Mendengar Itu Baik


Antara mendengar dan melakukan Firman Tuhan, manakah yang lebih penting? Well, kalau menurut saya sih, sama pentingnya. Malahan bisa dibilang tidak dapat dipisahkan. Keduanya ibarat 2 sisi mata uang logam. Bila yang ada hanya 1 sisi saja, maka uang logam tersebut ga laku tuh! Ga bisa dipake.

Kita hidup dijaman yang penuh dengan target dan tuntutan. Efisiensi waktu pun terus di kumandangkan. Ga heran, banyak orang yang super sibuk dengan segudang aktifitasnya.Ada

sih yang sibuknya kaga jelas tuh, tapi ada juga sibuknya karena pelayanan. Bisa di bilang tiap hari pasti nongolnya di gereja. Lama-lama sekalian aja tidurnya di gereja juga. Well, bukan menyindir siapa-siapa, tapi hanya bernostalgia dengan masa lalu. Yup,… itulah yang sering saya keluhkan dulu.

Segudang pelayanan tidak menjamin kedewasaan rohani seseorang. Pangkat dalam pelayananpun bisa dibilang tidak berarti apa-apa, jika semua itu tidak dijalankan dengan hati, mata dan telinga yang tertuju pada Kristus. Terlalu banyak orang yang sibuk, yang katanya melakukan semua untuk Tuhan, tetapi pada kenyataannya sesungguhnya bukan untuk Tuhan. Lalu untuk siapa? Ya… banyak, untuk mendapat pengakuan dan kehormatan, karena hobi, karena pingin punya teman banyak, pingin diakui en dibilang hebat, pingin jadi pusat perhatian de el el. Duh, jadinya Tuhannya kemana ya?

Makanya dalam Matius 7 ayat 22-23 ada tertulis:

22 Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga?

23 Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!”

Duh, kebayang ga sih, bagaimana jika itu yang terjadi pada kita dia hari penghakiman terakhir? Ayat ini memang ditujungan pada nabi-nabi palsu. Ya… kalau mau disederhanakan, bisa juga dunk saya bilang untuk para pengurus en pelayan palsu? Intinya mereka memang bukan umat pilihan.

Disisi lain ataukah kita seperti Martha yang terus-terus mengeluh, kenapa dia berjerih lelah tapi Maria malahan enak2an duduk aja? Apakah Tuhan simpati pada Martha dan mengatakan “ iya ya nak, kamu hebat sekali melakukan banyak hal dalam melayani Aku, tidak seperti Maria yang duduk saja.” Well, kenyataannya beda tuh!

“Tetapi Tuhan menjawabnya: “Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara,

42 tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya.”

Simak baik-baik ayat ini:

1 Samuel 15:22 Tetapi jawab Samuel: “Apakah TUHAN itu berkenan kepada korban bakaran dan korban sembelihan sama seperti kepada mendengarkan suara TUHAN? Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik dari pada korban sembelihan, memperhatikan lebih baik dari pada lemak domba-domba jantan.

Yup.. duduk mendengarkan dan merenungkan Firman Tuhan lebih baik dari pada korban sembelihan, alias semua pelayanan kita. Yang Tuhan pandang bukanlah aktifitas, tetapi jauh ke dalam hati kita. Untuk apa melakukan banyak hal, tetapi semua itu tidak disukai Tuhan? Untuk apa melelahkan diri sendiri, jika pada akhirnya bukan pujian dari Tuhan, tetapi celaan dari Tuhan. Sebuah Ironis yang terus memperingati hati ini.

Sobat, saya pun belum sempurna. Tapi ini yang saya lakukan. saya berusaha sedapat-dapatnya terus bertumbuh dalam pengenalan akan Tuhan. Baik lewat pendalaman Alkitab, maupun dalam pengalaman pribadi dengan Tuhan.

Hal ini juga yang menjadi ingat-ingatan hati ini. Tuhan adalah yang utama dalam segala hal. Jangan sampai apapun merebut tahta Tuhan dari hati saya, termasuk diri saya sendiri. Ketika saya melayani, yang perlu saya ingat adalah saya ini hanya hamba, bukan yang empunya pelayanan. Maka, diri dan idealis saya bukalah yang utama. Ada baiknya untuk menyediakan untuk duduk diam mendengarkan Firman Tuhan dan berdoa, untuk dapat lebih lagi mengetahui apa yang Tuhan inginkan agar saya lakukan, sifat buruk apa yang harus saya rubah, karena Tuhan tidak suka, dan dalam hal apa saya harus mengembangkan karakterku. Tuhan, tersenyumkah Tuhan melihat hidupku? …………….. Sebuah pertanyaan yang saya pun tak tahu jawabannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Social

%d blogger menyukai ini: