Iman Seperti Apa?


Beberapa masa  dalam kehidupanku terasa begitu pahit. Terkadang mendengar nasehat dari seorang hamba Tuhanpun tidaklah menenangkan hati ini. Sempat terbesit keraguan di dalam hati apakah Tuhan masih mau menolong saya dalam menghadapi begitu banyak masalah? Saya sempat menghadapi sepenggal masa dimana saya tidak mampu untuk berdoa dan meminta pertolongan dari Tuhan. Sepenggal masa bahkan saya meragukan apakah Tuhan itu baik dan peduli?

Kehidupan memang tidaklah selalu berjalan seperti yang kita inginkan. Ada saatnya kita kita harus tunduk pada keputusan Tuhan yang memgijinkan masalah, malapetaka ataupun bencana yang melanda. Dalam masa-masa seperti itu, iman seperti apakah yang harus kita miliki? Para theolog mengutarakan pendapatnya yang berbeda-beda. Ada yang mengatakan bahwa hidup ini tidaklah selalu berakhir dengan happy end, sebab hanya film holliwoodlah yang memiliki kisah yang selalau happy end. ya.. ada benarnya. Terbalikannya, umumnya film-film Asia yang sering memiliki kisah yang sad ending. Mereka bisa memiliki pendapat ini, menemukan bahwa pada kenyataannya ada banyak orang kudus yang bahkan mati dengan martir. Mereka tidak memiliki kisah akhir yang indah.  Mereka akan meminta kita untuk bersiap-siap menerima yang buruk dari Tuhan. Pendapat saya secara pribadi, hal itu membuat saya menajdi putus asa dan tidak berpengharapan.

Sebagian lagi orang berpendapat, bahwa di dalam Tuhan selalu ada happy end. jika belum happy, artinya itu bukanlah “the end”. Mereka berpendapat demikian karena melihat kisah Yusuf, Ayub, Daud, dll yang memiliki akhir yang indah walaupun harus mengalami sebuah masa yang kelam dalam kehidupannya.  Nah, pendapat yang manakah yang kamu pegang?

Setelah bergulat sekian lama, bagi saya secara pribadi pada akhirnya memilih pendapat yang kedua. Mengapa? karena disanalah kita menemukan sebuah titik terang akan pengaharapan di tengah kegelapan yang kita hadapi. Saya mempercayai bahwa Tuhan tetaplah Tuhan yang baik. Sekalipun Dia mengijinkan masalah berat yang harus kita hadapi, namun pasti ada tujuan baik yang sering kali sulit untuk kita pahami.

Sering kali orang mengutip doa Yesus di taman Getsemani pada saat menghadapi banyak persoalan dalam kehidupannya. ” Ya Bapa  jikalau boleh biarlah cawan pahit ini berlalu daripadaku, namun bukan kehendakKu yang jadi melainkan kehendak-Mu” Benar, doa ini adalah sebuah doa akan ketaatan yang mutlak. Namun ini bukanlah doa akan sebuah kekalahan. Namun sebaliknya ini adalah sebuah doa kemenangan. Kemenangan atas apa? Kemenangan atas penundukan diri pada kehendak Tuhan yang mutlak. Kemenangan tetap percaya  pada pribadi Tuhan yang tetap baik meskipun mengijinkan kita untuk meminum cawan pahit.

Bagaimanakah kita harus memandang akan salib? Bagi orang dunia salib adalah sebuah kebodohan, kehinaan, sesuatu yang harus kita hindari. Tetapi bagi Kristus, tidaklah demikian. Berulang kali Yesus justru mengkaitkan salib dengan kemuliaan.

Yoh 13:31 Sesudah Yudas pergi, berkatalah Yesus: “Sekarang Anak Manusia dipermuliakan dan Allah dipermuliakan di dalam Dia.

Kemuliaan di dalam penderitaan itulah yang sering kali tidak dapat diterima dan tidak dapat dimengerti oleh manusia, termasuk saya sendiri. Tidak ada manusia yang menyukai penderitaan dan masalah. Tidak ada manusia yang menginginkan masalah hadir dalam kehidupannya. Namun pada kenyataannya masalah tidak dapat terelakan. Sering kali kita tidak dapat mengerti mengapakah Tuhan yang Maha Baik menginjinkan adanya sebuah penderitaan dan masalah. Sama halnya kita tidak dapat mengerti bagaimanakah seorang Bapa yang kekal itu dapat mengijinkan Anak-Nya yang tunggal untuk mengalami maut dalam dunia yang berdosa?

Tampa salib tidak akan pernah ada kebangkitan. Jika Yesus tidak pernah mati maka Yesus tidak pernah dibangkitkan. Jika Yesus tidak pernah dibangkitkan, maka tidak akan pernah ada kebangkitan orang mati untuk menerima hidup yang kekal. Salib adalah jalan menuju kemenangan multak dalam kebangkitan. Salib adalah jalan menuju pintu keselamatan bagi manusia. Inilah alasan mengapa Bapa mengijinkan Anak-Nya mengalami penderitaan Salib. Salib bukanlah sebuah akhir. Sebaliknya, salib adalah sebuah pintu menuju kemenangan.

