Kekristenan dan Budaya Thiong Hua


Gong Xi Xi Nien

Xi Nien Huai Le

wah, ga berasa kita dua merayakan Tahun Baru Imlek lagi. Well,walaupun suah 2 tahun keluarga kami sudah tidak sembayang, tetapi kami tetap merayakan Sin Cia loh! Mungkin ada yang berpendapat, kalau kita sudah menjadi orang kristen tidak perlu lagi merayakan Sin cia. Sebab budaya dalam keristenan itu tidak mengenal Sincia. Hohoho gimana ini?

Memang sih, sejak kejatuhan manusia dalam dosa. semua produk manusia juga tercemar dalam dosa, termasuk budaya. tetapi bukan berarti kita harus menyikirkan budaya. Mengapa? karena Budaya juga lahir dari akal budi yang Tuhan kasih. kalau manusi berdosa saja Tuhan tebus dan mengembalikannya untuk kemuliaan Tuhan, maka budaya juga demikian. Kita dapat memilah dan menebusnya untuk kemuliaan Tuhan. Ada banyak budaya Thiong Hua yang bagus dan sangat cocok dengan Firman Tuhan kok! Mari kita bahas beberapa.

Bersih – Bersiiihh…..

Menjelang tahun baru Imlek, biasanay masyarakat Thiong Hua punya kebiasan untuk membersihkan rumah secara keseluruhan. Mulai dari debu diatas lepari, di pajangan, dll sampai juga mencat tembok. Wah pokonya ini acara kerja bakti berhari-hari dech. Mengapa harus bersih-bersih? Perayaan tahun baru Imlek sesungguhnya adalah perayaan musim semi, yaitu merayakan kehidupan baru. Sehingga semua harus serba baru dan bersih. ya.. ga mungkin juga kan tiap tahun beli ruamh baru, lemari baru, mobil baru? ya sudah, bersihkan saja apa yang ada, minyaimal barang-barang tersebut dan rumah kita terlihat bersih dan mudah-mudah mirip baru. heheheh. Kalau dari segi kesehatan, budaya ini bagus banget loh! Bisa bayangin ga, kalau debu2 itu ga dibersihkan secara menyeluruh, jadi apa itu rumah? Pada kenyataannya sekalipun sudah di sapu dan pel tiap hari, tetap saja ada bagian-bagian rumah  yang  berdebu tebal. Kalu tidak dibersihkan juga tidak sehat tuh!. So, budaya bersih-bersih ini jangan dibuang ya.. sayang .

Disisi lain sebenarnya bukankah kita juga adalah ciptaan baru didalam Tuhan. Pernah ga ya, kita ambil waktu sejenak, mungkin 1 hari penuh untuk tenag dihadapan Tuhan dan mengoreksi diri. Mungkin dalam hari kita ada banyak debu-debu dosa yang sudh menumpuk tebal dan tidak kita sadari. Memang, setiap hari kita sudah saat teduh dn baca firman, tetapi ibarat sapu dan ngepel tiap hari, sebenarnya itu ga cukup. Orang kristen butuh retreat. well, ga usah mikir ke puncak,ikut greja,dll. pada kenyataannya, seringkali retreat yang diadakan digereja justrui bikin otak dan badankit acapek sekali dengan sesion yang padat. Maksud aku, mungkin kita perlu ambil waktu tenang untuk silentium dihadapan Tuhan. Waktu tenang untuk melihat kehidupan kita yang sudah kita jalani. Mengevaluasi sikap hati kita pada setiap kejadian dan permasalah, menggumulkan hal-hal dengan Firman Tuhan, dll. Well, jika kita melakukan semua ini tentu rumah hati kita akan jauh lebih sehat.

Menghormati Orang Tua

Tidak dapat dipungkiri, masyarakat Thiong Hua sangat kental untuk hal yang satu ini. pada budaya aslinya kita memang menghormati orang tua buakn hanay pada saat mereka masih hidup tetapi juga walaupun mereka sudah tiada. hal ini mereka wujudkan dalam sembayang leluhur, tepat 1 hari sebelum Sincia. lalu kami juga mengunjungi orang yang lebih tua pada hari Sincia. Kalau orang tua itu jauh di luar kota, minimal kami bisa mengucapkan selamat lewat telepon.

lalu bagaimana jika kita sudah Kristen? Ya.. kita memang Tuhan perintahkan untuk menghormati orang tua kok. Walaupun tentu saja kita tidak lagi sembayang pada leluhur. Tetapi toh engga salah juga kita mengenang orang tua atau leluhur yang sudah tiada dalam hati kita saja, tidak perlu disembayangi pakai hio. Well, biasanya nih, karena kita ga mau sembayang, maka kita bsia dicap sebagai anak pu hau (tidak berbakti) oelh mereka yang masih sembayang. trus gimana dong?

Kalau aku ya, dulu mencoba menjelaskan pada papa dan saudarku yang lain seperti ini, ” Kalau kita sembayangin mereka yang sudah tidak ada, apakah kamu yakin, mereka bisa merasakan semua itu? Apa yakin, mereka bisa merasakan kue, ayam, babi yang kita beri? bukankah hanya yang hidup yang sudah pasti bisa merasakan? oleh karena itu kami orang kristen diperintahkan untuk menghormati dan berbakti pada orang tua yang maish hidup. karena jelas mereka yang masih hidup pasti bisa merasakan semuanya’

Well, papa juga akhirnya mengimaninya juga. Tidak ada yang tahu, apaakah sembayangan kita itu samapi atau tidak. bukankah hasil sembayangan itu malah dimakan oleh kita yang hidup. well, memang tidak ada yang tahu. Saudara jauhku yang masih sembayang totok juga mengakui itu. Dia bilang ” walaupun tiap tahun saya mempersembahkan 1 ekor utuh babi kepada papa yang sudah tiada, memang ga tahu dia bisa merasakannya atau tidak.malahan yang pasti karyawan dan keuarga saya yang menikmati babi panggang utuh iotu.  tapi yang jelas jika saya berbakti pada mama yang masih hidup, dia tentu bisa  merasakannya. kamu benar von”   

Ok, kalau begitu mari kita berbakti pada orang tua yang masih hidup. saya bisa melihat betapa senangnya orang tua2 yang kami kunjungi saat Sin Cia. kalau kita mau mnegunjungi, berarti kita masih tahu dengan mereka. 2 tahun yang lalu aku tidak ikut keliling rumah saudara. maklum, malu juga kan uda gede gini masih keliling (la sin Ngien) entar dikirain mau minta ang pao. tapi mama malah bilang, ” tadi Twa Ie nanyain tenatng kamu. Kok Vonny ga datang?”  ya amam jawab aja” malu kan uda gede. entar dikirain mau minta ang pao” tapi Twa Ie menjawab” loh, bukan masalah Ang Pao nya. yang penting datang berkunjung berarti tahu orang tua”  Sejak saat itu aku jadi ikut lagi la Sin Ngien dech. ya benar juga.. kapan lagi berkunjung pada mereka yang jauuh lebih tua. Ini menunjukan sikap hormat dan berbakti kita juga loh! So.. budaya ini juga jangan dibuang ya… engga salah kok!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Social

%d blogger menyukai ini: