Mengapa Berbeda?


Selembar kertas dan sebuah bolpen ditangan orang yang berbeda akan menghasilkan sesuatu yang berbeda. Ditangan seorang anak batita, kertas dan bolpen itu hanya akan menghasilkan coret-coretan yang tidak berarti. Jika anda memberikannya kepada seorang kartunis, maka akan dihasilkan cerita manga yang menarik.  Jika kertas dan bolpen itu ada ditangan seorang penjahat yang sedang menculik seorang anak, mungkin kertas itu akan dipakai untuk menulis surat ancaman untuk memeras. Dan jika kertas dan bolpen itu ada ditangan seorang pengusaha, mungkin akan menghasilkan kontrak dagang. Jika kertas dan bolpen itu berada ditangan seorang pendeta, mungkin akan dipakai untuk menuliskan catatan kotbah untuk membangun jemaat.Lihatlah, sebuah benda yang sama tetapi berada ditangan orang yang berbeda akan menghasilkan sesuatu yang berbeda juga.

Demikian juga dengan hidup ini. Tuhan memberikan kepada kita waktu yang sama yaitu 24 jam untuk sehari dan 7 hari untuk seminggu, namun setiap orang akan memakai semua itu secara berbeda. Ada orang mengeluh dan berandai-andai, saya seperti ini karena saya tidak seberuntung dia yang diberikan harta yang banyak, orang tua yang baik, otak yang pintar, wajah yang cantik atau tampan, dll. Kita sering kali menyalahkan Tuhan dan orang lain atas semua yang terjadi didalam kehidupan kita. Jangan salahkan saya , jika saya mencuri, sebab Tuhan tidak ada yang mau menerima saya untuk bekerja dan saya terlahir sebagai orang miskin. Jangan salahkan saya jika saya mudah marah, karena saya dibesarkan ditengah lingkungan keluarga yang suka marah-marah. Jangan salahkan saya jika saya memakai narkoba, itu karena saya memiliki kerluarga yang broken home. Saya juga tidak mau melakukan itu semua, tetapi saya tidak bisa. Saya adalah akibat dari kesalahan-kesalahan orang-orang disekitar saya.

Tidak dapat dipungkiri, kita memang hidup ditengah dunia yang tidak smpurna, itu karena akibat dosa. Namun pernahkah anda melihat, ada 2 orang yang mengalami hal yang mirip, tetapi memiliki respon dan hasil yang berbeda. Ada anak yang sama-sama dibesarkan di tengah keluarga yang broken home, yang satu hidupnya menjadi tidak karu-karuan, narkoba, free sex , dll. Tetapi ada juga yang meski orangtuanya broken home, tetapi hidupnya bukan hanya jauh dari hal-hal negative, sebaliknya dirinya menjadi berkat bagi banyak orang dengan pelayanannya. Ada orang yang sama-sama mengalami patah hati, namun ada yang mati bunuh diri, ada yang jadi hidup melajang/ membiara, ada juga yang langsung cari gebetan baru. Lalu apakah yang membedakannya? Mengapakah setiap orang memiliki respon yang berbeda pada hal yang sama? Percaya atau tidak, setiap keputusan dan respon yang kita ambil itu menunjukan siapakah kita sesungguhnya. Dan kepribadian kita itu juga ditentukan dari bagaimana kita memandang segala sesuatu, baik itu cara pandang kita terhadap diri sendiri, orang lain, masalah yang kita hadapi dan juga pada Tuhan.

Orang yang menganut new age movement yang berpusatkan pada diri sendiri, akan berpikir saya bisa mengatasi denagn kemampuan saya sendiri. Orang yang memandang hidup ini sebagai suratan takdir, akan pasrah dan tidak berpengharapan, bahkan bisa saja menyalahkan Tuhan atas masalah yang dia hadapi.

Luk 11:34 Matamu adalah pelita tubuhmu. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu, tetapi jika matamu jahat, gelaplah tubuhmu

Pengertian “ mata” pada ayat tersebut bukan diartikan sebagi “ mata jasmaniah”, tetapi “Mata” itu diartikan sebagai metafora atas “ the eye of mind atau the falcuty of knowing” Ayat ini mengingatkan kita bahwa betapa pentingnya kita memiliki cara pandang (world view) yang benar. Jika kita memiliki cara pandang yang salah, maka hidup kita akan yang menjadi gelap, sebaliknya jika kita memiliki cara pandang yang benar,maka kehidupan kita akan menjadi terang

 Walaupun orang mengatakan dirinya Kristen, tetapi kenyataannya ada banyak yang tidak memiliki cara pandang yang kristiani. Mengapa? sesungguhnya apa yang sering kita baca dan dengar itulah yang akan membentuk pola pikir kita. Seperti apakah kepribadian seseorang, biasanya dapat kita tebak dari buku apa yang paling suka dia baca, musik atau lagu apa yang sering dia dengar, film apa yang paling suka dia tonton, dengan siapakah dia sering nongkrong, dll. Segala hal yang kita masukan ke dalam otak kita, itu yang kelak akan memberntuk pola pikir kita. Banyak orang berpikir, ya kan semua hanya iseng-iseng, sekali-kali melihat hal2 yang tidak sepatutnya kita kita lihat juga tak menagpa. Menonton film2 yang sadis, horror, kacau balau, juga ga napa-napa toh hanya iseng dan hiburan. Guys, percaya apa engga, banyak hal yang kita pikir hanya sebagai “ hiburan/iseng2” itu terekam di bawah alam tak sadar kita. Hal2 buruk tersebut akan mengganggu kita di saat2 yang juga tidak kita sadari atau duga.

 Pernah ga ngerasain, kalau habis nonton film horror yang benar2 seram, akhirya kita jadi ketakutan ga jelas. Kadang liat cermin bisa muncul bayangan aneh2. kalau di ruangan sendirian bisa kepikiran yang aneh2 juga. Padahal biasanya juga melihat cermin yang sama, berada di ruangan yang sama, juga ga pernah ngerasa apa-apa. Ini tandanya pikiran kita sudah mulai teracuni. Itu sebabnya saya secara pribadi ga suka nonton film yang aneh-aneh, karena saya tidak mau memasukan “sampah” ke dalam otak dan alam bawah sadar saya.

 Sebuah novel best seller ditahun 1771 yang berjudul “Die Leiden des jungen Werther” yang berarti “The Sorrows of Young Werther” yang ditulis oleh Johann Wolfgang von Goethe telah memperngaruhi begitu banyak orang di dunia pada jamannya. Novel yang berasal bahasa german ini telah di terjemahkan ke berbagai bahasa dan beredar di berbagai Negara di Eropa sampai ke Amerika. Pengaruh buruk yang timbul dari novel ini adalah banyaknya orang diberbagai Negara yang meniru cara bunuh diri yang dilakukan oleh tokoh Wether sehingga menghasilkan sebuah istilah populer yakni copycat suicide. Tingkat kasus orang bunuh diripun menjadi meningkat akibatnya. Mungkin banyak orang yang terpengaruh dengan Novel ini dengan berpikir bahwa bunuh diri adalah solusi untuk mengakhiri penderitaan. Bahkan, sampai cara bunuh dirinyapun diikuti banyak orang. 

 Lihatlah, bagaimana perngaruh dari apa yang kita baca dengan apa yang kita pikirkan dan pada akhirnya dengan apa yang kita lakukan. Oleh karena itu perhatikanlah dengan seksama apa yang kita masukan kedalam pikiran kita.

 Itulah sebabnya mengapa rasul paulus mengatakan dalam Roma 12:2 “ berubahlah oleh pembaharuan budimu” kita diubahkan memang oleh kuasa roh Kudus, dan itu melalui Firman Tuhan yang kita baca dan pelajari. Mustahil jika seseorang dapat melakukan Firman Tuhan, tetapi jika dia sendiri tidak mengetahui firman itu sendiri. Mustahil seseorang dapat menjadi serupa dengan Kristus, namun jika dia sendiri tidak mengenal siapakah itu Kristus.

 John 8:32 And ye shall know the truth, and the truth shall make you free

Apakah yang membebaskan orang dari kepahitan, dendam dan luka masa lalu? Apakah yang dapat membebaskan kita dari belenggu dosa dan segala keterikatan? Tidak ada lain, hanya didalam Kristus dan didalam firman Tuhan. Mengetahui memang baru sebuah permulaan. Firman dapat diibaratkan seperti cermin, dimana kita dapat melihat dengan jelas siapakah diri kita. Ada dosa apakah yang kita simpan begitu dalam. Jika kita mau dipulihkan dan diubahkan kita harus berani untuk melihat cermin itu dan melihat betapa buruknya bayangan kita di cermin itu.

Saya pernah memiliki jerawat yang cukup parah. Sampai-sampai saya sendiri takut untuk melihat wajah saya di cermin itu. Tetapi saya harus berani untuk melihatnya dan untuk mengobatinya. Dulu saya pernah berusaha untuk menutupinya dengan bedak. Memang pada awalnya terlihat lebih baik. Jerawat saya tidak terlihat begitu merah, teapi saat sore atau ketika kulit saya mulai berminyak, bedak saya menjadi luntur dan kembali merah-merah itu akan terlihat jelas. Bukan hanya itu, karena sering ditutupi oleh bedak, mengakibatkan pori-pori kulit menjadi tertutup sehingga jerawat baru bisa bermunculan. Pada akhirnya hal tersebut bukan membuat wajah saya semakin baik, tetapi sebaliknya semakin parah.

Langkah berani yang harus saya ambil adalah berhenti memakai bedak dan mulai mengobatinya dengan obat yang tepat. Pada awalnya hal ini membuat saya malu. Merahnya jerawat semakin terlihat jelas di wajah saya. Namun perlahan, karena diobati dengan perawatan yang tepat dan tampa menggunakan make up, jerawat saya mulai membaik dan kemerahannya menjadi jauh berkurang. Kini saya bisa percaya diri tampa harus memakai bedak, karena akar permasalahannya sudah diobati.

Yakobus 1:

23 Sebab jika seorang hanya mendengar firman saja dan tidak melakukannya, ia adalah seumpama seorang yang sedang mengamat-amati mukanya yang sebenarnya di depan cermin.

24 Baru saja ia memandang dirinya, ia sudah pergi atau ia segera lupa bagaimana rupanya.

 25 Tetapi barangsiapa meneliti hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan ia bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya.

Begitulah dengan diri kita. Ketika kita bercermin pada Firman Tuhan dan melihat betapa buruknya sesungguhnya diri kita dihadapan Tuhan. Melalui Firman, kita dapat melihat dosa-dosa yang Tuhan singkapkan. Namun masih ada langkah selanjutnya. Maukah kita datang kepada Tuhan, meminta Tuhan menolong kita untuk taat pada firman dan melakukannya. Atau kita memilih untuk menyangkalnya. Bahwa kita tidak seperti itu. Jika kita menyangkalnya, maka kita menipu diri kita sendiri dan tentu tidak akan ada perubahan apapun. Atau kita juga bisa saja mulai memakai topeng agar terlihat baik dihadapan orang lain. Sebuah topeng dapat dengan mudah dan cepat kita kenakan untuk menutupi “ kejelekan” kita, namun yakinlah akan dengan cepat juga tersingkap siapa kita sebenarnya. Topeng tidak akan menyelesaikan masalah kita, tetapi justru akan membuat kepribadian dan hati kita semakin buruk. Kita bisa berpura2 ramah kepada musuh kita tampa benar-benar mengampuninya, namun keramahan itu akan dengan mudah pudar dan justru akan semakin memupuk kebencian yang ada didalam hati kita

 Satu-satunya jalan adalah datang kepada Tuhan dengan apa adanya kita. Dengan mengakui semua dosa dan kesalahan yang Tuhan telah singkapkan. Mengakui semua kepahitan dan luka masa lalu kita. Mengakui dengan jujur ketidakberdayaan kita untuk mengobati diri kita sendiri. Itulah yang saya namakan membuka topeng dihadapan Tuhan. Ini adalah langkah untuk menuju penyembuhan ilahi. Langkah berikutnya adalah pengobatan. Jujur yang namanya obat itu biasanya pahit, sakit, butuh proses dan waktu. Dan itu yang seringkali Tuhan lakukan didalam hidup kita. Namun maukah kita membiarkan diri kita diobati oleh Tuhan? Dengan cara apa? Berserah dan taat. Jika kita terus menerus beragumen dengan Tuhan tentang apa yang kita pandang baik untuk kita lakukan, kita tidak mungkin bisa sembuh. Jika kita masih menggengam erat semua luka dan keburukan kita, Tuhan pun enggan untuk mengobati. Maukah kita percaya bahwa apa yang Tuhan perintahkan, itu semua untuk kebaikan kita. Maukah kita percaya bahwa apa yang Tuhan perintahkan, walaupun terlihat sulit dan menyakitkan, tetapi itu mungkin untuk dilakukan jika kita berada didalam Dia. Ketaatan inilah yang akan membuat perubahan dalam kehidupan kita. Melalui ketaatan inilah kita dapat menyaksikan kuasa Tuhan dalam kehidupan kita.

Ketika cara pandang kita terhadap Tuhan, diri kita dan sesama mulai berubah, meskipun apa yang kita alami tidak berubah, tetapi kita dapat menjalaninya dengan sikap hati yang berbeda. Saya pernah mengalami hal ini. Saya berada di sebuah kondisi yang tidak saya inginkan dan harus bertahan didalamnya. Pada awalnya saya tidak dapat menerimanya. Hati saya bergejolak dn rasanya ingin sekali untuk keluar dari kondisi tersebut. Tetapi dalam pergumulan saya dengan Tuhan, saya merasa Tuhan meminta saya untuk “stay” untuk alasan yang tidak saya ketahui ataupun mengerti. Ditengah pergolakan batin saya, Tuhan menerangi hati saya dengan Firman Tuhan dan kembali mengingatkan saya tentang makna akan hidup ini. Firman itu mengingatkan saya akan tujuan hidup saya dan mengingatkan saya untuk tetap melakukan yang terbaik untuk Tuhan. Pada akhirnya, saya tetap di kondisi yang tidak mengenakan itu. Tidak ada yang berubah secara kasat mata. Tetapi Tuhan telah mengubah hati an pikiran saya, sehingga saya menjalaninya dengan sikap hati yang bebeda. Jika dulu saya melakukan dengan berat hati, namun sejak saat itu saya melakukannya dengan ringan. Seperti ada sebuah beban yang telah terangkat dari hati saya. Kondisi luar tidak ada yang berubah, namun perubahan cara pandang saya telah mengubah hati saya sehingga saya menjalaninya dengan berbeda.

 Itulah sebabnya pentingnya kita ikut pembinaan dan bertekun dalam Firman Tuhan. Belajar bukan sekedar untuk memperoleh pengetahuan, tetapi biarkan Firman itu merubah “budi” atau cara pandang kita. Firman itulah yang akan merubah hati kita dan merubah karakter kita. Keep growing in Him

Satu komentar (+add yours?)

  1. udienroy
    Jan 24, 2011 @ 15:42:06

    Kunjungan perdana, salam kenal ajah

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.