaskan panjang dan lebar dong.Hahahaha.. belum lagi yang kacaunya, uda sampaikan penutup , eh kepikiran ada point yang ketinggalan. Akhirnya balik lagi. Trus uda gitu kan jadinya bingung. Gimana nutupnya? Lah tadikan uda disampaikan penutupnya. Ya uda sedikit diulang dengan versi yang aga berbeda. hahhaaha. Kacau!

 

Haa.. lega.. akhirnya bisa juga. Dan selesai juga. Pulang mandi trus bobo lagi. Kali ini tidur dengan nyenyak. Uaaaaaaaa senaaaaangnya…………zzzzzzzzzzz…

 

Sedikit berbincang dengan Sugi. Yup. Kita bersyukur banget kalau waktu kita remaja dulu ada Lause Linda dan Ko Dicky yang mempercayakan dan melatih kita untuk membawa renungan. Hasilnya kita bertiga, Sandy, Sugi dan aku mulai terlatih membawakan renungan. Walaupun memang dari kita bertiga, aku yang saat itu paling lemah. Wakakakak. Ga napa sih. Masing-masing kan punya karunianya sendiri. Tapi beryukur banget karena mendapatkan kesempatan ini. Jujur kangen juga dengan masa-masa itu.  Karena tidak semua orang mendapatkannya. Kita orang awam dipercayakan untuk membawakan pelayanan mimbar. Ya.. walaupun kecil-kecilan sih. Sugi sendiri sampai terus membawakan ke kampus en gereja lain. Sandy juga yang aktif banget di kampus. Lah.. dulu kan belajar PA juga salah satunya dengan Sandy, belajarnya juga barengan ama AKK gua, Chika en Shy . Wakakak.. Thx anyway

 

Ciri khas Agustus 19, 2009

Diarsipkan di bawah: article, love — vonnythay @ 06:04

(Bahan renungan ini saya sampaikan di jogging bersama PERSPEKTIF tgl 17 Agustus 2009 di pantai Ancol)

Suatu bangsa biasanya memiliki ciri khas, baik itu budaya, etos, dsb. Ambilah contoh bangsa Jepang. Bangsa Jepang terkenal dengan orang-orangnya yang serba cepat. mereka sangat mengharagai waktu dan pekerja keras. Mungkin mereka akan gregetan melihat bangsa Indonesia yang punya etos” santai saja”. Apalagi jam karetnya. ua a a…. (gue juga harus bertobat nich!) namun bangsa Indonesia juga punya cirikhas yang lain, yaitu musyawarah untuk mufakat. Sebisa mungkin segala keputusan dirundingkan bersama dan mencapai kata sepakat. Dibalik itu, sesungguhnya bangsa ini mempunyai rasa sosial, yaitu kebersamaan yang tinggi. Bukankah kita sering mendengar istilah ini, ” makan ga makan yang penting ngumpul”?

Lalu apakah yang menjadi ciri khas dari   orang-orang Kristen? Yup, saling mengasihi. mari kita lihat ayatnya:

Yohanes 13:34-35

34  Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi.

35  Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.”

love

Sebelum Tuhan Yesus naik ke kayu salib, Dia memberikan perintah baru kepada para murid untuk saling mengasihi. Dan kasih inilah yang akan menjadi tanda bahwa kita adalah murid-murid Yesus. Tidakkah teman-teman bingung, mengapa tanda murid Yesus adalah saling mengasihi? Bukan mengerti ajaran Kristus ( doktrin) ? Bukan juga mujizat? Tetapi mengapa saling mengasihi?Jawbannya adalah  karena Allah adalah KASIH. Hukum yang terutama juga adalah hukum kasih. Rasul Paulus mengatakan bahwa sekalipun kita dapat berkata-kata dalam bahasa malaikat (memiliki hikmat yang luar biasa) dan sekalipun kita memiliki iman yang dapat memindahkan gunung (mujizat) namun jikalau kita tidak memiliki kasih, maka tidak ada gunanya, sama seperti gong yang berkumandang dan canang yang bergemerincing. Dan kasih adalah bukti nyata yang dapat dirasakan oleh orang yang belum percaya Tuhan sekalipun.

Suatu hari serombongan pria yang sedang berlari tergesa-gesa tidak sengaja menabrak keranjang apel milik seorang ibu yang buta yang sedang berjualan di pinggir jalan. Apel – apel tersebut jatuh berserakan. Namun ada seorang pria yang berhenti dan mengumpulkan apel-apel itu untuk sang ibu. Setelah selesai semua apel terkumpul kembali di keranjang. Sang ibu mengucapkan, “ terima kasih ya nak. Apakah engkau adalah Yesus?”

Manusia terlahir dalam keberdosaan, sehingga kasih bukanlah sesuatu yang wajar atau otomatis dilakukan. Dalam keberdosaannya, manusia melakukan segala sesuatu untuk dirinya sendiri. Maka kalaupun melakukan perbuatan baik, juga ada tersirat untuk dirinya sndiri, apakah itu untuk amal masuk surga, dsb. Kasih yang tulus hanya dapat diberikan ketika kita sudah lahir baru.  Kasih adalah buah Roh. Artinya kita tidak mungkin memiliki kasih yang tulus jika tidak didalam Kristus. Kita juga tidak mungkin mengasihi jika belum mengenal kasih Allah. Dan kasih itu bertumbuh seiring kedewasaan kita didalam Kristus. untuk dapat mengasihi, maka hidup kita harus dipinpin oleh Roh Kudus.

Dalam kenyataannya mengasihi dengan tulus bukalah semudah membalikan telapak tangan. Ada kalanya kita juga harus belajar untuk mengasihi sesama kita dengan kasih yang tulus, seperti kasih Yesus kepada kita.

Kita dapat belajar untuk mengasihi jika kita sudah mengalami perubahan paradigma didalam Kristus. Manusia yang sudah jatuh kedalam dosa yang belum mengenal Kristus, tujuan hidupnya adalah untuk dirinya sendiri (self centre). Sedangkan kita yang sudah di dalam Kristus tidak lagi hidup untuk diri kita sendiri, melainkan untuk memuliakan Allah (God centre). Hidup kita dipersembahkan untuk Allah. Sehingga ketika kita mengasihi sesama pun adalah dalam rangka untuk memuliakan Allah, dan kita pun harus membantu sesama kita saudara seiman untuk hidup memuliakan Allah juga. 

Jika kita berfikir bahwa uang kita adalah milik kita, maka kita akan memakainya untuk kepentingan kita saja. namun jika kita mengerti bahwa uang dan semua yang kita miliki adalah kepunyaan Tuhan, maka kita akan bijaksana dalam memakai uang. Jika ada sesama kita yang membutuhkan, kita tentu akan bertanya pada Tuhan apa yang dapat kita lakukan untuk dia.

Dalam mengasihi sesama kita, kita juga harus seperti Tuhan mengasihi manusia. Tuhan mengasihi manusia berdosa, tetapi membenci dosa. Disini kita melihat bahwa Tuhan saja membedakan antara pribadi dengan perbuatannya. Tuhan mengasihi manusia secara pribadi tetapi membenci dosa yang dilakukan manusia. Demikian juga dengan kita. Jika ada saudara seiman kita yang melakukan kesalahan, bencilah perbuatan/ kesalahan yang dilakukannya. Tetapi kasihilah dia secara pribadi, sebab Tuhanpun mengasihinya. Jangan karena kesalahan yang dia perbuat, kita juga menjadi benci pada dirinya.

Bagi Tuhan semua manusia berharga dimata Tuhan. Dengan demikian, kita juga harus mengasihi sesama kita, apapun kondisinya. Jika kita tidak memiliki konsep ini, maka kita hanya akan mengasihi orang yang layak untuk dikasihi menurut pandangan kita. Sangatlah mudah untuk mengasihi orang yang baik hati, orang ramah, kaya, dll. Tetapi bangaimana dengan orang yang yang memiliki kecacatan? atau orang-orang yang menyebalkan? Hanya dengan kebergantungan kita dengan TUhan, maka kita baru dapat mengasihi dengan tulus.

Ketika kita semakin banyak belajar tentang kebenaran Firman Tuhan. ini bukan hanya untuk membesarkan kepala kita saja. tetapi ketika paradigma kita berubah, seharusnya itu akan terpancar dalam perbuatan kita sehari-hari. Pembinaan yang kita ikuti seharusnya membantu kita untuk hidup semakin serupa dengan Kristus.

Bagaimana dengan kehidupan kita? sudahkah kasih menjadi cirikhas dalam kehidupan kita? dalam persekutuan? dalam kehidupan keluarga kita? sehingga sungguh  dunia tahu bahwa kita adalah murid-muridNya. Kiranya Tuhan menolong kita semua.

 

Inner beauty- Susan Boyle Agustus 15, 2009

Diarsipkan di bawah: song — vonnythay @ 10:23

Disaat dunai menggembar-gemborkan image tentang kecantikan luar. Seorang Susan Boyle menunjukan keindahan yang luar biasa dari dirinya. Talenta yang luar biasa dan keindahan hati yang terpancar dari suaranya dapat kita rasakan.

Tidak ada seorangpun yang tidak diberi karunia oleh Tuhan. Namun apakah kita bangga menjadi best of our self, not compare with others. Just be Your Self. God Love U