Begitu pula dengan kisah para kaum martir. Kematian bukanlah akhir dari sebuah kisah kehidupan mereka. Saya mengenal seorang martir dari gereja kami, yaitu Bpk Cornelius. Beliau adalah seorang majelis di gereja kami yang pada satu titik mengerti akan apa itu keselamatan di dalam Kristus dan pada akhirnya ikut menginjili jemaat dengan metode Evangelism Explosion. Suatu hari ada kebutuhan penginjilan di dataran Tiongkok. Seorang pelatih EE mengajak Pak Cornelius untuk ikut pergi ke sana selama beberapa hari sebagai trainer EE. Awalnya Pak Cor menolak karena dia merasa belum pantas untuk menjadi trainer. Namun karena bujuk punya bujuk pada akhirnya Pak Cor pergi juga dengan rombongan ke dataran negeri Tiongkok itu.

Tidak ada yang pernah menyangka bahwa itu adalah akhir dari kisah hidup Pak Cor. Kami semua terkejut mendengar berita akan kematiannya di negeri Cina itu. Saat itu Pak Cor hanya ijin untuk pergi ke toilet. Rombongan pun menunggu beliau di bus. Setelah menunggu lama, mereka mulai kebingungan karena Pak Cor belum juga kembali ke bus. Akhirnya mereka mendobrak pintu toilet dan menukan pak Cor yang sudah tak bernafas lagi. Tidak ada yang mengetahui dengan jelas apa sebab kematian Pak Cor. Dan bagi kami semakin tidak mengerti lagi, mengapakah Tuhan mengijinkan semua ini terjadi? Ketika saya mengujungi rumah keluarganya, mereka sama sekali tidak menyangka bahwa semua ini akan terjadi. Pak Cor memiliki catatan kesehatan yang sangat baik. Bahkan beberapa bulan sebelumnya telah menjalani medical check up dan hasilnya sangat bagus. Pak Cor harus meninggalkan 3 orang anak dan 1 orang istri. Tidak ada yang mengerti apa yang sedang terjadi dan mengapa semua ini terjadi.  Hanya ada sebuah tanda tanya besar dalam benak setiap kami.

Sekalipun sebuah kematian, tetaplah bukan akhir dari sebuah cerita. Sebuah pertanyaan pasti ada jawabannya. Suatu saat Tuhan akan menunjukan jawabanannya.

Dua tahun kemudian, pelatih EE yang mendorong Pak Cor ke Cina mendapatkan kabar bahwa ada rombongan dari Cina datang ke kota Malang, pusat EE. Pelatih ini mendengarkan kesaksian dari mereka dan terkejut karena itulah jawaban atas sebuah tanda tanya besar dan rasa bersalah yang ada di benaknya selama 2 tahun terkahir ini. Mereka bercerita bahwa desa mereka telah menjadi desa pengutus pemberitaan Injil karena mereka telah berhutang Injil kepad dua orang. yang pertama kepada Yesus, yang kedua kepada seorang guru yang mati di desa mereka karena memberitakan Injil. Guru itu adalah Pak Cornelius. Ternyata beberapa hari sebelum kematian Pak Cor, dia berhasil melatih sekelompok orang di desa itu dan malam sebelum kepergiannya ada 50 orang desa itu yang bertobat. Kematian Pak Cornelius  membakar hati mereka yang baru saja percaya. Sebegitu berharganya sebuah Injil sampai seorang asing mau datang ke desa mereka untuk memberitakan Injil dan sampai mati di desa mereka. Itu sebabnya mereka terus bertekun dan kembali menjadi motor pemberita Injil. Kini gerakan mereka telah meluas ke 3 desa sekitarnya.

Ketika sang pelatih EE itu mendengar semua itu, hatinya sangat terharu. Dia menemukan semua jawaban atas pertanyaannya kepada Tuhan selama ini. Pak Cor tidak mati sia-sia. Dia adalah seorang martir yang membuka jalan akan berita keselamatan di desa-desa Tiongkok.

Saya memang tidak mengalami hal yang seburuk Pak Cor apalagi Yesus. Tetapi dalam semua pergumulan dan perenungan saya, saya mulai mengerti dan mengimani bahwa Tuhan itu tetap baik sekalipun dia mengijinkan masalah datang dalam kehidupan kita. Masalah, kegagalan, penderitaan bahkan kematian sekalipun bukanlahan akhir dari segalanya. Seringkali semuanya itu justru adalah pintu menuju sebuah kemenangan ataupun kisah indah yang Tuhan rancangkan.

Tujuan kita hidup di dalam dunia ini memang bukanlah untuk hidup nyaman dan aman tampa masalah. Ada banyak tujuan kekal dan mulia yang Tuhan inginkan terjadi dan kita capai dalam kehidupan kita. Ketika masalah datang, jangan menyerah, jangan berhenti berharap pada Tuhan. Apapun yang terjadi Tuhan menyertai kita, sekalipun itu kita harus berjalan dalam lembah kekelaman.

Kita tidak dapat mencapai tujuan mulia Allah itu dengan kekuatan kita sendiri. Dalam semua keterbatasan dan kelamahan kita sering kali justru kita meragukan Tuhan. Disinilah dibutuhkan iman. Sebuah iman yang tetap melihat bahwa Allah tetap berdaulat dan akan menjadikan semuanya indah pada waktu-Nya. Sebuah iman yang tetap percaya bahwa apaun yang terjadi, Tuhan itu tetap baik.

Every story has happy ending in God Grace. If it is not happy, then it is not the end. Just wait…. then you will see…🙂

1 Komentar (+add yours?)

  1. tomas wiadji
    Feb 18, 2014 @ 08:37:25

    percaya ALLAH maha kuasa dan maha baik artinya juga harus percaya ALLAH maha berdaulat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Social

%d blogger menyukai ini: