Belajar Berinkarnasi
01 Mar 2010 2 Komentar
in Mission Trip
Berlajar berinkarnasi.. itulah istilah yang disampaikan oleh GI Sonny ketika mempresentasikan tentang mission trip kepada kami. Meskipun sedikit diceritakan, tetapi tentu tidak akan menyelami artinya jika tidak merasakan sendiri.
Saya dan rombongan mission trip bermalam di rumah penduduk di desa. Rumah didesa itu memang cukup beragam, ada yang lumayan baik, ada dispenser, ada TV, ada microwave, ada hair drier,dll. Wah beruntung dech yang dapat rumah itu. Itu memang rumah juragan disana. Beliau adalah distributor yang membeli hasil panen penduduk dan dijual ke kota.
Tapi ada juga rumah yang sangat sederhana, seperti rumah yang saya dan Yurika menginap. Well, atap rumah masih terbuat dari seng dan bamboo. Hanya sebagian dari lantai rumah yang sudah disemen, sisanya masih berupa tanah. Hmm.. boro-boro ada dispenser, gelas yang disuguhkan ke kami saja sudah berwarna kekuning-kuningan. Dan tempat tidurnyapun adalah terkeras yang pernah saya rasakan. Bantalnya juga keras, sampai sampai saya pusing dan terbangun dimalam hari. Mau tak mau saya memakai jaket saya untuk alas kepala, baru saya bisa tidur lagi.
Namun dibalik itu semua saya tetap bersuka cita, mengapa? Karena saya merasakan ketulusan Ibu Prihati, sang tuan rumah. Memang rumahnya sangat sederhana dan tentunya jauh dibandingkan kenyamanan rumah saya di Jakarta. Tetapi menyaksikan ketulusan ibu untuk memberikan yang terbaik untuk kami itu juga yang membuat saya terharu.
Betapa tidak, beliau sudah menyiapkan makan malam dengan nasi dan lauk dalam porsi besar. Well, ga enak hati karena kita memang makan malam hanya sedikit. Saya berusaha menjelaskan ke ibu bahwa saya memang makan malam memang dalam porsi sedikit. Makan malam yang sederhana, berupa nasi, telur dadar, daun singkong dan tempe mendoang meski sederhana tapi memang tetap enak rasanya. Tiba-tiba Yurika menepuk2 meja. Saya terkejut, “ ada apa Yur? ”
“ ada kecoa” katanya sambil tersenyum
Glekk!!!.. makanan yang ada di mulut saya tiba-tiba menjadi susah untuk ditelan. Saya berusaha untuk tersenyum dan tetap melanjutkan makan, walaupun sesungguhnya saya sudah kehilangan selera makan. Saya hanya tidak ingin membuat Ibu Prihati menjadi sedih.
Kami melanjutkan perbincangan kami dengan ibu Prihati. Mereka memiliki 2 orang anak. Yang sulung bernama Samuel dan yang bungsu bernama Sumono. Saat ini Samuel sedang mengikuti kuliah di sekolah teologia di grogol. (Dugaan ci Magda kemungkinan besar di STT Setia) sebab Samuel sempat tidak betah dan ingin pulang, karena di kampusnya mereka harus mandi dan mencuci pakaian dengan air tanah yang merah dan bau. Sang ibu terus mendukung anaknya untuk terus bertahan dan melanjutkan studinya. Solusi yang diberikan adalah menadah air hujan dan memakainya untuk mandi dan mencuci pakaian.
Sedangkan Sumono masih duduk di bangku SMP. Sanyangnya Sumono tidak secerdas kakaknya, begitulah ujar sang ibu. Bahkan Sumono tidak ingin melanjutkan ke bangku SMA tetapi mau bekerja di kantoran. Saya dan Yurika berusaha untuk menjelaskan ke Ibu bahwa alangkah baiknya jika Sumono mau melanjutkan ke bangku SMA, karena ada kemungkinan dia bisa melanjutkan ke bangku kuliah jika ada yang mau mensponsori. Sang ibu berharap kami bisa membujuk Sumono, sayangnya kami tidak punya kesempatan itu. Sumono tidak mau berbicara dengan kami. Malam itu Sumono sudah tidur, sedangkan keesokan harinya dia bermain ke rumah tetangga.
Ibu Priahti masih menawarkan kami untuk mandi dan dia mau masak air panas untuk kami. Tetapi saya dan Yurika tidak mau merepotkan dan tidak mau mandi. Alasan sesungguhnya sih.. takut ma airnya. Abisnya air ditampung di bak besar yang tingginya 1,5 M dan terbuka. Hii.. ga tahu tuh didasar bak ada binatang apa ya? Hohoho tenang walau ga mandi tetep wangi dunk! Kan pakai tissue basah en parfum. Ahhahahaahahah…
Saat kami memasuki kamar tidur yang disediakan, kami melihat ranjang yang cukup besar untuk 2 orang. Dan jika kami lihat ada baju seragam yang digantung, kami tahu bahwa kamar yang kami tiduri adalah kamar Sumono. Kami melihat ada kain selimut tipis yang terlipat rapi. Malam itu Sumono tidur dengan ibunya, sedangkan sang ayah tidur di dipan dekat samping meja makan. Saya terharu melihat semua itu. Saya tahu ibu Prihati berusaha memberikan yang terbaik untuk kami berdua, walaupun yang terbaik itu bagi kami masih sangat minim dibandingkan dengan fasilitas yang biasa kami miliki di rumah. Sebelum tidur saya masih melihat ada kecoa yang lewat di samping tempat tidur dan lantai. Oh Tuhan.. tolong saya untuk dapat tidur. > _ <
Saat saya memejamkan mata saya, terlintas perkataan Ko Sonny yang mengajarkan istilah “ Belajar berinkarnasi”. Pikiran saya menerawang jauh. Ya.. apa ya perasaan Tuhan Yesus saat menjadi manusia. Kan enak banget ya di surga, bersih tampa dosa dan penuh kemuliaan, dihormati dan disembah oleh para malaikat, ya.. sebuah tempat yang sangat sempurna. Tetapi mengapa Dia mau turun ke dunia, tempat yang penuh dengan dosa dn kecemaran. Saya merasa jijik dengan kecoa, tetapi bukankah Tuhan jauh lebih jijik dengan dosa? Di Dunia, Dia dihina, tidak diakui keAllahannya, bahkan untuk ukuran manusiapun Dia mengambil tempat yang paling hina. Lahir dan mati ditempat yang hina, bahkan untuk ukuran manusia. dan aku tidak terbanyang bagaimana rasanya Dia yang suci menanggung dosa kita yang begitu banyak dan menjijikan.
Hmm… saaat kita berusaha memberikan yang terbaik untuk Tuhan, itupun sesungguhnya jauh dari sempurna bagi Tuhan. Sama seperti ibu Prihati yang berusaha memberikan yang terbaik untuk kami, tetapi yang terbaik itu sesungguhnya masih minim bagi kami. Tetapi walau bagaimanapun juga, kebaikan dan ketulusan hati ibu Prihati sudah membuat hati saya terharu. Ya.. saya juga tahu, jika kita memberikan yang terbaik buat Tuhan, meskipun itu sangat minim dan jelek bagi Tuhan, tetapi itu juga akan membuat Tuhan terharu. Ya.. Tuhan melihat hati kita bukan sekedar apa yang kita beri.
Belajar berinkarnasi.. Hmm.. jujur itu berat buat aku. Yurika saja keesokan harinya langsung pilek karena kedinginan. Desa itu terletak di pinggir hutan, sehingga udaranya memang dingin saat malam dan pagi hari. Untungnya tidak ada nyamuk sih.
Saat teman saya bercerita tentang enaknya fasilitas yang mereka dapatkan di rumah juragan desa, ada sih terbesit sedikit rasa iri. “ Eh, kok enak banget ya?!” tetapi jika saya kembali mengingat perkataan ko Sonny tentang “belajar berinkarnasi”, hati saya melimpah dengan syukur. Ya.. saya boleh mendapatkan sebuah pelajaran yang indah. Tapi kalau ditanya, mau lagi ga? Jujur ya… kalau bisa sih engga mau.. hahaahha. Bisa-bisa ogut kayak kambing kalau disana jika harus tinggal berhari-hari atau berminggu-minggu, cos engga mandi bo!!!!!….ssstttt!!!!….
Mar 03, 2010 @ 11:33:33
wah…pasti ini menjadi pengalaman berharga untuk kamu ya…sehingga bukan hanya mencintai jiwa-jiwa terhilang tetapi juga cinta Indonesia
Mar 04, 2010 @ 01:56:08
Benar ini pengalaman berharga sih, tapi perasaan dari tulisanku tidak ada kata-kata cinta Indonesia tuh! Bpk ambil kesimpulan dari mana? heheheh