Persembahan Yang dicela Tuhan


 

Siapa sih yang tidak ingin mendapatkan penghargaan ataupun pujian? Apalagi kalau kita sudah berjeri lelah dan mengorbankan segalanya. Tapi ternyata apa yang baik bagi kita belum tentu lho berkenan kepada Tuhan. Apa perasaan kita jika kita sudah mengorbankan segalanya tapi malah dicela Tuhan? Duh, ngenes banget dech! Amit –amit!  Nah, ga maukan itu terjadi pada kita? Karena itu mari kita belajar dari kebenaran Firman Tuhan, persembahan seperti apa sih yang malah dicela oleh Tuhan Yesus?

 

 

Markus 7

 9  Yesus berkata pula kepada mereka: “Sungguh pandai kamu mengesampingkan perintah Allah, supaya kamu dapat memelihara adat istiadatmu sendiri.

10  Karena Musa telah berkata: Hormatilah ayahmu dan ibumu! dan: Siapa yang mengutuki ayahnya atau ibunya harus mati.

11  Tetapi kamu berkata: Kalau seorang berkata kepada bapanya atau ibunya: Apa yang ada padaku, yang dapat digunakan untuk pemeliharaanmu, sudah digunakan untuk korban—yaitu persembahan kepada Allah—,

12  maka kamu tidak membiarkannya lagi berbuat sesuatupun untuk bapanya atau ibunya.

13  Dengan demikian firman Allah kamu nyatakan tidak berlaku demi adat istiadat yang kamu ikuti itu. Dan banyak hal lain seperti itu yang kamu lakukan.”

 CUTE SHEEP

Kalau kita lihat konteks dari Nats Alkitab diatas, Tuhan Yesus memang sedang mencela orang-orang Farisi yang lebih mementingkan memelihara adat istiadat ketimbang perintah Allah. Tapi ada yang aneh.  Bukankah memberikan persembahan ini yang diperintahkan oleh Tuhan? Mengapa Yesus justru bilang itu bukan perintah Tuhan tetapi adat istiadat nenek moyang ya? Waduh, Tuhan Yesus salah ga sih ya? Ya.. ga mungkin salah la ya.. OK, untuk memahaminya, mari kita lihat konteks sejarahnya.

 

Ayo tebak! Dosa apa yang berulang-ulang dilakukan bangsa Israel  di Perjanjian Lama yang tidak kita jumpai lagi di Perjanjian Baru? Yup, dosa penyembahan berhala. Berasa aneh ga sih?  kok di PB Tuhan Yesus tidak pernah mengkritik bangsa Israel tentang penyembahan berhala? Padahal di PL dosa inilah yang ditegur Tuhan dari generasi ke generasi. Anehnya lagi justru kebalikannya, di PB Tuhan Yesus mengkritik kaum Farisi dan Ahli Taurat yang terlalu religius, sampai-sampai dibilang munafik.  Ada apa ya? Apa yang membuat mereka berubah?  Mari kita dengarkan doa Nehemia ketika bangsanya dijajah oleh bangsa Persia.

 pray_hands

Nehemia 1

6  berilah telinga-Mu dan bukalah mata-Mu dan dengarkanlah doa hamba-Mu yang sekarang kupanjatkan ke hadirat-Mu siang dan malam bagi orang Israel, hamba-hamba-Mu itu, dengan mengaku segala dosa yang kami orang Israel telah lakukan terhadap-Mu. Juga aku dan kaum keluargaku telah berbuat dosa.

7  Kami telah sangat bersalah terhadap-Mu dan tidak mengikuti perintah-perintah, ketetapan-ketetapan dan peraturan-peraturan yang telah Kauperintahkan kepada Musa, hamba-Mu itu.

8  Ingatlah akan firman yang Kaupesan kepada Musa, hamba-Mu itu, yakni: Bila kamu berubah setia, kamu akan Kucerai-beraikan di antara bangsa-bangsa.

9  Tetapi, bila kamu berbalik kepada-Ku dan tetap mengikuti perintah-perintah-serta melakukannya, maka sekalipun orang-orang buanganmu ada di ujung langit, akan Kukumpulkan mereka kembali dan Kubawa ke tempat yang telah Kupilih untuk membuat nama-Ku diam di sana.

 

Yup. Inilah janji Tuhan yang dipegang oleh bangsa Israel, yaitu jika mereka kembali mengikuti perintah-perintah Tuhan dan melakukannya, maka Tuhan akan memulihkan bangsa Israel. Bangsa Israel sudah kapok dijajah berulang-ulang, mulai dari kerajaan Babelonia, Persia, sampai Romawi di jaman Tuhan Yesus. Mereka bersungguh-sungguh melakukan perintah Tuhan agar Tuhan memulihkan bangsa Israel. Hal Ini juga yang ditanyakan oleh para murid Yesus sebelum Tuhan Yesus naik ke surga, “Maka bertanyalah mereka yang berkumpul di situ: “Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?” (Kis 1:6)

 

Harapanmereka bahwa Tuhan akan mamulihkan bangsa Israel itulah yang mendorong bangsa Israel kembali kepada Tuhan dan melakukan perintah-perintahNya sedetil mungkin. Saking inginnya mereka lepas dari penjajahan, mereka mulai menambahkan aturan baru yang lebih detail dan berat, inilah yang disebut sebagai adat istiadat oleh Tuhan Yesus, bukan perintah Tuhan. Hal ini juga yang sering dikecam oleh Tuhan Yesus kepada kaum Farisi dan Ahli Taurat.

