The Diary of God’ Love

Just another WordPress.com weblog

Kesukaran Menghasilkan Jiwa yang Kuat Oktober 7, 2009

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — vonnythay @ 04:02

Jangan pernah lupakan bahwa Tuhan mengasihi anda lebih daripada yang dapat anda bayangkan. Biarlah pengertian itu mengalahkan semua perasaan bingung atau frustasi yang mungkin anda miliki selama masa-masa pencobaan. Dia sedang membangun karakter didalam anda, yang merupakan desuatu yang lebih jauh bernilani daripada selembar cek gaji atau sebuah rumah yang besar. Cobaan -cobaan yang berat di dalam kehidupan ini sesungguhnya merupakan bagian dari strategiNya untuk menghasilkan jiwa yang kuat.

from book: ANDA DICIPTAKAN UNTUK MENGALAMI SEGALA KELIMPAHAN, Jim Cymbala, lisht publishing

 

The most Beautifull September 21, 2009

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — vonnythay @ 08:30

Harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan nama.

Jika anda meninggalkan dunia ini suatu saat kelak, apakah yang anda harapkan akan diingat oleh orang tentang anda? Apakah prestasi dan gelar anda? Atau pekerjaan besar yang telah anda lakukan? ataukah kekayaan yang melimpah untuk diwariskan?

Daud adalah seorang raja besar disepanjang sejarah bangsa Israel. Namun bagiku yang terindah dalam kehidupannya bukanlah ketenaranNya, bukan juga kekayaanNya. Tetapi gelarnya yaitu’ orang yang diperkenankan Tuhan’. Bagiku, hati Daud yang terpaut pada Allah adalah harta terindah yang dia miliki, dan itulah yang membuat Tuhan menyertainya dan membuat namanya termasyur.

Abraham, bapak orang beriman, juga adslah seorang pengusaha yang kaya. Namun gelar terindah yang dia miliki adalah ’sahabat Allah’.

Semua hal ini menyadarkan aku. Tuhan, aku tak ingin dikenal karena prestasiku, ataupun kehebatanku. Suatu saat aku hanya ingin dikenang orang sebagai ‘wanita yang dikasihi Allah

 

Suami Rohani??? Juli 11, 2009

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — vonnythay @ 04:38

Entah sudah berapa kali saya mendengar orang yang bercerita tentang peran papanya yang menuntun mereka, seperti, “ papa saya memberi teladan bagaimana memanage waktu anatra pekerjaan, pelayanan dan keluarga”, atau “ ya dia punya papa yang membimbing dia saat dia mengalami masalah”, dll

Hahahahah kadang rasanya iri dech! Abisnya kan aku dibesarkan di keluarga yang tadinya bukan Kristen. Boro-boro dapet teladan bagaimana memanage waktu antara pekerjaan, pelayanan dan keluarga, yang ada kalau kebanyakan pelayanan kena omelan ”ke greja ngapain aja sih? Orang tuh ya ke greja cuma seminggu sekali. Kamu itu bisa ke greja seminggu 3-4 kali” atau “ liat tuh muka jadi jerawatan. Makanya sibuk terus sih di greja, jadi ga rawat muka” waduh, tentang jerawat mah, mau dirawat gimana ya? 24 jam? Kayaknya biasa aja. Lah wong turunan jerawatan juga. Hahahah.. Belum lagi kalau ada keputusan2 yang lain. Kadang aku bersikekeh dengan pendirianku. Ngotot nolak sampe nangis, huhuhuh mau dijelasin sampe mulut berbusa juga percuma, lah kan blue printnya berbeda. Aku pakai prinsip Alkitab, mereka bukan. Tak jarang dulu sering banget merasa kesepian dalam keluarga sendiri. Huhu napa juga g yang beda sendiri? Kadang rasanya begitu lelah, sendirian berdoa untuk keluarga, sendirian ke greja, sendirian yang punya prinsip hidup berbeda….

Ya.. tapi puji Tuhan, semua sudah berlalu. Sekarang, papa uda ga pernah ngomel kalau aku pelayanan. Tak jarang kami sering ngobrol, mengenang kasih setia Tuhan dalam keluarga kami. Hehehhe.. Ya.. memang indah kalau semuanya dalam anugrah Tuhan.

Tapi pengalaman ini membuat aku semakin yakin untuk ga sembarangan ambil keputusan tentang pasangan hidup. Aku tahu gimana rasanya kesepian dalam keluarga sendiri. Dan aku tidak mau hal itu terulang di keluarga yang akan ku bangun nanti. Untungnya walaupun dulu papa dan mama bukan Kristen, tapi masih ada papa dan mama rohani yang terus membimbing dan mendoakan aku. Lah, kalau entar suamiku bukan orang Kristen,. Masa mau cari suami rohani? kan kacau!

A_007

 

One Step Forward Desember 28, 2008

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — vonnythay @ 11:08

Minggu, 28 Desember 2008

Hari ini seperti biasanya saya pergi kegerja bersama dengan kedua orang tua saya. Dan betapa kagetnya saya ketika saya melihat artikle saya yang berjudul “  The Beauty of Diamond” ada di Disiple info untuk edisi January 2009. Waaa.. seneng banget. padahal artikle ini sudah saya tulis setahun yang lalu, dan beberapa bulan yang lalu saya kirimkan ke Desiple Info. Dan tidak menyangka akhinya di publish juga.

MAsih menyimpan impian menjadi seorang penulis. Impian ini muncul saat saya memasuki bangku kuliah. Tidak sangka ternyata menutup tahun 2008 ada perkembangan juga untuk menggapai mimpi saya. Bagaimana dengan tahun 2009? Jujur saya tidak tahu. hanya berharap, jika memang Tuhan mengijinkan semoga suatu hari impian itu bisa terwujud. Saya hanya berharap, kiranya dengan tulisan saya bisa menjadi berkat bagi yang membaca dan juga mewarnai dunia ini denagn nilai-nilai kekristenan. Menyadari sih, langkah menuju ke sana masih jauh, tapi setidaknya perjalanan yang jauh ini telah saya mulai selangkah demi selangkah, tentu saja berasama dengan Yesus.

 

To Where You Are November 19, 2008

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — vonnythay @ 15:35

This is one of my favorite song by Josh Groban. For the first time i heard this song, i though it’s must be Jesus. and so surprisingly to find this video. Just enjoy it! GBU

 

How Great Is Our God (2) Oktober 2, 2008

Diarsipkan di bawah: Testimonial, Uncategorized — vonnythay @ 13:03
Tags: , , ,

Hasil pemeriksaan mama akan keluar hari Selasa depan. Malam itu mereka pergi ke dokter, untuk mengetahui hasil pemeriksaannya. Saya sendiri saat itu harus ke gereja untuk latihan sebagai singer di sebuah seminar Roh Kudus yang akan diadakan hari Sabtu. Sesungguhnya hati saya gundah tidak menentu, tetapi rasa tanggung jawab membawa saya tetap pergi ke gereja.

Baru saja saya hendak menemui teman-teman KTB saya, sekalian untuk latihan lagu-lagu seminar, Hand phone saya berbunyi, dan itu dari koko. Saya keluar ruangan. koko mengatakan hasil pemeriksaannya, dokter mendiagnogsa, mama terkena kanker stadium 3. Kaki saya langsung lemas mendengar semua itu. Dokter mengatakan agar mama segera di operasi besok, namun keluarga kami mengulur waktu, minta lusa saja dioperasinya.
Kami memang masih ragu akan semua itu, rasanya tidak percaya. Saya menyarankan, agar koko minta saran dari dokter Bernadeth, dokter umum dekat rumah kami, tempat biasa kami sekeluarga berobat jika sakit.

Saya tutup Hp saya dengan lemas. Kanker? bagaimana mungkin. Saya menjatuhkan diri duduk di kursi dekat depan tangga gereja dilantai 2. Hati yang hancur, bingung, kacau… sungguh tidak tahu harus bagaimana. Saya menelpon Pak Riand dan menceritakan hasil pemeriksaan tersebut. Pak Riand minta saya sharing ke Pak Gunung, sebab adiknya kena kanker getah bening. Beberapa saat saya berusaha menenangkan diri, berusaha menenangkan kekacauan hati ini. Saya tahu saya sudah meninggalkan ruangan terlalu lama, saya harus kembali.

Saya menemui teman-teman KTB saya. Mereka sedang bersenda gurau, menyaksikan foto-foto sugi di jepang. Saya berusaha untuk bergabung dalam suasana itu, tetapi separuh hati dan pikiran saya tidak ditempat itu. Lalu kami mulai latihan puji-pujian untuk seminar. Akhirnya saat menyanyikan puji-pujian itulah sukacita dan pengharapan tumbuh dalam hati saya. Saya tahu, saya punya Tuhan yang besar dan dasyat. Dan akhirnya saya dapat riang kembali. Bahkan salah seorang teman saya sempat berkomentar, kalau hari ini saya terlihat riang, hei?! yang benar saja? tapi mungkin itulah sukaita yang melampaui akal pikiranku yang Tuhan berikan.

Malam itu, seisi keluarga kami begitu tegang. Dokter bernadeth menyarankan agar mama membawa hasil pemeriksaan ke RS. Husada dan berkonsultasi dengan seorang dokter, jika diminta untuk tes ulang, sebaiknya tes ulang. Saat mendengar itu mama menjadi gelisah. jujur saja tes terakhir, itu membuat mama takut, dan tidak mau lagi menjalaninya kembali. Setelah berdiskusi dengan Khiw Chiang (adik mama), kami setuju agar mama tidak perlu menjalani tes ulang, takut kalau kondisi mama semakin memburuk. LAgi pula hasil tes nya mengatakan, semua organ tubuh mama semuanya berfungsi dengan baik, dan sel kanker tidak menyebar kemanapun, sehingga harus segera melakukan tindakan operasi.

Keesokan karinya (hari Rabu) saya sharing dengan Pak Gunung, dan Pak Gunung meminta saya cerita ke Bu Lifyne, istrinya, karena sepupunya ada yang kena kanker serupa stadium 4, dan sudah 4 tahun dari operasi dan kemoteraphi, dan masih sehat sampai sekarang. Siang itu Pak Gunung dan Ibu Lifyne datang mengunjungi mama, berdoa bersama dan menguatkan kami.

Malam itu, mama didoakan di Persekutuan Doa Rabu Malam di gereja. Pak Riand memberitahukan pada Eirene perihal sakit mama. malam itu Eirene dan Dicky sms saya. Dan keesokan harinya satu per satu teman-teman saya sms dan telpon saya dengan kaget-kagetan. Hari itu saya cuti kerja. Saya masih berdoa agar Tuhan melakukan mujizat, agar mama sembuh tampa dioperasi. Bukankah tidak ada yang mustahil bagi Tuhan?

Sesampainya saya di Rs, saya mendapati Eirene, Andy , GI. Ruth dan GI Michael sudah tiba di Rs. Mereka berdoa untuk mama. dan hampir semua teman-teman saya mendukung dalam doa, bahkan ada yang berdoa puasa. Saya berkata pada mama, agar dirinya tenang, sebab ada begitu banyak orang yang mendoakan mama. Disisi lain mama sesungguhnya mengkhawatirkan saya. Mama takut jika orang akan berfikir bahwa ini ada turunan. PAdahal kakek dan nenek saya tidak ada sakit kanker. Mama khawatir, karena samapai saat ini saya pun belum mendapatkan pasangan hidup. Khawatir dengan pemikiran orang, itu sebabnya mama minta agar tidak banyak yang tahu, bukan karena mama, tapi karena rasa sayangnya pada saya. Saya hanya menjawab, ma, vonny ini darahnya papa, sifat Vonny dan fisik vonny ini mirip sekali dengan papa, jadi tenang saja, sudah cukup dapet turunan jerawat dari papa. :) tentang pasanagn hidup, tenang saja, jika dia memang mengasihi Vonny, dia akan terima semua keadaan Vonny apa adanya. Jika tidak, ya sudah, berarti bukan untuk Vonny. Dari semua ini, akan terbukti siapa yang benar-benar sayang Vonny.

Mendengar semua itu, mama terlihat lebih tenang. Lebih-lebih mengetahui begitu banyak yang sayang padanya dan mendoakannya. Mama sudah mengenakan baju operasi dan dibawa ke ruangan pra opersi. Namun tunggu punya tunggu, dokternya belum datang juga. mama bertambah cemas. Saya diijinkan suster untuk menemani mama di ruang pra operasi. Saya praise and worship sambil duduk dekat ranjang mama, dan mamapun tertidur, padahal obat bius belum diberikan. Saya sms teman-teman saya, minta tolong doakan dokternya. kok belum datang. Semoga diberikan ketenangan hati dan hikmat dalam menjalani operasi. Setelah menunggu 45 menit, akhirnya dokternya datang dan mama terbangun. Operasipun dimulai.

Saat itu, saya masih berdoa dan berharap Tuhan mengadakan mujizat, segingga mama tidak perlu dioperasi. Praise and worship terus saya naikan. Namun waktu terus berlalu, dan operasi terus berlangsung selama 4 jam. Dan setelah selesai, saya melihat mama keluar dari ruangan operasi dengan wajah yang pucat, dibawa ke ruang rawat inap. Papa yang begitu cemas sampai sakit kepala. Tapi Puji Tuhan operasi berjalan dengan baik, walaupun hati ini juga kecewa, mengapa Tuhan tidak mengadakan mujizat seperti yang saya harapkan.

Malam itu saya menginap di rumah sakit, menunggu mama. Teman-teman dari PS. Zion datang seusai mereka latihan PS. Mereka menemui saya di lobi bawah, karena mama tidak boleh dikunjungi untuk sementara waktu. Mereka berdoa bersama, berdoa untuk mama. Malam itu juga teman-teman dari College Fellowship juga datang seusai mereka rapat. Mereka tetap datang meski saya larang. Disisi lain saya tahu, sesungguhnya mereka sangat peduli dan sayang pada saya.

Menjagai seorang mama ternyata tidak mudah. Begitu mama tersadar, dan melihat saya yang menungguinya di rumah sakit, mama malah minta saya tidur. karena tidak mau berdebat dan membuat mama banyak pikiran, saya memejamkan mata saya. Awalnya mau pura-pura tidur saja, tetapi begitu saya membuka mata saya, saya lihat mama sedang menatap saya, kembali bertanya, ” kenapa tidak tidur?”  mau tak mau saya kembali memejamkan mata saya. dalam hati saya bertanya, ” ini siapa yang jagain siapa sih jadinya?”

Keesokan harinya saat mama bangun, saya terkejut juga, melihat wajah mama yang sudah tidak pucat. Kok cepat sekalinya? Lalu teman-teman yang masih terus sms saya, menguatkan dan berdoa untuk kesembuhan mama.  Saat itu mama terus menerus bertanya, hasil patology nya apa? kanker bukan? karena sampai saat ini mama tidak percaya, kalau mama kena kanker. saya dan teman-teman juga berdoa semoga hasil lab patology menujukan bahwa ini tumor jinak saja. Sampai saat ini mama masih menyimpan pertanyaan , ‘mengapa saya yang harus kena penyakit ini?” sebuah pertanyaan, yang meskipun berulang kali saya berusaha menjawabnya, namun seperti tidak juga bisa diterima oleh mama sepenuhnya.

Seminggu kemudian, hasil lab keluar, mengatakan bahwa mama harus menjalani kemoterapi sebanyak 6x. Mama shock mendengar hal itu. kata mama, rasanya dia ingin berteriak. mama menghubungi saya yang sedang berada di kantor. Mama bertanya, vonny ada doakan mama tidak? tentu saja, bagaimana mungkin tidak. Tetapi sekali lahi kenyataan itu membuat mama terpukul.

Hatiku begitu kacau. sekali lagi Tuhan menjawab “tidak’ untuk doa saya. Rasanya begitu kecewa. sepertinya sudah tidak ingin berdoa lagi. Tetapi sekali lagi TUhan menguatkan saya, denagn mengingatkan saya pada renungan yang pernah saya tulis sendiri beberapa bulan yang lalu, yang pernah dimuat dalan buku renungan harian College Fellowship yang berjudul, ‘ Disaat Tuhan membisu”.

Minggu itu adalah minggu terberat yang harus saya alami, belum cukup mama yang amsih dirawat dirumah sakit, pembantuku tdiak betah dan minta pulang. Pernah suatu malam saya hanya menangis, bertanya mengapa Tuhan memberikan cobaan seberat ini, bahkan kepada mama dan papa yang baru saja percaya. Tidakkah iman mereka gugur? Mengapa pulan Tuhan harus menjawab doa say bersamaan dengan pencobaan yang begitu berat? tidakkah Tuhan punya cara lain yang lebih enak? Seluruh tenaga saya terkuras, baik fisik, emosi dan rohani. Suatu keadaan yang benar-benar kacau. Tetapi saya tahu, Tuhan tetap menopang saya dan menjaga langkah kaki saya dari jalan yang salah.

Dalam ketidak mengertian, saya belajar percaya, bahwa Tuhan tetap baik. Disaat semua terasa gelap, saya belajar mempercayai hati Tuhan, bahwa tidak mungkin ada kejahatan didalam hatinya.

Suatu saat, setelah mama pulang dari RS. Saya baru saja pulang dari kantor, mama menghampiri saya dengan antusias dan berkata, ” Von, Tuhan itu baik ya.” Papa juga dengan sukacita mengatakan hal yang sama. Rasanya tidak percaya, bagaimana mungkin perkataan itu bisa keluar dari mulut mereka. Akhirnya mereka bercerita, mereka sangat yankin bahwa Tuhan tetap memimpin dan menagtur segala yang terbaik untuk pengobatan mama. Menuntun pada dokter yang tepat, pada saat yang tepat dan bahkan untuk biaya pengobatan yang begitu besarnya, Tuhan juga cukupkan. Saat mendenagr seua itu, hati saya begitu terharu. Ya.. Tuhan, sungguh pada akhirnya mereka dapat melihat kemuliaan-Mu, merasakan penyertaanMu, walaupun mama tetap harus menjalani operasi dan kemoterapi dan tidak menagalami mujizat yang spektakuler seperti yang saya harapkan, namun mereka tetap dapat merasakan kasih Tuhan. Saya juga akhirnya mengerti, tanagn pemeliharaan Tuhan dapat kita rasakan lewat uluran tangan setiap orang percaya.

Pada suatu malam, saat saya sedang berdoa, sekali lagi Tuhan berkata dalam hati kecil saya, ” badai ini akan segera berlalu, dan kamu bersiap-siaplah menerima sesuatu yang  indah dari Aku.  Sebab Aku sedang mempersiapkan sesuatu yang indah bagimu.”

 

How Great Is Our God (1) Oktober 1, 2008

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — vonnythay @ 14:57

Sebuah pergumulan terberat yang Tuhan ijinkan menimpa keluarga kami. Namun juga sebuah kisah akan kasih penyertaan Tuhan kepada kami sekeluarga, dan sebuah jawaban doa selama belasan tahun agar kedua orang tuaku menerima Yesus sebagai Tuhan dan juruselamat. Tuhan menjawab doa saya dengan cara yang tidak saya inginkan namun ini semua adalah sebuah pembelajaran akan iman yang sungguh tidak mudah. Namun saya tetap belajar percaya kebaikan hatinya, disaat tergelap dalam kehidupan kami. Sebuah kisah yang saya simpan, namun kini saya ceritakan untuk kalian, sebagai kesaksian akan penyertaan-Nya yang sempurna.

………

……………………..

…………………………………………….

Sudah beberapa bulan saya mengetahui adanya benjolan di tubuh mama. Mama sudah berobat ke sen sei, namun belum juga menunjukan kemajuan, bahkan semakin membesar. Sudah beberapa bulan juga saya mengambil doa puasa selama 2-3 hari dalam seminggu. Doa dan terus berdoa, walau hati kecil saya berkata, semua ini tidak berbahaya bagi mama.

Suatu malam, sekitar bulan Maret 2008, ketika saya berdoa, Tuhan berbicara melalui hati kecil saya, ” Keadaan akan semakin memburuk, tetapi kamu, kamu tidak boleh hanya melihat apa yang ada didepan mata. KAmu harus melihat semuanya dengan iman. Kamu pernah berdoa agar kemuliaan-Ku dinyatakan ditengah keluargamu, dan Aku akan menjawabnya, Aku akan menyatakan kemuliaan-Ku ditengah keluargamu, sehingga mereka percaya, bahwa Akulah TUHAN.”

Jujur saja, saya tidak mengerti apa maksud Tuhan, juga tidak pernah membayangkan semua kejadian yang kelak akan saya alami. Sebuah badai terbesar yang kini telah lewat. Dan Tuhan sungguh menyatakan kemuliaan-Nya.

Tepat pada hari Paskah 2008, koko mengundang kerabat terdekat untuk syukuran atas pindahnya mereka ke rumah baru. Sehari sebelumnya, koko mengadakan perayaan ekaristi untuk pemberkatan rumah barunya. MAlam itu saya berbisik pada mama agar minta didoakan oleh Pastur Harry Liong. Dan mama mau. Namun tampa saya sadari, koko menyimpan kecurigaannya, mengapa mama minta didoakan kesembuhan.

Pada Hari itu juga saya berdoa dan bergumul agar papa dan mama mau menghadiri KKR Paskah. Awalnya mereka ragu dan tidak mau, karena masalah waktu yang mepet dan kendaraan. Namun sekali lagi, iman membawa papa dan mama menghadiri KKR tersebut. Dan lewat pemberitaan Firman itulah, sekali lagi Tuhan berbicara di hati mereka.

Keesokan harinya, hari senin, saya pulang dari kantor dan mendapati ada seorang sen sei lainnya yang datang ke rumah saya. Akhirnya setelah sen sei itu pulang, mama bilang, setelah menurut hasil pemeriksaan sensei,
mama bukan tumbuh tumor atau sejenisnya, tetapi kena guna-guna. Hati saya terkejut mendengarnya. Guna-guna? siapa yang mau guna-gunain mama? Saya hanya tahu, bahwa kuasa Tuhanlah yang paling besar. MAlam itu saya ingin sekali menyampaikan Injil dan menantang mama untuk terima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan juruselamat. Saat itu saya berdoa dulu, dan Tuhan sekali lagi berbicara dalam hati kecil saya, ” Jangan, bukan sekarang. waktunya belum tepat. Tunggu beberapa hari lagi.” beberapa hari lagi? mengapa? saya berusaha tetap menginjili mama. Namun saat berbicara dengan mama, tak satupun kata tentang Injil dapat keluar, bibir saya seperti kelu, Saya hanya tahu, Tuhan menahan saya. Akhirnya saya urungkan niat saya.

Keesokan harinya, hari Selasa, Pagi itu kaka ipar ( A So) saya menemui saya. Dia menanyakan, mengapa hari Sabtu yang lalu mama minta untuk didoakan kesembuhan? sebenarnya mama sakit apa? Saya serba salah. mama sudah minta saya untuk tidak memberitahukan pada siapapun. Kini, apa yang harus saya lakukan? ” von, kalau mama hanya sakit pegal linu, atau rematik, atau yang lainnya sih ga papa. Tapi ini berbahaya tidak? amit-amit, misalnya kalau ada benjolan, itu harus cepat diobati, von!” Saya tersentak kaget. ingin sekali untuk memberitahukan, namun bagaimana kalau nanti mama marah. Akhirnya karena sudah waktunya saya berangkat ke kantor, pembicaraan kami terputus.

Siang itu, beberapa kali koko menelpon ke HP saya. Akhirnya saya angkat juga. Dia bertanya hal yang sama, dan memaksa saya untuk berbicara, ” Von, kalau kamu ga jujur, jangan sampai menyesal dikemudian hari” Akhirnya mau tak mau saya menceritakan semuanya. koko mengatakan, mama harus tetap diperiksa ke Rumah Sakit dan dia minta agar saya membujuk mama agar mau menjalani pemeriksaan. Sore harinya, sepulang kerja, saya mampir ke Rs. Hermina untuk mengambil brosur pemeriksaan dan menyampaikannya kepada mama, namun sekali lagi mama menolak untuk diperiksa.

Keesokan harinya, hari Rabu, sepulangnya saya dari dari kantor, betapa terkejutnya saya melihat kakak ipar saya sedang menangis dan mama akhirnya mau untuk menjalani pemeriksaan. Rupanya A So berhasil membujuk mama, memohon kepada mama sampai menangis, karena takut kehilangan.

Keesokan harinya, hari Kamis, A So mengambil cuti dari kantor dan menemani mama seharian menjalani pemeriksaan. Dimulai dari Rs. Hermina, lalu mendapat surat referensi menemui Dr. Henry Nalan di Rs. Omni di Pulo mas. Menjalani semua tes secara menyeluruh. Hari itu masih belum selesai, tes masih harus dilanjutkan keesokan harinya.

Hari Jumat, pagi hari itu, saat saya sedang gosok gigi, mama memberitahukan padaku bahwa ada ‘barang’ di kamar tamu tempat mama tidur selama 2 tahun terakhir, karena kamar mama dan papa dipinjamkan kepada koko saat koko menikah. ‘barang’ itu dibungkus kain kuning, ditemukan disebuah koper di atas lemari. Mama dan papa curiga itu adalah ‘barang’ yang dibawa pulang oleh paman saya (adik papa) yang sekarang sudah menikah dan tinggal di Bangka. Saat itu, saya minta agar ‘barang’ itu dibuang saja. Tapi mereka tidak mau, karena tidak boleh sembarangan. Lalu saya menawarkan bagaiman kalau saya panggil hamba Tuhan, saat itu mereka ragu dan masih menolak.

Tetapi saya tidak bisa tinggal diam. Saya menelpon GI. Riand dan menceritakan semuanya. Dia tidak keberatan, asalkan mama dan papa setuju. Pak Riand juga menghubungi GI Gunung Mas Ton, karena Pak Gununglah yang membawahi wilayah Agung Barat dan memang sudah pernah mengunjungi rumah kami. Kata Pak Gunung, ini kesempatan untuk menantang kedua orang tua saya untuk percaya Tuhan. Saat itu tiba-tiba saya teringat pada perkataan Tuhan, bahwa Dia akan menyatakan kemuliaan-Nya ditengah keluarga saya. Apakah ini maksudnya?

Sore harinya, sepulangnya saya dari kantor, akhirnya papa yakin agar ‘barang’ itu dibawa oleh Hamba Tuhan. Ternyata papa sudah berbincang-bincang dengan ko Gunawan Hilim, dan dia berhasil meyakinkan papa, bahwa Tuhan jauh lebih besar kuasanya dari apapun. Akhirnya mama minta agar malam itu juga jimat itu dibawa pergi. Saya mengubungi Pak Gunung dan Pak Riand. Pak Gunung akhirnya langsung datang ke rumah saya langsung setelah mengantar istrinya ke Pluit. Setelah berbincang-bincang dengan kedua orang tuan saya, akhirnya mereka mau untuk menerima Yesus sebagai Tuhan dan juru selamat. Kemudian Pak Riand menyusul datang, tepat saat Pak Gunung sedang memimpin doa menerima Yesus. Saat itu hati saya terharu, teringat pada perkataan Tuhan, ” tunggu beberapa hari lagi” dan sungguh, hanya beberapa hari, bahkan tidak sampai seminggu dari hari senin itu, pada saat yang tepat, mama dan papa menerima Yesus sebagai Tuhan dan juruselamat pribadi mereka. Semua yang Tuhan katakan pada saya, benar-benar terjadi.

Setelah itu Pak Riand dan Pak Gunung berdoa bagi kekudusan rumah kami, dan meyerahkan perlindungan kami sekeluarga ke dalam tangan pemeliharaan Tuhan yang berkuasa. ‘barang’ didalam koper itu dibawa oleh pak gunung, lengkap dengan kopernya untuk dibakar di pastori.

Malam itu, kami malam malam bersama. Dapat saya lihat papa yang begitu bersukacita. Sempat terlintas keraguan, apakah sungguh mereka menerima Yesus sebagai Tuhan dan juruselamat, ataukah hanya supaya ‘barang’ itu di bawa pergi oleh hambaNya? namun saat mendengar papa berkata dengan sukacita, ” Yen Cu Ce (sepupu mama) pernah bilang, di bumi kita bersatu, di surga kita bertemu. Dia bilang, Kit, kalau kamu nanti dibabtis, saya pasti datang” Saya tertegun. papa mau dibabtis? rasanya seperti mimpi mendengar semua itu keluar dari mulut papa yang dulu begitu keras menentang kekristenan. Saat itu saya baru yakin, kalau sungguh mereka telah lahir baru.

Bersambung…..

 

Liburan….. September 29, 2008

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — vonnythay @ 07:46

Hari ini, sejuta keraguan terus membayang. Entah bagaimana aku harus bersikap. Begitu banyak permasalahan yang terlintas, semua membuat aku pusing. Tetapi mungkin inilah saatnya untuk melakukan apa yang tertunda. Impian untuk menjadi pemulis dan meuliskan lebih banyak kasih setia Tuhan dalam hidupku. Mungkin itu yang aku kulakuakan dalam mengisi liburan ini. Setiap mutiara kehidupan yang ada, telalu sayang jika disia-siakan dan terbuang.

Hari ini, ketika sejuta kekhawatiran membayang, kutepis semua dengan iman. Sebab kuserahkan semua dalam tangan pengasihan Tuhan. Aku tahu, Bapaku yang disurga tahu yang terbaik untukku. Berusaha untuk menata ulang kehidupanku yang mulai kacau karena pekerjaan. Bersenandung dalam penantian yang tiada ku tahu kapan akan berakhir.

Hari ini, temanku Julia, juga akan berangkat ke Ausi untuk belajar selama 2 tahun. AKu bersuka cita untuk sebuah perjalanan baru dalam kehidupannya. Berdoa semoga Tuhan menyertai dan membrikan hikmat dan kekuatan untuk beradaptasi dengan lingkungan barunya. Tak terbayang 2 tahun lagi baru bertemu. Akan seperti apakah kelak? baik diriku, maupun dirinya? Sebuah persahabatan yang menurutku begitu unik. Suatu saat ketika pergi berbelanja bersama, kami bisa ketawa sendiri karena selera kami begitu berbeda. aku bilang bagus, dia bilang jelek. dan sebaliknya. Lalu kami cekikikan sendiri, kita ini 2 manusia yang benar-benar berbeda, beda selera, beda sifat, beda hobi, kok bisa sih sohiban? hahahah…. ya… begitulah kami. Oh ya.. tapi pada akhirnya dia ikut menyukai warna favoritku, yaitu hijau. Padahal dulu dia pernah kesal, Vonny! dari tadi warna hijau melulu yang dibilang bagus. capek dech! Tapi seminggu yang lalu, dia bilang, diantara banyak perbedaan kita, akhirnya kita suka warna yang sama, yaitu hijau! ahahahhahah….

My bestfriend, I hope all the best 4 u. Hoping you will get better life tomorrow. Semoga dapet cowok disana, tambah kurus en lulus kuliah la ya…. Semoga juga bertumbuh dalam Kristus selalu. My pray be with u. See u later.

 

Sebuah Kebetulankah? September 19, 2008

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — vonnythay @ 06:10

Jakarta, 2 September 2008

 

Saat mentari bersinar, memanggil aku yang yang tidur terlelap. Sejuta beban menghimpit di kalbu. Tak ada lagi semangat. Bagaimanakah aku harus jalani hari ini? Setelah kemarin tim kami melakukan kelalaian yang berakibat cukup fatal dan munculah memo dari direktur sebagai peringatan. Uaaa……….. Aku hanya merasa ini bukan bidang aku. Rasanya begitu enggan untuk melangkahkan kaki berangkat ke kantor.

 

“ Von, didepan ada surat untuk kamu”, kata kakak iparku

“ Surat? Dari siapa?” tanya ku sambil bergegas menuju ruang tamu

 

Aku menggapai sebuah kartu yang dikirim via pos di meja ruang tamu. Betapa terkejutnya aku ketika melihat bahwa itu adalah sebuah kartu ulang tahun. “lho, kan aku belum ulang tahun. Masih minggu depan” gumanku dalam hati. Suah kalimat yang tertulis disana membuat aku tertegun. “ Keep make a different for Him” Hei.. apa maksudnya? Ternyata itu adalah kartu ulang tahun dari gerejaku, yang ditandatangani oleh Gemabalaku, Pdt Riko Tan. Dan ketika aku membaca teliti halaman depannya disana tertulis “

There are people who make a difference in our lives

Because of their character, their example,

And their practical expression of love

of  Jesus Christ.

These are the people who truly God’s ambassador

to us and the world.

-Roy Lessin-

 

 

Aku tersenyum. “ make a different with my character?”  pikiranku menerawang jauh. Terlintas segala permasalah yang telah aku hadapi dan bertobatnya kedua orang tuaku. Saat itu hati nuraniku berbisik. Ayo, vonny tunjukan bagaimana karaktermu dalam menghadapi masalah. Keep making a difference for Him. Ku tutup kartu itu dan meletakannya di atas meja. Aku tersenyum simpul. Ternyata sebuah kartu ultah yang datang kepagian ini, sebenarnya datang pada waktu yang tepat untuk menguatkan dan memberiku semangat untuk menjalani hari ini.

 

Hari ini akupun baru tahu, bahwa akibat kelalaian kami kemarin bisa terselamatkan. Untung ada orang-orang yang bermurah hati. Dan akupun sudah brief dengan orang-orang terkait agar dapat bekerjasama dengan lebih baik lagi. Harapanku, kita tidak akan pernah mengulanginya lagi.

 

Malam ini, ketika akan ku tutup hari ini, aku menyadari kasih setia Tuhan tidak beranjak daripadaku. Bahkan Ia menguatkan aku melalui sebuah kartu ultah yang datang seminggu lebih cepat dari hari ultah ku ini. Sebuah kebetulan? Terlalu banyak kebetulan yang manis. Hari ini, apa yang aku takutkan tidak terjadi. Setidaknya aku berhasil melewatinya dengan pertolongan dari Tuhan. Meskipun aku tidak sempurna dan masih melakukan sedikit kesalahan, but I know God is here.

 

MY 27′th Bday September 10, 2008

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — vonnythay @ 15:21

Waktu berlalu begitu cepat. Tak terasa sudah menginjak usia 27. Rasanya baru kemarin merayakan ulang tahun, sekarang sudah ultah lagi. Hmm.. kok cepet amet ya tuanya?

Apa ya yang special di Ultah ini? Tahun ini, teman2 kantorku ga ada yang tahu aku ultah, kecuali Ervin. En emang aku minta agar dia jangan kasih tahu ke yang lain. Ksn lumayan…. irit, ga usah traktir. hahahhahha… en engga dikerjain

Trus, pulang, kakak ipar uda beliin kue ultah berbentuk kepala teddy bear. hahahah.. lucu sih. dengan lilinnya yang berjumlah 5 batang. Kok, rasanya seperti merayakan ultah yang ke 5 thn. uhahahah… jadi ga berasa tua, berasa jadi anak kecil.

Trus, sebenarnya dari pagi uda curiga ma gelagat ervin. dia tanya, malam ada acara keluarga ga von?, dll. aneh.. jangan2 ini anak, mata-mata pengurus PERSPEKTIF lage.. trus jam 7 kurang uda telpon, lu lagi dimana? Seperti biasa, ya.. dikantorlah. bentar lagi pulang kok. Hmm… tambah curiga. Apalagi setelah sampai dirumah, sebelum tiup lilin, dia telp lagi, cuma nanyain ” lagi ngapain?”

” mau tiup lilin.”

“o.. mereka uda datang ya?”

” siapa yang datang? yang ada cuma koko en kakak ipar g “

” iya, maksudnya koko en kakak ipar lu” makin mencurigakan

Sebenarnya, begitu pulang kantor uda beli martabak, en ice cream. Hmm.. karena uda feeling anak2 PERSPEKTIF pada mau datang, jadi uda beli ice cream buat mereka.

Tapi tunggu, punya tunggu sampai jam 21.30. kok, ga ada tanda2. Ah, kayaknya ga jadi datang nich. apalagi menjelang malam, anak2 pengurus uda pada ngucapin via sms. YA uda, trus, entah kenapa, mungkin krn kurang tidur dari hari minggu, jadi malah ketiduran. Waktu malam, anjing gongong, mama bilang,” von, itu temanmu datang kali ya?” ” engga mungkin uda malam kok” en beneran mereka ga datang (

Besok paginya awan telpon g. katanya semalam memang anak2 rencana mau kasih kejutan datang ke rumah, tapi berhubung pada bisanya malam jam 11. Menimbang di rumah aku ada nenek, ada nyokap yang masih masa pemulihan, trus juga bayi (sebenarnya keponakan ku ga tidur di rumah ku, kan uda ada rumahnya sendiri). maka mereka memutuskan untuk tidak jadi serbu ke rumah malam2.

Trus, aku balas, padahal uda disediakan ice cream loh. Ya uda ice creamnya g abisin aja. Eh, sorenya Yurika telp g, katanya kesal ma awan, kenapa ada ice cream di rumah g. kalau hari ini datang, ice creamnya masih ada ga? hahahahah… kayaknya uda dihabisin ma keluarga besar….

Well….. entahlah. Aku tidak merasakan something yang special di ultahku ini. ya…. paling2 doa2 orang2 terdekat supaya aku cepet dapet jodoh en nikah. huahahahahha…. uda makin uzur nich. cuma ga sadar2 aja. tapi kan bukan berarti cari pasangan karena kepepet usia kan? Duh… ga ngerti juga maunya Tuhan apa. Hanya aku tahu, bahwa setiap penantianku didalam Tuhan tidak pernah sia2. Mengingat kedua orang tuaku yang bertobat, setelah aku bergumul, berdoa, dan menanti 11 tahun lamanya. Dan sekarang mereka sedang ikut katekisasi. Well, untuk PH, entah aku harus menunggu berapa lama ya? Let see aja dech. Cuma Tuhan yang tahu waktu dan orang yang tepat untukku.

Tapi, bagaimanapun aku bersyukur, untuk teman2 yang bergitu mengingat ultahku. yang sudah sms, maupun pasang comment di FS. Berarti banyak yang sayang ya? hahahaha GRan aja.

Aku juga bersyukur untuk kesempatan aku bisa melayani di PS, 1 hari sebelum ultahku. Bersyukur untuk kotbah yang didengar 3x dalam 1 hari. hahahah… jadi hafal neh. Waktu KU1, begitu tersentuh, sampai nangis terus. sambil nyanyi sambil lap airmata. duh… gawat dah. Saat itu doaku, ” Tuhan, jika Engkau mau permak aku, silakan permak aku. aku menyerah… ” Saat itu aku benar2 bergumul tentang pekerjaan aku. tapi akhirnya aku sadar, mungkin aku menjadi putus asa, karena, aku banyak mengandalkan diri sendiri. Tapi aku mau bergantung pada Tuhan, seperti orang miskin yang tidak berdaya dihadapan Tuhan. Dan jika memang Tuhan ingin merubah kebiasaanku yang merupakan kelrmahan, aku menyerah, akan ku turut keinginan Tuhan… Hiks! berat sih, tapi no choice. i just only know. He really loves me.