Hope in a Broken World

Kita hidup di era yang begitu maju sehingga dibanjiri oleh begitu banyak informasi. Kita bisa belajar apapun jika kita mau. Semua itu adalah baik, namun ada sesatu yang sering kali tidak disadari, yaitu kita menjadi begitu tergila-gila dengan kesempurnaan. Mulai dari film-film romantis yang menggungah hati, media sosial yang menampilkan teman dan saudara-saudara yang begitu berbahagia sampai para motivator picisan yang tiba-tiba muncul dan berbicara tentang kehidupan, semua membuat kita menaikan standar terhadap apaun. Ya… apapun.

Kesempurnaan yang dibombardirkan membuat kita mulai membanding-bandingkan kehidupan kita dengan orang lain, membandingkan pasangan kita dengan pasangan orang lain, dan sebagainya. Kita menganggap bahwa apa yang dimiliki oleh orang lain begitu indah dan sempurna, betapa beruntungnya kita dan betapa kurang beruntungnya diri kita. Semua itu membuat kita menjadi sulit bersyukur, lebih lagi, membuat kita menuntut orang lain agar menjadi sama dengan semua bayangan sempurna yang ada di luar sana.

Kita menuntut pasangan kita berubah menjadi sosok ideal yang ada di layar lebar atupun di media sosial. Kita lupa bahwa apa yang ditampilkan di media, sering kali tidak realistis dan banyak editannya. Wajah yang mulus, ternyata hanyalah editan dari filter. Wajah yang cantik, ternyata adalah hasil make up yang canggih. Apa yang diposting oleh rekan kita di media sosialnya, adalah peristiwa yang indah dan bukan masalah yang sedang dihadapi. Jadi, apa yang ada di media, bukanlah gambaran utuh tentang kehidupan. Bahkan, apa yang didegungkan oleh para motivator, tidak semua dapat diterapkan dalam kehidupan kita.

Setelah belajar konseling selama setahun, saya menyadari satu hal, tidak ada yang sempurna di dunia ini. Di ibalik semua kesempurnaan yang terlihat, ada ketidaksempurnaan yang disembunyikan rapat-rapat. Apa yang kita pikir sudah baik, ternyata jika diteropong lebih dalam, ada saja yang buruk yang harus dibereskan. Mungkin seperti makanan yang terlihat enak dan baik, tetapi jika dilihat di bawah mikrospkop, ada saja bakterinya. Ada yang memang bahaya, yang membuat kita diare, tetapi mungkin juga tidak bahaya karena karena kita sudah kebal dan menganggap hal itu adalah sesuatru yang biasa.

Namun, kabar baiknya, kini aku tidak lagi memasang standar yang tinggi pada semua orang, termasuk diri sendiri. Saya lebih bisa menerima ketidaksempurnaan, dan tetap memiliki pengharapan bahwa semua bisa lebih baik, walaupun tetap tidak sempurna. Mungkin gambarannya, sama seperti dokter yang ketika belajar tentang banyak hal tentang kesehatan, menyadari bahwa ada penyakit-penyakit yang tidak mematikan, ada obatnya dan bisa sembuh. Namun, memang tetap ada penyakit yang bahaya dan mematikan. Balik lagi, sama seperti dokter yang menyadari bahwa terlepas dari semua upaya dokter untuk mengobati, kesembuhan adalah dari Tuhan yang menciptakan langit dan bumi. Begitu juga dengan konselor, meskipun kami belajar banyak hal, mulai dari Teologi sampai pada Psikologi, kami sadar bahwa pelayanan kami tidak memiliki kuasa, jika kami tidak berlutut dan berdoa untuk para klien kami.

Tuhan sendiri mulai menyentuh hatiku. Aku melihat dunia yang broken, hancur. Begitu banyak orang yang menderita, dan putus harapan. Begitu banyak orang yang tidak terjangkau dan juga tidak ingin dijangkau. Banyak orang yang menganggap dirinya baik-baik saja, dan tidak menyadari ada hal yang tidak baik yang sedang menguasai dirinya sehingga dia melakukan apa yang dia sendiri benci.

Dunia konseling telah merubah diriku untuk tidak mudah menghakimi, tetapi belajar untuk mengasihi mereka yang hancur. Hal ini tentu tidak mudah, sangat tidak mudah. Pak Yakub menekankan bahwa konselor haruslah memiliki hati Kristus yang mengasihi orang yang berdosa seburuk apapun. Pada saat awal aku mendengar hal itu, aku sadar bahwa aku belum memiliki hati itu. Mudah secara teori tetapi tidak mudah diterapkan. Puluhan tahun kita diajarkan untuk menjauhi orang-orang yang bermasalah, bahkan tak jarang penghakiman dilontarkan bagi mereka yang pada akhirnya ketahuan melakukan sebuah dosa.

Waktu yang berjalan, peristiwa demi peristiwa berlalu. Bukan hanya satu kali, tetapi beberapa kali aku mengalami rasanya aku tidak sanggup menghadapi orang ini. Naluri manusiaku ingin membawa aku untuk menghentikan semua dan berlari menjauh. Tetapi ada tangan lain yang menguatkanku. Ya, Tuhan yang memberikanku kekuatan, sampai aku terkejut karena ternyata aku kuat untuk menghadapinya. Ada suara di hatiku berbisik, “Kamu lebih kuat daripada yang kamu pikirkan.”

Pada akhirnya aku menyadari, bukan aku yang kuat, melainkan Tuhan yang memerikanku kekuatan. Tuhan yang mengubah hatiku, mengubah cara pandangku agar semakin menyerupai-Nya.

Dalam kesunyian ini, ketika aku tidak lagi bekerja, tidak lagi memiliki penghasilan besar seperti dulu. Mungkin, orang melihat aku yang mundur secara karier. Tetapi, disini, disaat ini aku sedang dibentuk ulang oleh tangan Tuhan yang penuh kasih, untuk semakin mengerti isi hati-Nya, untuk melihat sebagaimana Tuhan melihat, dan belajar untuk menjadi perpanjangan tangan-Nya bagi dunia yang telah hancur ini.

Kadang aku cemas, bagaimana dengan masa depanku? Dunia konseling adalah dunia pelayanan yang tidak berorientasi materi. Bahkan para klien banyak yang sukanya semua yang gratisan., termasuk konseling. Padahal konselor juga punya keluarga yang perlu dihidupi, juga untuk menafkahi dirinya sendiri. Jujurnya, aku tidak tahu bagaimana masa depanku, tetapi aku mau percayakan diriku dalam tangan Tuhan yang penuh kasih. Aku percaya TUhan akan memelihara aku dan keluargaku, entah bagaimana caranya. Amin.

Menyongsong Tahun 2022

Tahun 2021 akan segera berlalu. Kita tahu bahwa tahun 2021 bukanlah tahun yang mudah untuk dilalui. Pandemik yang kita kira akan segera dapat teratasi dengan adanya vaksinasi, pada kenyataannya kita dikejutkan dengan hadirnya varian omicron yang telah membuat Eropa dan Amerika kewalahan.

Tidak ada yang dapat memastikan apakah yang akan terjadi pada tahun 2022. Semua tetap penuh ketidakpastian. Lalu bagaimanakah sikap kita dalam menyonsong tahun 2022?

Kita telah melewati masa-masa krisis di tahun 2021. Saat Wabah Covid-19 merebak di tanah air di bulan Juni-Agustus yang lalu, sebagian orang berhasil melewati masa krisis dan sembuh. Namun sebagian lagi menyisakan luka mendalam karena kehilangan orang yang dikasihi. Bagaimanakah kita dapat melihat tangan Tuhan di tengah kegelapan yang masih terus membayang?

Ada banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena pandemik ini. Hati saya teriris mendengar kabar sobat saya kehilangan suaminya karena covid-19. meninggalkan 3 orang anak. Air mata saya mengalir saat pembina kelas pranikah saya juga meninggal karena Covid-19. Hidup ini memang tidak dapat diterka. Tidak semua doa kita dikabulkan. Tidak semua orang dapat bertahan menghadapi gejolak ekonomi karena pademik. Dan tidak ada yang menginginkan perpisahan dengan orang terkasih.

Saya teringat akan kisah bunda dari Pdt Stephen Tong yang yang ditinggal suaminya saat dia masih berusia 33 tahun dan dengan tujuh orang anak. Namun Ibunya berhasil membersarkan ketujuh anaknya dnegan baik dan lima diantaranya menjadi hamba Tuhan. Saya teringat bahwa kakek nenek kita berhasil melewati masa-masa sulit saat jaman perang dan penjajahan. Artinya, sekalipun ada banyak tantangan di depan mata tetapi tidak berarti dunia berakhir dan kita tidak tenggelam di dalamnya. Sekalipun kondisi yang kita hadapi tidak ideal dan tidak mudah, tetapi tidak berarti kita tidak mampu melewatinya. Kita pasti dapat melewatinya, sebab Tuhan yang akan menuntun dan memberikan jalan keluar.

Terkadang Tuhan mengijinkan kita berada dalam kondisi yang tidak pasti, justru agar kita hidup bergantung kepada-Nya dan bukan dengan kekuatan kita sendiri. Pengalaman berjalan bersama dengan Tuhan adalah sebuah pengalaman yang sangat berharga, karena dari situlah kita dapat mengalami dan mengenal Tuhan lebih jauh lagi. Sama seperti bangsa Israel yang hanya diberi manna yang hanya cukup untuk satu hari dan harus memungutnya setiap hari. Mereka harus mengikitui pinpinan Tuhan setiap harinya melalui tiang awan dan tiang api. Namun Tuhan membiarkan bangsa Israel berjalan berputar-putar di padang gurun agar Bangsa Israel dapat belajar untuk hidup taat dan percaya pada pinpinan Tuhan, hidup bergantung kepada Tuhan. Hal ini diperlukan agar mereka dapat memenangkan pertempuran untuk mengalahkan bangsa Kanaan, bukan dengan kekuatan mereka, tetapi dengan sepenuhnya taat dan bergantung kepada Tuhan.

Dengan demikian kita dapat melihat, bahwa situasi yang tidak pasti, setiap kesulitan di dalam hidup kita adalah sarana yang Tuhan pakai untuk melatih iman kita, agar kita dapat hidup bergantung kepada Tuhan dan taat kepada-Nya. Tuhan ingin agar kita dapat mengalami Dia, merasakan betapa dekat-Nya dia di dalam hidup kita. Dia adalah Tuhan yang begitu mengasihi kita. Setiap kesulitan yang kita hadapi juga akan membentuk karakter kita untuk menjadi lebih kuat dan bijak dalam menjalani hidup ini.

Kesalahan bangsa Israel adalah mereka tidak kunjung percaya dan taat pada pinpinan Tuhan. Saat menjumpai masalah, selalu kembali bersungut-sungut dan mencurigai bahwa Tuhan berniat jahat dengan membawa mereka keluar dariMesir. Ketidakpercayaan mereka inilah yang membuat Tuhan murka sehingga tidak mengijinkan mereka untuk masuk ke tanah Kanaan, tetapi generasi berikutnya yang akan masuk. Biarlah hal ini juga yang mengingatkan kita untuk tidak menaruh curiga kepada Tuhan meskipun jalan-Nya tidak kita mengerti.

https://www.vecteezy.com/vector-art/2927225-happy-new-year-2022

Tahun 2022 sudah di depan mata. Meskipun ada banyak hal yang tidak pasti, namun jangan takut untuk melangkah, sebab Tuhan menyertai kita dan tidak akan meninggalkan kita. Apapun tantangan yang akan kita hadapi, percayalah bahwa Tuhan akan memampukan kita untuk menghadapinya. Jangan takut, janganlah gentar. karena anugerah Tuhan akan berjalan mendahului kita.

Sebab bangsa besar manakah yang mempunyai allah yang demikian dekat kepadanya seperti TUHAN, Allah kita, setiap kali kita memanggil kepada-Nya? (Ulangan 4:7)

Ketenangan dan Kekuatan dalam Hadirat Allah.

Puji Tuhan, seminggu telah aku lalui dalam proses menyesuaikan diri dengan STTRI dalam retret online dan orientasi mahasiswa baru. Jadi bisa dibilang, ini baru masa pemanasan sebelum masuk ke masa kuliah yang sesungguhnya.

Dalam seminggu ini, saya merasa hubungan saya dengan Tuhan semakin nyata. Kami diajarkan bukan hanya mengisi otak kami dengan pengetahuan, tetapi juga membiasakan diri untuk diam di hadapan Tuhansilentium) dan bertanya, apa yang ingin Tuhan ajarkan kepada saya atau apa yang Tuhan inginkan saya lakukan. Istilah silentium ini mengingatkan saya pada retret Katolik yang pernah saya ikuti saat SMP dulu. Ya, itulah pertama kalinya saya diajarkan tentang berkomunikasi dengan Tuhan dalam keheningan. Hanya saja kali ini terasa berbeda, karena saya tidak disuguhkan dengan pemandangan indah dipegunungan, tetapi tetap dalam keseharian di apartemen. Namun perlahan, perasaan tenang dalam hadirat Allah itu mulai kembali masuk dalam hatiku.

Dari hari ke hari, aku melihat bahwa Tuhan tetap berdaulat dan menolong setiap anak-anak-Nya yang bergumul. Aku tahu banyak orang merasa ajnuran untuk berdoa di tengah pergumulan mereka terdengar sebagai saran yang sangat klise dan nyaris tidak memiliki signifikansi apa-apa. Orang lebih suka mendegar nasehat yang terdengar lebih logis seperti yang sering kita dengar darinpara motivator. Tetapi bagi orang yang telah menjalin relasi yangbaik dengan Tuhan, doa bukanlah jawaban klise. Doa adalah sesuatuyang sangat fudamental.

Namun orang sering kali salah kaprah. Mereka berpikir doa adalah berbicara kepada Tuhan dengan rentetan permintaan. Sisi yang sering kali kita lupakan adalah berdiam diri dan bertanya Tuhan ingin kita melakukan apa? Ketika kita membaca Alkitab sering kali kita lakukan itu sebagai rutinitas bahkan sekedar untuk menambah pengetahuan. Kita lupa memposisikan hati kita untuk dibaca oleh Alkitab. Kita juga lupa bahwa Tuhan hadir dalam keseharian rutinitas kita dan Dia rindu bercakap-cakap dengan kita.

Dalam hadirat Tuhan bukan hanya ada ketenangan, tetapi juga kekuatan untuk menjalani hari-hari kita dengan segala tantangan dan permaslahannya. Dalam hadiran Tuhan juga ada hikmat untuk memecahkan masalah yang kita hadapi. Itulah yang aku rasakan selama seminggu ini.

Aku diingatkan bahwa masuk ke STTRI itu bukan hanya untuk menambah pengetahuan, tetapi untuk semakin dibentuk dan diperbaharui dari hari ke hari. Dan pembentukan itu tidaklah harus ada di STTRI, tetapi proses seumur hidup kita sampai Tuhan memanggil kita pulang.

Oh ya metode yang dipakai untuk saat teduh adalh Lectio Divina. Kalian juga dapat mempelajari dan melakukannya. 😊

Hal yang indah dalam Wedding Anniversary kami

Hari ini kami merayakan Wedding Anniversary yang ke-2 dengan sederhana di tengah kondisi dunia yang sedang pandemi. Uniknya kali ini status saya sudah sebagai mahasiswi STTRI untuk Program Sertifikat Pelayanan Konseling. Bagi saya, bisa masuk ke STTRI adalah sebuah langkah iman yang pada akhirnya berani saya ambil. Ya, saya ini cukup bandel yang terus-terusan kabur dari panggilan Tuhan.

Masih teringat masa – masa ketika mencari pasangan hidup. Saya pernah merasa frustasi, karena banyak pria yang menganggap saya terlalu rohani. Rasanya rada sulit untuk mencari pria yang bisa menerima diri saya dengan segala pemikiran dan prinsip hidup. Namun pada akhirnya, Tuhan mempertemukan saya dengan Aris, seorang pria yang dapat diajak berdiskusi tentang apa saja, mulai dari kerjaan, tulisan, teologi, politik, dan juga konseling. Entah mengapa, saya merasa kami berbicara pada frekuensi yang sama. prinsip hidup kamipun tidak jauh berbeda. Uniknya lagi, Tuhan memberikan saya tanda dengan memindahkan Pdt Riand dari Jogja ke Jakarta tepat di gerejanya Aris dan pada akhirnya memberkati pernikahan kami, sesuai dengan doa saya 7 tahun sebelumnya.

Tepat di saat Aris menyatakan cintanya pada tanggal 18 Agustus 2018, saya mengatakan, “Jika suatu saat kita menikah, sepertinya kita akan menggenapi rencana Tuhan yang saya tidak apa.” Saya bisa bicara seperti itu karena saya memiliki feeling yang kuat bahwa Tuhan punya rencana dalam pernikahan kami, sehingga Dia campur tangan untuk menyatukan kami dalam pernikahan yang kudus. Saya tahu, cerita kesaksian saya begitu unik, tidak semua orang mengalaminya. Saya hanya berpikir, jika Tuhan sampai turun tangan, pasti ada rencana kekal di dalamnya.

Saya bersyukur, suami saya sangat mengasihi saya. Kehidupan dua tahun pernikahan kami boleh dibilang cukup baik. memang ada beberapa konflik, tetapi kami dapat menyelesaikannya dengan baik. Hari-hari kami lebih banyak diwarnai dengan canda tawa. Dia tidak pernah merasa takut atau terancam dengan saya yang bisa tampil di youtube, sharing di komisi atau persekutuan, dll. Intinya dia sama sekali tidak merasa terancam bahkan sangat mendukung agar saya terus belajar dan berkarya. bahkan, ketika saya ada pelayanan dan harus mempersiapkan talkshow, dia yang memasak makan siang agar saya dapat mempersiapkan diri dengan baik. mau dicari di mana lagi suami seperti ini? Wakakak..

Hari ini saya begitu sibuk dengan retret online STTRI. Pagi ini saya memasak sarapan dan nasi dan siangnya, Aris membeli lauk untuk makan siang dan makan malam kami agar terasa special. Tak lupa dia membelikan kue tart kecil untuk merayakan Wedding Anniversary kami. Suamiku, sangat mendukung saya untuk kuliah di STTRI. Saya merasakan ini adalah titik awal dari sebuah perjalanan panjang berjalan dengan Allah dalam ketaatan. Mungkin itu sebabnya Tuhan mempertemukan kami, karena jika dengan pria lain, saya tidak yakin akan begitu mensupport saya kuliah di STTRI.

Tentu saja sebagai istri yang baik, saya tetap memasak dan bersih-bersih apartment meskipun saya kuliah di STTRI. Pak Yakub juga mengingatkan agar kami tidak mengabaikan keluarga, di tengah semua kesibukan kami karena totalitas hidup kita adalah ibadah kita. Jujurya, saya juga tidak yakin dengan kemampuan diri saya, tetapi saya yakin Tuhan akan memampukan saya untuk menyelesaikan kuliah ini dan juga bertanggung jawab atas keluarga saya dengan baik.

Mengapa pada akhirnya saya mulai bisa belajar untuk taat melangkah ke STTRI? Karena ketika saya taat pada pimpinan Tuhan untuk berani mengambil langkah menikah dengan Aris, Tuhan buktikan bahwa pimpinan-Nya tidak salah. Aris adalah pria baik yang Tuhan sudah pilihkan. Saya bisa merasakan ada dua cinta yang hadir dalam pernikahan saya, yaitu cinta dari Tuhan dan cinta dari suami saya. Ada beberapa detail harapan saya tentang pasangan hidup, dan itu ada dalam diri Aris dan baru saya sadari ketika kami sudah menikah. Di situ saya terkagum-kagum pada Allah yang begitu mengasihi kami.

Seperti yang pernah saya tuliskan dalam buku Wonderful Single Life, bahwa Tuhan punya rencana yang jauh lebih indah mulia daripada sekedar bahagia dalam pernikahan kita. Dan itu terbukti, dan setiap hari adalah sebuah langkah kecil menuju rencana Allah yang jauh lebih indah dari apa yang dapat kita bayangkan.

Kebaikan Hati

Matius 6:3-4

Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu.Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”

Berbuat baik, tetapi tetap menyimpannya untuk diri sendiri, itu adalah hal yang tidak mudah, apalagi untuk jaman sekarang. Banyak orang yang memposting apa yang dia lakukan ke media social. Terkadang, kita juga menolong orang lain karena terpaksa, yang mau tidak mau kita tolong, tetapi kita tidak sebenarnya tidak rela untuk menolongnya. Sehingga, jika da kesempatan, kita mengungkit-ngungkitnya.

Tuhan mengatakan jika kita menolong orang, hendaklah itu hanya menjadi rahasia antara kita dan Tuhan saja, bukan untuk konsumsi umum. Ketika kita melakukan perbuatan baik, itu bukan untuk mendapatkan pujian manusia, bukan juga agar terlihat berjasa pada kehidupan orang lain. Walaupun kita tahu bahwa  ketika kita berbuat baik, tidak selalu orang yang kita tolong berterima kasih kepada kita, bahkan ada yang menikam kita. Ada saja orang yang take it for granted untuk setiap kebaikan yang mereka terima. Tetapi Yesus mengatakan agar kita sempurna seperti Bapa kita yang sempurna yang menerbitkan matahari kepada orang baik dan yang bebal. Manusia, termasuk kita, sering kali juga take it for granted kepada Tuhan. Ketika kita mendapatkan sesuatu yang baik, kita anggap itu adalah hal yang lumrah. Tetapi ketika kita mengalami masalah, kita menyalahkan Tuhan. Tidak jarang, kita juga menista Tuhan dengan perbuatan kita yang jahat. Kita marah, ketika Tuhan tidak mengabulkan apa yang kita pinta. Tetapi Tuhan begitu sabar terhadap kita.

Merendahkan diri menjadi sulit untuk dilakukan pada jaman ini. Ketika orang dengan begitu mudahnya memakai media social untuk menunjukan keberhasilan dia, juga perbuatan baik. Bagi makanan ke jalanan, kunjungan ke panti asuhan, panti jompo  diposting ke media social. Mari kita lihat ke lubuh hati kit ayang terdalam, apakah yang menjadi motivasi kita?

Tuhan Yesus mengingatkan kita akan sebuah kebenaran:

1 ¶  Maka berkatalah Yesus kepada orang banyak dan kepada murid-murid-Nya, kata-Nya:

2  “Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa.

3  Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya.

4  Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya.

Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orang; mereka memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang;

6  mereka suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat terdepan di rumah ibadat;

7  mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil Rabi.

8  Tetapi kamu, janganlah kamu disebut Rabi; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara.

9  Dan janganlah kamu menyebut siapapun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di sorga.

10  Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias.

11  Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu.

12  Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.

Akar dari banyak permasalahan adalah ego untuk dihormati dan dihargai. Kita ingin orang  agar orang lain terkesan dengan kita. Kita ingin mendapatkan hormat dari orang lain. Sulit bagi kita untuk bisa tulus dalam menolong orang lain tanpa terlihat orang lain dan juga mengungkit-ngungkitnya. Sulit juga bagi kita untuk terlihat low profile. Kita tidak terima ketika orang yang pernah kita tolong menyakiti kita, anyway, itu masih manusiawi. Tetapi Tuhan memang mengajarkan kita hal yang berbeda.

Kasihilah musuhmu, dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.

Tuhan meminta kita bukan hanya mengampuni mereka, bahkan lebih lagi, mengasihi orang yang pernah menyakiti kita. Tuhan Yesus sendiri memberikan teladan bagi kita. Dia merendahkan diri untuk taat kepada Bapa,mengambil rupa seorang hamba. Dia diremehkan, dicemooh, dihina, tetapi tidak melawan terlebih lagi Dia berdoa untuk pengampunan bagi orang-orang yang telah berbuat jahat kepada-Nya. Dan karena itu, Bapa meninggikan Dia dan memberikan-Nya kuasa agar setiap lutut akan bertelut dan mengaku Dia adalah Tuhan.

Konsep inilah yang harus kita pegang. Saat kita merendahkan diri. Mungkin benar kita akan direndahkan orang lain. Mungkin benar kita akan disalahpahami orang. Tetapi, janganlah biarkan kebencian menguasai hati kita, janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan. Jangan pula memendam kepahitan. Ampunilah mereka. Hal ini memang bukan hal yang mudah untuk dilakukan, tetapi kita bisa jika bersandar pada kekuatan dari Tuhan. Biarkan waktu yang berbicara. Biarkan Tuhan sendiri yang mengangkat kita, bukan manusia, apalagi diri kita sendiri.

Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan

dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.

Our Own Theology

Sejak aku remaja, mungkin aku adalah orang yang sulit dimengerti oleh teman-temanku. Dikala orang cenderung untuk menutupi kelemahannya, aku tidak pernah ragu menunjukan jiwa emosiku yang sedang down ataupun kemarahanku dengan Tuhan sesaat sebelum pada akhirnya aku bangkit. Mungkin aku tanpak tidak sereligius teman-temanku yang selalu tanpak stabil dan baik, dan aku pernah sedih karena menerima penghakiman atas kejujuran yang aku nyatakan. Namun, kita aku terperangah ketika aku belajar di kelas Pak Yakub Subsada tentang Intergrasi theologi dan Psikology, bahwa sesungguhnya kejujuran emosiku di hadapan Tuhan adalah kunci dari integrasi dari sistematic theology menjadi operating belief aku. Diawali dengan kejujuran, lalu aku bergumul dengan Firman Tuhan yang pada akhirnya membuat aku justru mengalami Allah secara pribadi secara otentik

Kejujuran aku ketika bergumul bersama dengan Tuhan dalam menghadapi kenyatan hidup yang terkadang tidak seperti yang aku harapkan inilah yang kemudian melahirkan banyak tulisan-tulisan di dalam blog ini dan juga buku pertama aku “Wonderful Single Life” yang justru memberkati banyak orang karena ditulis dengan kejujuran hati. Banyak pembaca buku aku mengatakan bahwa doa-doa yang aku tulis di dalam buku, banyak yang mirip dengan mereka. Aku mungkin terlihat berani dan cukup nekad dengan membuka aibku sendiri dan kerapuhan jiwaku dalam perjalanan memahami dan mengerti akan cinta Tuhan yang tak terbatas itu untuk dikonsumsi public, tetapi aku merasa puas ketika mendengar orang lain terbekati dengan tulisan aku. Karena ketika aku bercerita aku bangkit, aku tidak mengatakan hanya berdasarkan teori, tetapi berdasarkan pergulatan imanku yang pada akhirnya dimenangkan oleh Tuhan dalam kasih karunianya. Jika hingga saat ini aku masih mengikut Tuhan, bukan karena aku yang hebat, tetapi karena Tuhan yang tidak pernah melepaskan aku dan membiarkan aku dalam keterpurukan.

Pak Yakub Subsada mengajarkan agar kita memiliki theologia kita sendiri, yaitu bagaimana kita jujur dan mengalami Allah secara pribadi, sehingga apa yang kita katakan bukan hanya copy paste dari kutipan theologia sistematika yang telah diterima orang secara khalayak, tetapi bagaimana theologia itu berada dalam kontek kondisi jiwa kita dan pengalaman hidup kita yang nyata. pak Yakub justru menyarankan agar kita memnbaca buku-buku seperti yang ditulis oleh Philip Yancey, “Where is God when it hurts” karena ditulis dengan konteks kehidupan nyata. kalu boleh sedikit berbangga, buku saya Wonderful Single Life juga pernah direkomendasikan Pak Yakub untuk dibaca oleh mahasiswa theology. Jujur, ini sesuatu yang tidak pernah saya sangka sebelumnya. Pak Yakub pernah bertanya, mengapa aku menulis buku ini? aku menjawab, itu adalah buku berobat jalan, perjalanan iman aku dengan Tuhan dalam menyikapi masa single. Awal aku menulis buku itu, emosiku terpuruk dan pada akhirnya menjadi stabil setelah aku bergumul secara pribadi dengan Tuhan. Siapa yang menyangka bahwa buku berobat jalan ini malah direkomendasikan oleh pak Yakub untuk dibaca oleh mahasiswanya?

Pada titik ini, aku yang selama belasan tahun merasa seperti orang tertuduh dan aneh dalam lingkunganku, kini seperti mendapat peneguhan bahwa apa yang aku lakukan justru menunjukan otentisitas imanku. Ini aku yang tidak sempurna, namun mengalami kasih karunia Allah hingga dimampukan untuk dipakai menjadi berkat dalam ketidaksempurnaanku.

Menghargai Setiap Kesempatan

Malam ini aku menonton sebuah video youtube yang mengingatkan aku teringat saat aku masih sekolah dan kuliah. Aku tahu, aku bukan anak yang terlahir dengan IQ yang tinggi, tetapi hanya cerdas rata-rata. Tetapi dalam anugerah Tuhan, aku lulus SMA dengan nilai tertinggi dan lulus kuliah dengan prediat Cun Laude. Saat itu, aku benar-benar bergantung pada hikmat Tuhan dalam mengerjakan setiap hal. Itu mengingatkan aku untuk saat ini sebagai ibu rumah tangga, akupun perlu hikmat Tuhan untuk dapat mengerjakan semua dengan baik.

Aku belajar untuk tidak menatap pada apa yang belum aku miliki, melainkan bersyukur untuk setiap hal yang Tuhan anugerahkan padaku. Saat ini, aku memiliki kesempatan untuk belajar apapun yang aku mau, aku memiliki waktu untuk memperhatikan papa dan suami aku dengan lebih baik lagi. Selain itu aku juga mengerjakan hal-hal yang menjadi impian aku. Mungkin secara financial tentu tidak semelimpah saat aku masih kerja di kantor, tetapi aku melihat bahwa kesempatan yang saat ini aku miliki adalah seusatu yang berharga. Aku belajar mencukupkan diri dan belajar mempercayakan diri dalam pemeliharaan Tuhan.

Akhir-akhir ini aku sedih mendengar teman lama yang sakit, penginjil yang sedang sedang berjuang melawan covid-19. Tidak banyak yang bisa akulakukan, tetapi minimal aku memiliki hati dan waktu untuk berdoa bagi mereka. Aku tahu dunia saat ini sedang sulit, tetapi bukankahj justru untuk itulah kita dipanggil untuk menjadi berkat?

Esok hari ketika matahari kembali bersinar, ya Tuhan, berikan aku semangat untuk melakuakn semua lebih baik lagi untuk Engkau dan untuk orang-orang yang aku kasihi. Amin

Become a Housewife is a great things

It is almost 3 weeks as a housewife. But I start to enjoy it, and hopefully will last until the end.

Anyway, the first time I become a house wife, I tried to save money a lot. I thought twice before spending money.  It really made me feel bad. But then I realized that I am not lack of anything. I have all things that I need. I have enough food, apartment, and lovely husband. I should be grateful for all I have.

I remembered a journey of Israel at dessert for 40 years. They complained God about that they do not have meat to eat, water to drink and just have plain manna. But, actually, God provide all they need, including meat. God showed miracle everyday. God walked with them, protect them from threats. But seems all of that never enough for them (like a famous song)

They said that I am on dessert now. No salary anymore, but I realize that God provide all things that I need. I am not lack of anything. that’s why I should fill my days with joy and gratitude. I should not worry about my future because God will there for me.

Now I can do all my passions. What a great thing. I pray may God give me wisdom, so I can effectively using my time. At the end, May I give glory to God through my life. Amin

Welcome My New Journey

Today is the third day I become housewife. I feel joy and excited to do my passion. Yes, I am no longer a Finance Manager at Big company, but just at home as a housewife. Mostly woman feel the title as housewife is nothing compares to a manager at company. Yes, I can feel it at the moment I decided to resign. But, then surprisingly, I heard different respond from many people. They said, “What an honor job.” Then I was grateful. I felt get a confirmation that my decision is correct.

I want to write down about all the reasons why I decide this. As a human I. Yes, I worried about tomorrow. I feel safe if I can make money by myself and not depend on my husband, but then I remembered the sentence that Ci Ling said in Swiss, when she struggled for the decision to be  a house wife too. God said to her,” You are not depend on your husband, but you depend on Me.” Yes, I should remember that. My life is depend on God, not my husband. This is a journey of faith, between me and God. I should not have to worried, because God will take care of my life.

I want to have a baby. I got married when I was 37 years old. Next week I will be 39 years old. I cannot like other couples that just wait the time of God and keep working. I should make a hard decision to reach the opportunity to get a baby. Money cannot push the time back and make me young again. I can make money in future in many ways, but my body will get older and older. I know that a child is God’s grace, but it is my responsibility to do the best thing I can do.

The third reason is I want chase my dream. I want to continue writing and go international with my book. Yes, my third book will be in English and publish at Google Play Store. It is not about money, but I want my mom testimonial be a blessing for many nations. I want to do what God want me to do. I want to continue writing many article about God and relationship.

I really grateful for the best husband that God give to me. Yes, it is a blessing to have a husband that support me to fulfill the passion from God. I know that our life is in God’s hand, We believe that He will care and provide whatever we need in this grace.

 

Welcome my new journey. I will walk by God’s grace.

 

 

 

 

 

Protected: A Grace in Pandemic

This content is password protected. To view it please enter your password below:

Previous Older Entries

Social