Selamatkanlah sebelum kita kehilangannya.
20 Feb 2012 1 Komentar
Berita kematian withney Houston telah menggemparkan seluruh dunia. Lagunya yang dulu pernah booming,” we always love you” sering perdengarkan dimana-mana. Namun sangat disesalkan bahwa kematiannya disertai dengan berita negatif tentang kehidupannya sebagai pecandu alkohol dan narkoba.
Mudah bagi kita untuk berkomentar, dia telah melakukan kesalahan, ketika memilih untuk bernyanyi di dunia sekuler. Mudah bagi kita untuk mengomentari kesalahan yang diperbuat orang, bahkan mencibir dia. Namun saya terus berpikir, sesungguhnya kisah kehidupan yang hancur dan kecanduannya pada alkohol pasti telah diketahui oleh banyak orang, minimal oleh orang terdekatnya. Namun berapa banyakkah yang benar-benar peduli kepadanya? Berapa banyak orang yang berusaha menguatkan dia, membantunya utuk keluar dari lembah kekelaman. Saat dia telah salah memilih pasangan hidup dan kehidupan rumah tangganya hancur, berapa banyak orang yang mau membayar harga untuk menolong dia?
Saya sendiri pernah melakukan pelayanan konseling. Jujur, memang tidak mudah untuk berhadapan dengan orang-orang yang bermasalah. Tak jarang, berkomunikasi dengan mereka akan menimbulkan luka dan permasalahan tersendiri. Ini ibarat melayani di lahan semak berduri dan siap-siap saya tertusuk duri. Sering kali saya juga merasa putus asa, ketika merasa orang itu tidak mengalami kemajuan yang berarti. Saya sendiri pada satu titik memutuskan untuk meninggalkan pelayanan konseling ini.
Namun akhir-akhir ini saya diingatkan Tuhan. Ketika saya merasa apa yang saya lakukan itu sia-sia. Tetapi Tuhan menunjukan buah perubahan pada seseorang yang pernah saya konselingin. Dia pada saat remajanya mengalami kekecewaan pada Tuhan dan sempat tidak mau ke gereja. Saya ingat, saat saya justru tidak tahu harus berbuat apa lagi, Tuhan justru menangkap dia dengan cara yang tidak saya duga. Kami bertemu kembali disebuah retret dan kami berbincang panjang. Pada akhirnya, dia bukan hanya kembali ke greja, namun juga aktif melayaniNya. Pada akhirnya, saya benar-benar terkagum-kagum melihat karya Tuhan dalam kehidupannya.
Saya diingatkan Tuhan, bahwa yang bisa merubah seseorang, bukan saya, tetapi hanya kuasa Tuhan. Namun Tuhan juga meminta kita untuk mengembalakan domba-dombanya, mencari yang terhilang, membalut yang terluka dan memberi mereka makan. Ketika kita taat dan melakukan semua itu, janji Tuhan bahwa Tuhan akan menyertai kita dan memberi kita kuasa. Kita tidak melakukannya sendirian.
Saya teringat, saat Tuhan Yesus meminta Petrus untuk mengembalakan domba-domba-Nya, Tuhan bertanya, ” Apakah engkau mengasihi aku?” Sebuah amanah diberikan pada kita, bukan dengan sebuah paksaan atau keharusan yang menjadi beban yang terasa begitu memberatkan. Tuhan meminta kita melakukannya atas dasar kasih kita pada Tuhan. Saya ingat, dalam beberapa kasus konseling, apa yang membuat saya bertahan untuk berdoa dan melayani mereka? Ternyata adalah karena kasih. Ketika saya sungguh mengasihi mereka, dan saya menganggap mereka sebagai sahabat saya, itu yang membuat saya bertahan dan rela membayar harga. Benarlah kata Paulus bahwa kasih itu sabar menanggung segala sesuatu.
Saat ini, dunia merasa kehilangan seorang diva besar. Namun dunia tidak pernah berusaha menyelamatkannya dari kehancuran. Saat ini, mungkin Tuhan menempatkan disisi kita orang-orang yang bermasalah untuk ditolong. Janganlah kita berpangku tangan, hingga suatu saat kita akan menyesal karena kehilangan mereka yang kita kasihi. Lakukanlah dengan atas dasar kasih, kasih kita pada Tuhan hingga Tuhan akan memampukan kita untuk mengasihi mereka. Percayalah, Tuhan akan menyertai dan memampukan kita.
DON’T QUIT. KEEP PLAYING!
12 Feb 2012 Tinggalkan sebuah Komentar
Wishing to encourage her young son’s progress on the piano, a mother took her boy to a Paderewski concert. After they were seated, the mother spotted a friend in the audience and walked down the aisle to greet her.
Seizing the opportunity to explore the wonders of the concert hall, the little boy rose and eventually explored his way through a door marked NO ADMITTANCE. When the house lights dimmed and the concert was about to begin, the mother returned to her seat and discovered that the child was missing.
Suddenly, the curtains parted and spotlights focused on the impressive Steinway on stage. In horror, the mother saw her little boy sitting at the keyboard, innocently picking out Twinkle, Twinkle Little Star.
At that moment, the great piano master made his entrance, quickly moved to the piano, and whispered in the boy’s ear, “Don’t quit. Keep playing.”
Then leaning over, Paderewski reached down with his left hand and began filling in a bass part. Soon his right arm reached around to the other side of the child and he added a running obligato. Together, the old master and the young novice transformed a frightening situation into a wonderfully creative experience. The audience was mesmerized.
That’s the way it is with God. What we can accomplish on our own is hardly noteworthy. We try our best, but the results aren’t exactly graceful flowing music. But with the hand of the Master, our life’s work truly can be beautiful.
Next time you set out to accomplish great feats, listen carefully. You can hear the voice of the Master, whispering in your ear, “Don’t quit. Keep playing.”
Feel His loving arms around you. Know that His strong hands are there helping you turn your feeble attempts into true masterpieces. Remember, God doesn’t call the equipped, He equips the called. And He’ll always be there to love and guide you on to great things.
http://www.lifestream.org/bodylife-quotes-and-humor.php
Komentar Terakhir