 

Bagaimana dengan pelayanan kita saat ini? Jangan-jangan kita juga sudah menetapkan standar yang tidak lazim, yang tidak sesuai dengan apa yang Tuhan maksudkan. Saking semangatnya kita ingin menyenangkan hati Tuhan, kita telah mengikuti standar-standar yang salah.  Contoh: Banyak orang begitu semangat dengan pelayanan. Tampa disadari kita punya konsep, pelayanan di gereja itu lebih  mulia daripada pekerjaan kita juga keluarga kita. Konsep mengasihi Tuhan seoleh-oleh identik dengan seberapa kita membayar harga bagi pelayanan kita. Tunggu, saya tidak mengatakan bahwa pelayanan tidak usah membayar harga. Tetapi jika demi pelayanan kita mengorbankan segala-galanya, apakah itu yang Tuhan mau? Bagaimana jika kita sudah mengorbankan semuanya, tetapi bukan pujian yang kita dapatkan melainkan celaaan dari Tuhan? Duh, jangan sampai yach!

 

 Mungkin kita memiliki pelayanan yang luar biasa banyak dan hebatnya, jadi ketua panitia, pengurus komisi, song leader, diakonia, dll. Saking sibuknya pelayanan, ga ada lagi waktu untuk keluarga. Saking sibuknya sampai-sampai waktu untuk bekerja juga dipakai untuk mempersiapkan pelayanan. Trus, kalau persembahan buat pelayanan gereja semangat, tapi kalau buat keluarga, boro-boro, dsb. Mungkin digereja orang seperti ini diacungkan jempol dan dipuji-puji. Tetapi kira-kira apa ya yang ada dibenak keluarga dan pinpinan kita dikantor?   Dan yang terutama, apa yang ada dibenak Tuhan saat Tuhan melihat pelayanan kita? ? Bukankah dalam perikop diatas, Tuhan mencela orang Farisi yang mengabaikan kebutuhan keluarnganya demi persembahan untuk Tuhan? Sebab Tuhan sendiri yang memerintahkan kita untuk menghormati ayah dan ibu kita juga memelihara mereka.

 

Saya teringat pada sebuah kotbah yang disampaikan oleh hamba Tuhan dari Bandung. Dia menceritakan bagaimana dia begitu semangatnya pelayanan, sepanjang hari hanya untuk pelayanan. Kalaupun tidak ada yang dikerjakan, ya buat lebih banyak lagi pelayanan. Mengapa? Ya dengan dalih untuk Tuhan. Seiring waktu, tampa disadarinya anaknya bertumbuh menjauh dari dia. Suatu ketika, anaknya yang masih remaja itu berkata, ” Bagi saya, papa adalah orang asing. Saya tidak mau punya suami seorang Hamba Tuhan” Perkataan itu benar-benar menampar hatinya. Dia baru sadar kesalahannya bertahun-tahun dengan menelantarkan keluarganya. Siapakah yang dapat   menggantikan peran seorang ayah bagi anak-anaknya? tidak ada, selain dirinya. Siapakah yang dapat menggantikan peran seorang suami bagi istrinya? Tidak ada, hanya dirinya. Namun sungguhkah semua yang dia korbankan itu untuk Tuhan? Atau sebenarnya untuk ego dan kebanggaan dirinya sendiri? Ayat tentang barangsiapa yang mengasihi ayahnya dan ibunya lebih daripada Yesus, dia tidak layak bagi Yesus(Matius 10:37) adalah dalam konteks percaya pada yesus, mempunyai resiko akan dibenci oleh keluarganya. Lagipula seharusnya kita mengasihi keluarga adalah dalam rangka mengasihi Tuhan juga. Namun jika Tuhan bukan yang menjadi pusat dari hidup kita, ada hal lain yang menggantikan posisi Tuhan, itulah yang disebut dengan berhala kita.   

 

Saya juga pernah mendengar pengakuan dari seorang pinpinan di ciputra group. Waktu Krisis moneter tahun 98, ketika perusahaan harus melakukan perampingan, maka harus ada pengurangan karyawan. Ketika daftar karyawan disodorkan, dia melihat no.1 di darfar karyawan yang mau di PHK adalah seorang anak Tuhan yang sangat rajin pelayanan, seorang Song Leader,dll. Tapi sayangnya kinerja kerjanya buruk sekali. Maka orang tersebut dikeluarkan. Teman, kalau itu yang kita lakukan, apakah Tuhan sudah dipermuliakan? Sebaliknya, saya rasa justru kita telah menjadi batu sandungan.

 

Coba bayangkan, apakah pelayanan seperti ini juga yang menyukakan hati Tuhan? Ataukah Tuhan juga sedih dan kecewa dengan kita? Jangan-jangan standar yang kita pakai bukanlah yang Tuhan maksudkan sama sekali. Tuhan menginginkan agar Diri-Nya di permuliakan dalam setiap aspek dalam kehidupan kita , bukan hanya kehidupan pelayanan kita digereja. Tidak ada satupun aspek yang sekuler dalam diri anak-anak Tuhan, jika kita melakukan semua hal untuk kemuliaan Tuhan. Dengan demikian, manakah yang lebih penting? Pelayanan, pekerjaan, keluarga atau refreshing? Bukankah jika kita melakukan semuanya untuk kemuliaan Tuhan, itulah persembahan kita yang hidup dan berkenan kepada-Nya? (Roma 12:1)     

 

Teman saya mengatakan, kehidupan kita seperti permainan biji congklak. Ketika disebuah lobang penuh, maka sesungguhnya ada lobang yang kosong. Jika kita hanya terfokus pada satu hal, maka akan ada yang dilantarkan. Waktu yang Tuhan berikan pada ssetiap kita adalah sama. Satu hari 24 jam, seminggu 7 hari. Karena itu kita tidak mungkin melakukan semua hal dan menyenangkan semua orang. Dalam hal inilah dibutuhkan prioritas dan tujuan panggilan hidup yang jelas. Meskipun demikian kita tentu harus meminta kepada Tuhan kebijaksanaan agar dapat mengambil keputusan yang tepat, yang mana yang menjadi prioritas kita pada waktu dan kasus tertentu. Seperti halnya Yesus. Karena Dia tahu apa yang menjadi tujuannya, maka dia tahu kemana dia harus pergi, dan meninggalkan orang banyak(tidak memenuhi tuntutan orang   banyak)

 jesus pray 2

Markus 1:35-38

35  Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana.

36  Tetapi Simon dan kawan-kawannya menyusul Dia;

37  waktu menemukan Dia mereka berkata: “Semua orang mencari Engkau.”

38  Jawab-Nya: “Marilah kita pergi ke tempat lain, ke kota-kota yang berdekatan, supaya di sana juga Aku memberitakan Injil, karena untuk itu Aku telah datang.”

 

Saat itu, Yesus sedang dicari banyak orang? Mengapa? Tentu setelah dia menyembuhkan banyak orang yang menderita dan mengusir setan, semakin banyak orang yang mencari Dia untuk meminta pertolongan. Tetapi anehnya, Tuhan Yesus tidak menemui mereka dan melakukan apa yang orang banyak itu inginkan, tetapi malahan Yesus pergi ke kota lain. Mengapa? karena dengan jelas Dia tahu apa tujuan-Nya datang ke dunia. Bukan untuk menjadi tukang kayu, bukan hanya untuk menyembuhkan orang sakit, tetapi untuk mati di kayu salib. Dan keputusan-keputusan apakah yang Yesus ambil agar seiring dengan tujuan hidup-Nya, Yesus dapatkan setelah dia ke tempat yang sunyi untuk berdoa (ayat 35). Artinya keputusan itu diambil setelah Yesus berkomunikasi dengan Allah Bapa. Jika Tuhan Yesus saja demikian, apalagi kita.

 

Betapa seringnya kita hanya hidup melakukan tuntutan orang banyak dan tetap saja ada yang tidak puas. Betapa sering kita kelelahan tampa arah yang jelas. Hikmat bijaksana apa yang menjadi prioritas untuk dikerjakan, hanya didapatkan dengan kebergantungan kita pada Tuhan dalam doa dan teduh pribadi. Gumulkanlah setiap tawaran pelayanan dihadapan Tuhan. Semua pelayanan adalah baik, tapi sungguhkan pelayanan yang ini yang Tuhan inginkan agar kita kerjakan? Lalu jika diperhadapkan pada pilihan-pilihan sulit, mintalah hikmat pada Tuhan sebelum mengambil keputusan. Jika ada yang kecewa itu tentu wajar, kita tidak dapat menyenangkan semua orang. Selama keputusan kita dapat kita pertangungjawabkan dihadapan Tuhan, untuk kemuliaan Tuhan semata dan untuk menyenangkan hati Tuhan, janganlah takut. Tetapi yang perlu kita kritisi adalah sungguhkah kita lakukan semua itu untuk Tuhan? Atau untuk kebanggaan kita pribadi? Atau karena tuntutan orang banyak? Biarlah kita minta Tuhan yang menyediki hati kita yang terdalam dan menyingkapkannya semua. Sehingga sungguh seluruh hidup kita berkenan pada Tuhan. Kiranya Tuhan menolong kita semua. Amin

2 Komentar (+add yours?)

  1. susilowati
    Jun 18, 2009 @ 11:25:37

    Bagus,Von. Yang paling penting adalah apa yang mendasari dari setiap perbuatan kita, bukan perbuatan itu sendiri.
    Karena itu uji terus hati kita sendiri supaya dasar dari setiap “persembahan ” kita adalah untuk kemuliaan NamaNya bukan untuk pujian yang sia2. GBU.

  2. Trackback: 2010 in review « The Diary of God’ Love

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Social

%d blogger menyukai ini: