(Bahan renungan ini saya sampaikan di jogging bersama PERSPEKTIF tgl 17 Agustus 2009 di pantai Ancol)
Suatu bangsa biasanya memiliki ciri khas, baik itu budaya, etos, dsb. Ambilah contoh bangsa Jepang. Bangsa Jepang terkenal dengan orang-orangnya yang serba cepat. mereka sangat mengharagai waktu dan pekerja keras. Mungkin mereka akan gregetan melihat bangsa Indonesia yang punya etos” santai saja”. Apalagi jam karetnya. ua a a…. (gue juga harus bertobat nich!) namun bangsa Indonesia juga punya cirikhas yang lain, yaitu musyawarah untuk mufakat. Sebisa mungkin segala keputusan dirundingkan bersama dan mencapai kata sepakat. Dibalik itu, sesungguhnya bangsa ini mempunyai rasa sosial, yaitu kebersamaan yang tinggi. Bukankah kita sering mendengar istilah ini, ” makan ga makan yang penting ngumpul”?
Lalu apakah yang menjadi ciri khas dari orang-orang Kristen? Yup, saling mengasihi. mari kita lihat ayatnya:
Yohanes 13:34-35
34 Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi.
35 Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.”

Sebelum Tuhan Yesus naik ke kayu salib, Dia memberikan perintah baru kepada para murid untuk saling mengasihi. Dan kasih inilah yang akan menjadi tanda bahwa kita adalah murid-murid Yesus. Tidakkah teman-teman bingung, mengapa tanda murid Yesus adalah saling mengasihi? Bukan mengerti ajaran Kristus ( doktrin) ? Bukan juga mujizat? Tetapi mengapa saling mengasihi?Jawbannya adalah karena Allah adalah KASIH. Hukum yang terutama juga adalah hukum kasih. Rasul Paulus mengatakan bahwa sekalipun kita dapat berkata-kata dalam bahasa malaikat (memiliki hikmat yang luar biasa) dan sekalipun kita memiliki iman yang dapat memindahkan gunung (mujizat) namun jikalau kita tidak memiliki kasih, maka tidak ada gunanya, sama seperti gong yang berkumandang dan canang yang bergemerincing. Dan kasih adalah bukti nyata yang dapat dirasakan oleh orang yang belum percaya Tuhan sekalipun.
Suatu hari serombongan pria yang sedang berlari tergesa-gesa tidak sengaja menabrak keranjang apel milik seorang ibu yang buta yang sedang berjualan di pinggir jalan. Apel – apel tersebut jatuh berserakan. Namun ada seorang pria yang berhenti dan mengumpulkan apel-apel itu untuk sang ibu. Setelah selesai semua apel terkumpul kembali di keranjang. Sang ibu mengucapkan, “ terima kasih ya nak. Apakah engkau adalah Yesus?”
Manusia terlahir dalam keberdosaan, sehingga kasih bukanlah sesuatu yang wajar atau otomatis dilakukan. Dalam keberdosaannya, manusia melakukan segala sesuatu untuk dirinya sendiri. Maka kalaupun melakukan perbuatan baik, juga ada tersirat untuk dirinya sndiri, apakah itu untuk amal masuk surga, dsb. Kasih yang tulus hanya dapat diberikan ketika kita sudah lahir baru. Kasih adalah buah Roh. Artinya kita tidak mungkin memiliki kasih yang tulus jika tidak didalam Kristus. Kita juga tidak mungkin mengasihi jika belum mengenal kasih Allah. Dan kasih itu bertumbuh seiring kedewasaan kita didalam Kristus. untuk dapat mengasihi, maka hidup kita harus dipinpin oleh Roh Kudus.
Dalam kenyataannya mengasihi dengan tulus bukalah semudah membalikan telapak tangan. Ada kalanya kita juga harus belajar untuk mengasihi sesama kita dengan kasih yang tulus, seperti kasih Yesus kepada kita.
Kita dapat belajar untuk mengasihi jika kita sudah mengalami perubahan paradigma didalam Kristus. Manusia yang sudah jatuh kedalam dosa yang belum mengenal Kristus, tujuan hidupnya adalah untuk dirinya sendiri (self centre). Sedangkan kita yang sudah di dalam Kristus tidak lagi hidup untuk diri kita sendiri, melainkan untuk memuliakan Allah (God centre). Hidup kita dipersembahkan untuk Allah. Sehingga ketika kita mengasihi sesama pun adalah dalam rangka untuk memuliakan Allah, dan kita pun harus membantu sesama kita saudara seiman untuk hidup memuliakan Allah juga.
Jika kita berfikir bahwa uang kita adalah milik kita, maka kita akan memakainya untuk kepentingan kita saja. namun jika kita mengerti bahwa uang dan semua yang kita miliki adalah kepunyaan Tuhan, maka kita akan bijaksana dalam memakai uang. Jika ada sesama kita yang membutuhkan, kita tentu akan bertanya pada Tuhan apa yang dapat kita lakukan untuk dia.
Dalam mengasihi sesama kita, kita juga harus seperti Tuhan mengasihi manusia. Tuhan mengasihi manusia berdosa, tetapi membenci dosa. Disini kita melihat bahwa Tuhan saja membedakan antara pribadi dengan perbuatannya. Tuhan mengasihi manusia secara pribadi tetapi membenci dosa yang dilakukan manusia. Demikian juga dengan kita. Jika ada saudara seiman kita yang melakukan kesalahan, bencilah perbuatan/ kesalahan yang dilakukannya. Tetapi kasihilah dia secara pribadi, sebab Tuhanpun mengasihinya. Jangan karena kesalahan yang dia perbuat, kita juga menjadi benci pada dirinya.
Bagi Tuhan semua manusia berharga dimata Tuhan. Dengan demikian, kita juga harus mengasihi sesama kita, apapun kondisinya. Jika kita tidak memiliki konsep ini, maka kita hanya akan mengasihi orang yang layak untuk dikasihi menurut pandangan kita. Sangatlah mudah untuk mengasihi orang yang baik hati, orang ramah, kaya, dll. Tetapi bangaimana dengan orang yang yang memiliki kecacatan? atau orang-orang yang menyebalkan? Hanya dengan kebergantungan kita dengan TUhan, maka kita baru dapat mengasihi dengan tulus.
Ketika kita semakin banyak belajar tentang kebenaran Firman Tuhan. ini bukan hanya untuk membesarkan kepala kita saja. tetapi ketika paradigma kita berubah, seharusnya itu akan terpancar dalam perbuatan kita sehari-hari. Pembinaan yang kita ikuti seharusnya membantu kita untuk hidup semakin serupa dengan Kristus.
Bagaimana dengan kehidupan kita? sudahkah kasih menjadi cirikhas dalam kehidupan kita? dalam persekutuan? dalam kehidupan keluarga kita? sehingga sungguh dunia tahu bahwa kita adalah murid-muridNya. Kiranya Tuhan menolong kita semua.

PM saja sudah buat kepala pusing. Belum lagi Yuddy masih minta aku dampingi Evelyn sebagai sie KTB di PERSPEKTIF. Dan yang terutama, terbayang dunk, kapan saya bisa luangkan waktu untuk menulis dan mengejar impian saya?
Mungkin kita berfikir bahawa sebagai raja itu enak. Hanya ongkang-ongkang kaki, trus dilayani , dsb. Siapa bilang? Ya.. kalau ada raja seperti itu, saya jamin, ga lama kemudian rakyatnya pasti kudeta. Sebaliknya seharusnya yang menjadi raja adalah orang yang berkualitas tinggi, yang terbaik. Sebentar lagi kita akan pemilu memilih presiden. Kalau salah satu calonnya kita tahu ambisinya hanya untuk hidup bersenang-senang, apakah kita mau memilih orang tersebut? Saya yakin kita akan memilih orang yang punya intergritas tinggi, orang yang bisa dipercaya, orang yang mengabdi pada rakyat, orang yang bisa meminpin negeri ini dengan lebih baik.


