Iman yang sejati


Siapakah yang tidak menyukai kepastian? Bukankah untuk itu kita masuk asuransi, agar aja jaminan atas sesuatu yang berharga? Dalam sistem management kita juga mengenal adanya planning, baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang. Bukankah adalah hal yang menyenangkan jika kita dapat menentukan segalanya?  Kalu bisa hanya dengan menjentikkan jari, semua terjadi sesuai dengan keinginan kita. Dan bukankah menyenangkan jika kita bisa mengetahui masa depan kita dan menentukannya sesuai dengan keinginan kita. Itulah sebabnya orang beramai-ramai mencari tahu nasib mereka ke peramal. Jika ada bala, ya di tolak dunk! Aahh.. ! seandainya semuanya dalam genggaman tangan kita. Bukankah itu sangat menyenangkan?

Coba bayangkan! Betapa menyenangkannya jika kita memiliki segalanya. Bayangkan jika kita punya uang yang banyak, bisa membeli apapun yang kita inginkan. Punya kekuasaan. Hanya dengan menjentikan jari kita, apapun keinginan kita akan terwujud. Bukankah semua itu sangat menyenangkan?

Namun sayangnya, betapa bersarnya kekuasaan manusia dan kekayaan yang dimilikinya, tetap tidak dapat menentukan segalanya. Bukankah ada pepatah, sehebat-hebatnya manusia pasti dikalahkan oleh kematian. Tidak ada seorang manusia pun yang dapat mengelak dari kematian. Karena itu diluar kekuasaan kita.

Pernahkah kita berfikir, mengapa Tuhan memberikan ketidak sempurnaan pada kita? Sehebat-hebatnya manusia, pasti punya kelemahan. Saya ingat pada film “Brush Almighty God”. Bagaimana ya seandainya saya jadi Tuhan. Punya kuasa untuk berbuat apapun. Tetapi ada satu hal yang tetap dia tidak bisa lakukan, yaitu membuat kekasihnya kembali mencintai dia. ya.. kita tidak bisa mengatur perasaan orang lain, sehebat apapun kita.

Keterbatasan membuat kita terlihat tidak berdaya. Dan itulah yang membuat kita membutuhkapn orang lain dan Tuhan. Namun meskipun kita didalam Tuhan, sama sekali bukan berarti segalanya berjalan dengan mulus seperti kehendak kita. Tapi lewat semua perjalanan iman itu Tuhan ingin agar kita mengenal Dia dan semakin mengasihi dia.

Saya teringat pada kisah domba yang terhilang yang digendong oleh sang gembala. Domba tersebut kakinya dibalut. Apakah domba tersebut terluka saat bermain? Ternyata tidak. Domba tersebut kakinya sengaja dipatahkan oleh sang gembala. lalu di balut dan digendong. Saya berfikir, mengapakah Domba tersebut lari dan tersesat? karena dia menganggap pilihannya jauh lebih enak daripada pinpinan dang gembala. tapi ternyata salah. Ketika dia terluka dan digendong oleh sang gembala, itulah saat sang domba merasakan kasih sang gembala, mengenal suaranya, dan dekat dengan gembala, sehingga sang domba akan taat sepenuhnya. karena dia tahu, bahwa gembalanya mengasihi dia dan dia mau percaya pad pinpinan sang gembala.

Demikian pula dengan kita. Mengapakah kita sering meragukan Tuhan, dan berfikir bahwa kita tahu yang terbaik untuk kita? Itulah sebabnya kita akan marah jika apa yang kita minta pada Tuhan tidak terjadi / terpenuhi. Itulah sebabnya kita selalu minta bukti, dan jika semua terlihat begitu tidak jelas. Dan pada akhirnya  kita seperti sang domba, mengambil jalan kita sendiri dan kemudian tersesat.

Mengapakah terkadang Tuhan ijinkan kita dalam posisi tidak berdaya? Seperti halnya sang domba yang terluka dan tidak berdaya dipelukan sang gembala. Sesungguhnya, pada saat itulah kita akan mengalami apa yang namanya bergantung penuh pada Tuhan. dan disaat itulah kita akan belajar untuk mempercayai Allah. Bahwa Allah mengasihi kita dan apapun yang Dia lakukan semua adalah yang terbaik untuk kita. Dari iman seperti itulah akan muncul ketaatan total. Ketaatan yang lahir bukan karena rasa takut dihukum, tapi dari hati yang percaya pada otoritas Allah yang mengasihi kita.

Iman yang sejati, bukanlah iman yang buta. Tetapi iman yang lahir dari pengenalan akan Allah. Bukan hanya sekedar pengetahuan di otak kita, tetapi lahir dari pengalaman berjalan bersama dengan Allah. Terkadang kita diminta untuk melakukan hal yang tidak kita mengerti, atau pun diminta untuk melangkah ke jalan yang tidak kita kenal.  Dan ketika kita mempercayai Dia, kita akan taat pada kehendaknya. Mengapa? karena kita tahu Tuhanlah yang  berdaulat dan berkuasa. dan Tuhan sedang punya rencana yang jauh lebih besar daripada yang kita pikirkan. Walaupun terkadang ketaatan itu akan membawa kita pada siuasi yang tidak mengenakan. Tak jarang juga meminta harga yang mahal, bahkan termasuk nyawa kita. Namun jika Tuhan minta itu semua, mau kah kita memberikannya? Sebab hidup kita bukan milik kita, tetapi milik Dia. Dan sekalipun maut menghadang, tidak akan dapat memisahkan kita kita dari kasih Allah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Social

%d blogger menyukai ini: